Jumat, 28 Februari 2014

Sajuri dan Tokoh Sastra Berpengaruh

Oleh Set Wahedi

Pada kunjungan ke Jogja yang kali ketiga (tahun 2008), saya disuguhi anekdot  Sajuri oleh seorang teman. Sajuri adalah sosok yang berani, berpikiran polos, dan banyak manuvernya. Waktu kuliah dulu, judulnya skripsinya unik dan tak terpikirkan: salip-menyalip angkot dalam perspektif Islam. Judul ini ditolak, kemudian Sajuri mengusulkan judul lain: peran Unta dalam perkembangan Islam. Cerita ini dianggap lucu, karena Sajuri mengajukan tanpa mengikuti atmosfer kelimuan yang ada. Sajuri ditertawakan karena kepolosannya.

Dalam cerita teman yang lain, Sajuri pernah adzan dua lafadz. Setelah lafadz “Allahu Akbar”, loudspeaker-nya dimatikan. Untuk beberapa menit Sajuri diam duduk santai di dekat mimbar. Kemudian, louspeaker dihidupkan lagi, Sajuri mengumandangkan lafadz “Lailahaillallah Muhammadar Rasulullah”.  Mendengar kumandang adzan hanya dua lafadz “Allahu Akbar” dan “Lailahaillallah Muhammadar Rasulullah”, ketua takmir menegurnya. Dengan enteng Sajuri menjawab, setelah “Allahu Akbar”, listrik mati dan hidup ketika dia sudah mengumandangkan lafadz “Lailahaillallah Muhammadar Rasulullah”.

Nilai lucu cerita sajuri adzan dua lafadz terletak pada keberanian manuver Sajuri dengan listrik. Sajuri seolah peka dan lihai bagaimana memanfaat listrik atau alat modern lainnya demi kepentingannya. Dari saking lihainya, Sajuri dapat menghadirkan jawaban yang pas untuk meredam kejengkelan ketua takmirnya.

Setelah Sajuri lulus dan melanglang buana ke Jakarta –kini jadi caleg di dapil Madura-, Sajurilovers tetap mengetengahkan anekdot-anekdot Sajuri di warung-warung kopi. Mereka menyuguhkan cerita-cerita Sajuri bukan sekadar karena rindu, tetapi cerita-cerita Sajuri mengandung ‘sesuatu’ yang dapat direnungkan berulang-ulang, terutama ketika kita dilanda galau. Sajuri seolah Abu Nawas di tengah adab digital ini.

Anekdot Sajuri –dan mungkin tokoh konyol lainnya- mungkin adalah hiburan yang pas untuk kita dengarkan, kemudian merenungkannya sambil tertawa terpingkal-pingkal hari ini. Kenapa?

Kira-kira begini. Memasuki tahun 2014, jagad sastra Indonesia seperti panggung politik. Para sastrawan yang diidamkan sebagai ‘empu’ citarasa seni tinggi, tiba-tiba lengser ke prabon. Mereka, layaknya para politikus, tebar citra atau mempertontonkan aib mereka dengan elegannya.

Kita –khalayak atau penikmat sastra- dipaksa untuk tidak lagi berharap pada sastra sebagai tempat ungsi atas rasa sakit dari peristiwa. Kita mesti menghadapi kenaikan harga LPG tanpa sepotong sajak atau cerita di hari minggu yang menghadirkan katarsis. Kita mesti meratapi korban banjir atau perkosaan tanpa teman biografi yang mengasyikkan. Kita pun, siap-siap untuk melihat dunia sastra sebagai antah-berantah bubrah entah mau ke mana. Kenapa?

Buku “33 Tokoh Sastra Berpengaruh” yang kira-kira memaksa kita untuk tidak terlalu berharap pada “sastra” Indonesia. Sebenarnya, kita tak perlu menyangsikan lagi bahwa mereka yang termuat dalam buku tersebut adalah orang-orang berpengaruh. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, Goenawan Muhammad, dan Denny JA –untuk menyebut segelintir nama yang termuat- adalah sosok-sosok dengan kapasitas dan kredibilitas yang tak diragukan.

Amir Hamzah sebagai raja Pujangga Baru, Chairil Anwar Pelopor Angkata ’45, Pramoedya Ananta Toer Bapak realisme sosialis Indonesia, Sutardji Presiden Penyair Indonesia, Goenawan Muhammad tetua Utan Kayu (komunitas Salihara), dan Denny JA bos Lingkaran Survei Indonesia (LSI).

Khusus Denny JA, saya kira perlu mengutak-atiknya. Pertama, Denny JA selama ini dikenal sebagai salah satu aktor penting dalam hiruk-pikuk demokrasi Indonesia. Kedua, Denny memulai debut sastranya sekitar awal tahun 2012 (mengacu pada buku kumpulan puisi esai “Atas Nama Cinta”). Ketiga, seorang calon sarjana sastra kebingungan ketika hendak meneliti gagasan-gagasan ‘utuh’ Denny JA dalam dunia sastra.

Nah, alasan yang terakhir ini bagi saya cukup menarik. Alasannya sederhana, Denny JA yang dikenal sebagai aktor politik, tiba-tiba “nongol” di jagad sastra. Artinya, dunia sastra Indonesia, yang selama ini diniatkan seni untuk seni, telah bergeser. (Orang) politik memang bukan lagi panglima, tetapi ia ternyata penentu kebijakan seni.

Eit, tunggu dulu. Tuduhan (orang) politik sebagai penentu kebijakan seni dan tuduhan lainnya yang beredar, saya kira sedikit sarkasme. Bahkan cenderung tidak menghargai orang-orang yang merampungkan dan mengumpulkan serakan artikel seharga lima juta (per-artikel) itu. Dengan kata lain, kita mesti menemukan formula yang tepat untuk menerima kenyataan bahwa di antara tokoh-tokoh sastra yang berpengaruh, terdapat aktor politik yang berpengaruh dengan segelintir karya.

Kalau tidak ada formula yang pas, kelak kita bisa menceritakan Denny JA sebagai tokoh sastra berpengaruh dengan gaya anekdot para sajurilovers di Jogja itu. Konon... (SW)

Senin, 24 Februari 2014

Baca-Tulis dan Satu Pilihan Cinta Pahit

Oleh Set Wahedi

Ketika saya memilih menulis sebagai karier, keputusan itu sudah final. Tidak terpikirkan untuk mencoba sesuatu yang lain atau menyerah jika muncul sesuatu yang lebih menarik. Itu pilihan hidup (Naguib Mahfouz, 1911-2006)

Pie, saat kau Tanya mengapa aku begitu bersikeras untuk bertahan membaca dan menulis? Aku hanya bisa katakan semua itu mungkin garis tangan yang diberikan Tuhan padaku. Mulanya, aku menyukai buku, sumber daya imaji membaca-menulis, karena terpaksa. Mungkin semacam kebetulan. Terpaksa, karena (seolah) tak ada pilihan lagi untuk mengelak atau menghindar dari yang namanya membaca dan menulis.

Oh ya, saya menyukai buku-betul-betul menyukai- sejak di bangku kelas 3 MTs. Oh, ya masa sekolah menengahku, dihabiskan dalam lingkungan pondok pesantre. Di penjara suci inilah -begitu kami menyebutnya- saya mulai dipaksa untuk membaca, menghafal dan menulis khazanah ilmu bahasa Arab: nahwu, sharraf dan aneka menu kitab kuning lainnya. Tapi lama-lama, dunia yang penuh bunyi-bunyian hijaiyah ini, menyeret saya pada kesuntukan (:kelak saya pun curiga, bahwa dunia pondok inilah yang banyak membentuk karakter saya menyukai buku). Akhirnya, tak pelak lagi saya memilih dunia lain; dunia yang bisa menghibur dan menghilangkan kepenatan: buku-buku cerita berbahasa Indonesia!

Oh, ya buku yang benar-benar saya baca dan sukai, -meski jauh sebelum itu saya sudah membaca majalah sastra Horizon, sajak Chairil Anwar, dan karya sastra lainnya- buku Gadis Pantai dan Cerita dari Blora karya Pramoedya Ananta Toer. Kedua buku ini juga merupakan buku yang pertama kali saya beli sebagai koleksi pribadi. Dari kedua buku ini, saya menemukan keunikan dan keenakan cara tutur yang halus tapi menohok. Membacanya saya seperti menemukan ruang-ruang percakapan masa lampau saya: dongengan nenek, Pie!

Oh, ya saya belajar menulis mungkin karena kebetulan. Kebetulan saya waktu itu, di pondok pesantren menjaga koperasi, dan kebetulan teman-teman yang suka jurnalistik hendak mendirikan majalah dinding, kebetulan pula saya diajak untuk jadi reporter, sebab kebetulan pula mereka membutuhkan orang yang punya akses keluar-masuk dengan “bebas”, dan kebetulan saya berada di posisi kebetulan itu. Satu tahun saya dipaksa dan dibetulkan jadi reporter, kemudian penanggung jawab laporan utama, kemudian staff redaksi, sekretaris redaksi hingga pimred redaksi.

Oh, ya pie, nama majalah dinding yang membesarkan saya: Al-Anwar! Dan sejak bergabung dengan majalah dinding ini, diam-diam saya mulai menyukai membaca-menulis! Dan saya pun mulai bersepakat dengan kenyataan: bahwa membaca-menulis yang saya alami dan jalani bukan kebetulan dan keterpaksaan, tapi ia semacam garis tangan yang diberikan pada saya.

***

Untuk memelihara kebebasan intelektual, orang hanya bisa berbicara dengan dirinya sendiri dan itu harus dengan kerahasiaan paling dalam… Soul Mountain ditulis untuk diri saya sendiri dan tanpa harapan akan diterbitkan (Gao Xingjian, pidato nobel: persoalan bagi sastra, Desember 2000)

Pie, setelah saya mulai bisa membaca-menulis, lalu datanglah obsesi-obsesi itu. Impian-impian itu. Dengan membaca-menulis, saya ingin menggubah keindahan. Menganggit kata-kata yang liris, dan keinginan yang menggelora dan lucu: nama saya ingin dibaca dan dibicarakan oleh teman-teman saya waktu itu, Pie.

Pie, membaca-menulis di masa permulaan-perkenalan saya, saya hanya dipenuhi obsesi dan khayalan untuk dikenal orang. Saya dipenuhi keinginan untuk keluar dari kesuntukan. Saya dipenuhi oleh bayangan-bayangan, bahwa dengan membaca-menulis saya dikatakan orang hebat di pondok. He…

Mula-mula saya menulis puisi. Mula-mula saya mulai mengkhayal, membayangkan kejadian-demi-kejadian dalam untaian kata-kata, yang menurut saya indah. Menurut saya menggugah. Tapi ternyata Pie, membaca-menulis bukan hanya sekadar bayangan dan obsesi. Pengasuh pondokku, mengolok-olok mereka yang menulis puisi sebagai kaum pemalas (:kelak saya pun mafhum, bahwa ejekan pengasuh pondok ini ternyata hanya sebagai tantangan dan semacam pertanyaan pertanggungjawaban pada para muridnya yang membaca-menulis karya sastra untuk membuktikan bahwa yang ditulisnya benar-benar kegelisahan manusia dan kemanusiaannya). Tapi kadang saya merasa kurang beruntung dalam menulis puisi, Pie. Meski beberapa karya saya sempat dipublikasikan, tapi itu jauh dari apa yang saya bayangkan. Ratusan puisi yang coba saya tulis, ternyata hanya segelintir yang mendapat tempat.

Setelah itu, saya mulai belajar menulis prosa. Tempat melanjutkan kebiasaan untuk berbicara dan menggambarkan persoalan panjang lebar. Saya terkadang tertawa: menulis prosa bak mengikuti dan membuat krusak-krusuk dalam bahtsul masail. He…

Menulis prosa, benar-benar saya geluti dan pelajari sejak semester lima di di bangku kuliah Fakultas Bahasa danSastra Unesa, Pie. Dalam menulis prosa, saya sedikit beruntung. Beberapa karya prosa saya mulai dipublikasikan di beberapa media. Dibanding puisi, prosa yang lebih menemukan kemujurannya, Pie. Oh, ya saya selalu menganggap menulis dan mengirimkan karya kita ke Koran dan dimuat atas beberapa hal.

Pertama, tulisan memang anak yang baik. Anak yang pantas untuk dipajang, dipamerkan lalu diperdebatkan. Kedua, tulisan kita selaras dengan selera redaktur. Ketiga, kita dan tulisan kita memang lagi beruntung. Dan saya selalu mengalami yang ketiga Pie. Kelak, jika kau menulis, menulislah dengan hati dan penuh dedikasi, agar karya-karyamu menemukan ‘arti’; kau jangan menulis karena ingin dimuat di Koran ya? Biar karyamu tidak rusak dan runyam.
Oh, ya Pie saya hampir lupa: membaca-menulis bukan hanya sekadar obsesi dan keinginan. Tapi ia juga jalan panjang. Jalan panjang yang kadang dipanggil sepi, sunyi dan kesendirian. Para penulis itu Pie, -penulis yang saya baca karyanya- menjadikan membaca-menulis sebagai pergumulan hidup. Mereka tak sekadar mencari ide, inspirasi kemudian menuliskannya dalam karya. Tapi mereka juga dituntut untuk menemukan dan mempertahankan idenya sebagai realitas tertinggi dalam kehidupannya.

Sehingga, Pie, tak jarang perjalanan hidup para penulis dipenuhi cerita tragis, tragedi, ataupun sesekali romantis. Pramoedya Ananta Toer merupakan pengarang yang rela menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik jeruji penjara. Ia tak membakar foto presiden, mencemooh, apalagi meledek. Ia ditahan hanya karena tulisannya tak berkompromi dengan yang namanya kekuasaan. Banyak karya Pramoedya yang hilang dan dibumihanguskan oleh tangan-tangan kekuasaan negeri ini. Maaf, Pie jika terlalu sentimental membicarakan Pramoedya.

Tapi saya belum menemukan itu Pie. Saya masih bergulat dengan obsesi untuk dimuat, dibaca, dan dibicarakan orang. Padahal karya sastra, mengacu pada karya-karya besar yang ditulis oleh mereka yang menyerahkan hidupnya untuk menulis, selalu berbicara nasib manusia dan kemanusiaan; pembicaraan nasib yang melintasi ruang-waktu penulis itu berada.
Pie, sampai di detik ini, saya sadar: saya masih mencari dan meraba-raba diri saya: benarkah saya bercita-cita ingin membaca-menulis? Benarkah saya akan memperjuang ide yang saya temukan? Benarkah saya akan memiliki niat, itikad dan keinginan untuk membaca dan menyuarakan nasib manusia dan kemanusiaannya, yang terkadang banyak mengalami kisah tragis karena kebuasan manusia itu sendiri. Saya kadang masih ragu Pie. Ternyata membaca-menulis ini jalan panjang. Jalan di mana kesepian, kesendirian, dan kesunyian bertampik begitu rupa.

Dan diam-diam saya menyukainya, Pie.

***

Saya tidak kuat hidup dengan penyair (Pie, 18:25:21, 04/12/2011)

Anekdot yang selalu saya ingat, ketika seorang penulis melamar calon istrinya. Syahdan, penulis itu datang ke rumah kekasihnya. Jelang beberapa menit, mertua keluar menemuinya. Mereka berbicara panjang. Mendiskusikan persoalan-persoalan hidup yang rumit. Kemudian setelah memastikan calon menantunya baik, si mertua bertanya pekerjaan menantunya. Si menantu, si penulis ini, dengan gagah dan mantap menjawab: saya seorang penulis. Pekerjaan saya menulis. Mendengar jawaban calon menantunya, si mertua diam beberapa saat. Matanya memandang lurus ke depan. Dan dengan acuh berkata: oh, hidup bersama itu butuh pemikiran yang masak dan matang.

Pie, anekdot itu selalu membayangi dan menghibur saya. Tapi saya katakan, anekdot itu sebenarnya sisi lain para penulis: kebiasaan buruk yang mesti dienyahkan. Dengan kata lain, Pie, penulis itu tak selamanya mesti membanggakan dirinya hidup dalam dunia yang hanya asyik-masyuk dengan dunia kesepiannya dalam kamar. Tapi ia mesti menemukan kesepiannya di tengah keramaian dan hiruk pikuk manusia dan kemanusiaannya.

Penulis itu, Pie, mengingat Octavio Paz, Salman Rushdie, Elliot, Muhammad Iqbal, dan lainnya, adalah orang-orang yang diperhitungkan oleh masyarakatnya. Bukan karena sekadar menulis Pie. Mereka terjun dan hidup seperti orang pada umumnya. Meski di ruang batinnya, mereka memiliki kamar rahasia untuk melahirkan karya sastra yang agung.

Dengan kalimat yang agak panjang –dan mungkin ini bualan bagimu- pilihan hidup untuk jadi penulis itu memang akan mendatangkan satu cinta yang pahit. Cinta yang tak bisa diterima semua orang. Terutama keluarga kita. Tapi Pie, melalui surat panjang ini, saya ingin mengatakan: bahwa pilihan untuk membaca-menulis bagi saya bukanlah hal yang bodoh. Bukanlah hal yang tak mampu menghasilkan apa-apa. Bukanlah hal yang tak bisa berbicara dengan dunia. Saya tak akan berjanji, atau pun berkata-kata muluk-muluk, tapi saya tetap ingin meyakinkan, pertama-tama diri saya sendiri, bahwa membaca-menulis mesti dengan satu tekad: merayakan hidup dengan segala fantasi, obsesi, dan keberhasilannya, seperti yang diiinginkan oleh mereka lewat jalan panjang yang bernama proses kreatif.

Pie, dengan membaca-menulisku, aku ingin menuliskan satu kalimat panjang tentang kita: aku ingin menulis nasib kita, sebab tulisan itu doa, dalam doa itu aku akan membubuhkan kebahagiaan, ketentraman, dan beberapa keinginan: jadi ‘orang besar’ nanti, bisa berpidato di podium di depan banyak orang, mengajakmu berkeliling dunia, mendidik anak-anak kita sebagai generasi yang gemilang, dan dengan bangga kita akan berkata pada mereka: karena membaca-menulislah kami berhasil merenggut dunia. Berhasil menguasai dunia! (*)

Liar, Nakal dan Penuh Cinta

Oleh Set Wahedi

Dalam sejarah sastra Indonesia, pengarang yang menulis berbagai genre bisa dihitung dengan jari. Bahkan, kalau pun ada, itu hanya sekadar metamorfosa pencarian, atau pelarian di tengah kebosanan proses. Dengan kata lain, seorang pengarang selalu identik dengan satu genre. Misal Sutardji Calzoum Bahri, sefantastis apa pun dia menulis karya selain puisi, semisal cerpen, tetap dikatakan penyair yang menulis cerpen. Atau Sapardi Djoko Damono ketika menghadirkan kumpulan cerpen “Orang Gila”, tidak serta merta mendapatkan label cerpenis. Dia tetap diidentikkan dengan penyair yang melakukan petualangan estetika di negeri lain. Lalu apa yang menyebabkan label cerpenis atau penyair tak bisa disandang sekaligus? 

Dalam realitasnya, ambillah Sapardi Djoko Damono, dalam membangun struktur karya prosanya (:cerpen) tak jauh beda dangan puisinya. Kekuatan cerita, yang semestinya menampilkan karakter tokoh, penokohan, plot, yang kuat untuk membedakannya dengan puisi, ternyata hanya menjadi unsur pendukung. Dengan kalimat lain, kekuatan cerita yang ditulis oleh para penyair, terletak pada nuansa, suasana, dan tema yang diusung.

Membaca 12 cerpen dalam “Aku jatuh cinta lagi pada istriku” karya Mardi Luhung, kurang lebih sama. Cerpen-cerpen yang ditulis dalam rentang 1994-2009 ini, terbangun atas dasar kesadaran seorang penyair. Bukan cerpenis. Dengan demikian, dapat didedahkan cerpen-cerpen dalam buku ini, cerita yang memiliki kekuatan pada realitas suasana, liris diksi dan gerak imaji tanpa konstruk alur. 

Sehingga, lahirlah cerita dengan tokoh-tokoh yang meracau, berpidato atau sesekali terpelanting oleh deraman bawah sadarnya. Atau dialog-dialog yang membanal pada ambang batas kesadaran estetika puitis. Atau suasana yang jungkir balik. Seperti yang ditunjukkannya pada narasi pembuka cerpen “Sore ini, Sepedaku Menabrak Dinding”, Sore ini sepedaku menabrak dinding. Tapi tak terguling. Terus menembus dan menggelinding. Menuju ke kedalaman laut. Di kedalaman itu sepedaku terus aku kayuh. Melewati moral, terumbu dan karang… (hal, 59). 

Dunia yang dibangun Mardi, dunia meta-realitas. Kita disuguhi oleh panorama yang linear, berjalan lancar, tapi sungguh diluar logika. Meta-realitas ini semakin menemukan keunikannya ketika dipadukan dengan daya kritis. Aku, istriku dan kedua mertuaku serta orang-orang sekampung blingsatan. Dan yang lebih aneh, seperti punya mata, ke mana pun kami lari, tembok pabrik itu selalu mengejarnya. Jadinya, setiap hari dan setiap waktu kami selalu dikejari tembok pabrik itu. Sedang di atas sana, berdikit –dikit matahari menjauhi bumi sebab terus di sodok oleh ketinggian tembok pabrik.(hal. 15) 

Di sinilah, kekuatan meta-realitas dan daya kritis mampu menghadirkan ruang-bangun cerita yang liar: memukau, sekaligus penuh magis. Jalinan suasana yang dibangun benar-benar menciptakan dunia keberadaan yang menawarkan ruang tafsir atas realitas di sekitarnya. Lebih jauh, persoalan meta-realitas Mardi tak hanya sekadar menghadirkan dunia baru. Dunia yang penuh keliaran penghuninya. 

Di luar itu, Mardi juga melakukan dialog akan rentang waktu dan cinta. Ya, cinta, yang dalam perspketif kekinian dipahami sebagai dialog kau dan aku, ternyata juga mesti dipagami sebagai pergumulan dengan waktu. Mengenai cinta ini, Mardi menghadirkan beberapa pendangan cita-rasa yang menggugah dan penuh gairah. Pertama, cinta dan perjalanan waktu. Kebosanan, merupakan sesuatu yang tak terelakkan. Dia merupakan ancaman yang pasti dan menyakitkan. Bahkan tidak jarang, kebosanan membuat segalanya berubah. Sehingga perlu kiranya diupayakan eksplorasi dan permainan dunia imaji yang liar, untuk menghadirkan rasa cinta kembali pada istri, yang selama 20 tahun dinikmati tanpa sadar dan makna. 

Kedua, cinta dan dinamika hidup. Beranjaknya usia dan pergeseran ragam budaya hidup, dengan serta merta menggeser cita rasa cinta. Istri yang sejak semula menyatakn setia, harus berkelit dan banyak menuntut di tengah gemerlapnya hidup. Dengan kata lain, cinta sudah seyogyanya diimbangi oleh kesadaran untuk mengutuhkan dan menyelaraskannya dengan tuntutan zaman. Ketiga, cinta dan ego manusia yang membudak. Tak bisa dihindari, rasa yang mendalam serta keterjebakan naluri-jiwa, menyebabkan seseorang terjerembab pada kubangan ketakberdayaan. Demi seorang istri, kita pun mesti memainkan peran yang tak lazim: tukang cuci. Tapi apa boleh buat, kita mesti memerankannya, sambil sesekali menguak misteri lain dari dunia ketakberdayaan ini. 

Kekuatan lain Mardi dalam menghadirkan dunia yang liar, cerita yang penuh cinta, adalah eksotisme tokoh-tokohnya dalam membawakan peran yang nakal. Bahkan, tidak jarang tokoh-tokoh itu mengerang, menerjang, dan sesekali berkecipak ria dengan dialog-dialog ringan nan menggelitik. “Begini, ibuku kan bukan priyayi. Dan sukanya pun keluyuran. Aduh, bagaimana jadinya, jika waktu keluyuran itu kakinya menginjak tai. Apa sorga tidak bau?’ (hal. 112). Keliaran narasi, kesadaran akan rasa (:cinta), dan kenakalan yang kritis a la Mardi, tentunya merupakan warna baru dalam eksplorasi estetika. Dia tak hanya menjelma sebagai dunia yang mambang dengan dunia meta-realitasnya. Tapi sekaligus dunia yang berpusar di relung ruang kesadaran yang berlumut. 

Dengan simpulan yang belum usai, cerpen-cerpen “Aku jatuh Cinta lagi Pada istriku”, memberikan satu sugesti yang mengoyak emosi, memecah kebekuan imaji serta memainkan paradigma yang jumud. Sehingga, sudah sepantasnya, buku “Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku” menempati ruang apresiasi yang layak. Sebuah ruang untuk berdialog, berbagi dan sesekali bertegur sapa dalam kesadaran akan realitas yang nakal dan penuh cinta. Buku ini, sungguh menyajikan sesuatu yang segar. Yang liar. Yang mesti kita baca untuk mengungsikan setiap kengerian dan ketragisan hidup di tengah deru kemajuan dan pembangunan ini. 

(dimuat di Jawa Pos, Minggu 6 Maret 2011)

Sabtu, 22 Februari 2014

Kelebat Ganjil Manusia

Oleh Set Wahedi

Dari ruang klise itulah saya berjuang untuk menjadikan peristiwa itu menjadi cerita yang segar dan menarik. Cerita itu akan segar dan menarik manakala kita mampu menampilkan sisi lain yang tak terpikirkan orang lain (hlm. iv)

Kredo atau semacam pengakuan seorang pengarang tentang proses kreatifnya, bukan sekadar pernyataan semata. Tapi merupakan pintu masuk untuk menyelami dan memahami karya-karyanya. Kredo tersebut akan menjadi penghantar bagi pembaca untuk melihat rambu-rambu dari dan ke arah mana karya itu menemukan dunianya. Dengan demikian, dunia dalam karya tersebut tidak lagi hampa. Ia telah menemukan penghuninya. Bersama penghuni inilah, (dunia) karya sastra menghadirkan ruang dialog.
 
Begitu juga kredo yang dicuplik dari kata pengantar “Machiko dalam Kabut” di atas (Mencoba menghargai Pengendapan). Dengan penyataan tersebut, kurang lebih, pengarang (:Wawan Setiawan) hendak menguraikan bagaimana cara menerima dan memperlakukan peristiwa yang silih-ganti menyerbunya. Serakan peristiwa yang ditemukan pengarang tidak serta-merta menjadi bahan ceritanya, tetapi masih membutuhkan pengendapan dan pembacaan lebih lanjut.

Dari pengendapan dan pembacaan itulah, pengarang mencoba menakar kembali potongan-potongan peristiwa yang akan disajikannya. Tujuannya untuk melihat seberapa jauh arti kehadiran cerita itu di tengah masyarakatnya. Demi melihat arti cerita inilah pengarang tidak jarang melakukan berbagai manuver. Salah satu manuver yang dapat dilakukan adalah memandang peristiwa itu dari sisi-yang-lain. Dengan sisi-yang-lain inilah pengarang pun dapat menampilkan ceritanya sedemikian menarik dan segar.

12 cerita pendek dalam “Machiko dalam Kabut” merupakan cerita-cerita dengan kekuatan sisi-yang-lain. Berbagai persoalan, yang mulanya biasa dan tak terasa, tiba-tiba menjadi kilasan peristiwa yang membutuhkan jeda nafas untuk memahaminya. Persoalan goyang ngebor Inul, beberapa waktu lalu sempat menarik perhatian semua lapisan masyarakat. Tukang becak hingga tukang janji merasa perlu membicarakannya. Penyanyi kelas teri hingga raja dangdut merasa perlu turut mendiskusikannya. Hasilnya, Inul menjadi medan-tempur penafsiran eksotisme bokong.

Lebih lanjut, tafsir bokong itu menyeret semua orang pada klaim kebenaran atas nama agama dan “seni.” Orang-orang agama mengutuknya karena disinyalir melanggar ayat Tuhan, dan orang-orang “seni” mendukungnya demi kebebasan berekspresi. Di luar perdebatan itu, goyang ngebor Inul ternyata menjadi pemicu pertikaian Ina dan suaminya. Suami Ina yang dikenal suka dangdut, kesemsem dengan goyang Inul. Jadinya, ia pun mulai “bertingkah.” Inem, pelayan seksinya tak urung menjadi wanita idaman lainnya.

Dalam hal ini, sisi-yang-lain mengkonretkan imajinasi tentang efek lekuk-bokong-goyang Inul. Goyangan Inul bukan sekadar menimbulkan riak dalam perdebatan, pun dalam kepala suami Ina menumbuhkan biji-biji liar hasrat. Membuatnya gemar bergulat dengan Inem, pembantunya yang seksi (hlm. 52)

Kesadaran yang lahir dari pengendapan dalam usaha menemukan sisi-yang-lain, dapat memberi kita ruang lain tentang manusia. Manusia yang kadang kehilangan ‘akal’, penuh pergulatan emosi, sibuk dengan kartu identitas hingga manusia dengan kesadaran yang menghentak. Sisi-yang-lain tentang manusia tak hanya menghadirkan cerita yang miris. Tetapi juga menggelikan.

Percakapan makam dan bumi, riuh hypermarket, nasib malang tikus yang mati ditabrak lari, menjadi i’tibar bagi kita dalam memahami manusia. Makam yang dipersepsikan angker, penuh dengan ruh-ruh halus tiba-tiba menjadi medan magnetik paling menarik di tengah berbagai ancaman. Pasangan muda-mudi seolah menemukan ‘kamar-gelap’ bercintanya di bawah pohon kamboja; pencopet tampak lega merebahkan diri di antara gundukan nisan. (hlm. 8-10) Deskripsi semacam ini menunjukkan tentang hilangnya rasionalitas manusia dalam memenuhi kebutuhan dan rasa amannya.

Tidak hanya itu, pemenuhan kebutuhan telah menjadi ‘wahyu’ sakral dalam diri manusia. Popularitas, keabadian, libido seks menggiring manusia pada ruang hypermarket yang bising. Manusia terjebak dalam rutinitas konsumsi dan atraksi harga diri. Manusia pun larut dan liar dalam hingar-bingar kota dengan segenap teori kemajuan dan merk santapannya. Akibatnya mereka (:manusia) larut dalam kelebat-kelebat khayal membangun negeri yang tak pernah ada (hlm. 28).
 
Kelebat popularitas dan keabadian dalam benak manusia, memaksa mereka ambil ancang-ancang untuk berhitung tentang hidup dengan pasti dan aman. Bahkan pada persoalan yang di luar dugaan, semisal mati ditabrak lari, mereka pun merasa perlu mengantisipasinya. Mati tabrak lari tanpa identitas bukan sekadar ancaman, tapi dapat menisbikan makna popularitas yang mereka bangun. Mati haruslah dengan identitas yang jelas. Tak heranlah manusia merasa perlu membawa kartu tanda pengenal ke mana-mana. Berjaga-jaga mereka menemukan ajalnya di tanah yang tak dikenal. Dengan kartu tanda pengenal itu, manusia berharap  dirinya tetap aman dan damai hingga liang kubur. Kalau perlu, malaikat pun tak perlu melemparkan pertanyaan demi pertanyaan. Malaikat cukup melihat kartu tanda pengenal dalam dompet di saku belakang celananya. 

Judul Buku                 : Machiko dalam Kabut
Penulis                        : Wawan Setiawan
Penerbit                     : Amper Media bekerjasama dengan dbuku
Tahun Terbit             : cetakan pertama 2013
Tebal Halaman          : vi +90
ISBN                            :978-602-989-977-1

Sumpah Pemuda, Sajak “Aku” dan Buku “Pergolakan Pemikiran Islam”

Oleh Syam Al-Wahed

"Beri aku sepuluh pemuda, akan aku pindah gunung"
(Soekarno,1901-1970 )

Kata-kata mendiang presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, tidak hanya berupa pepesan kosong atau igauan utopia semata. Tetapi kata-kata itu lebih berupa refleksi dengan penuh keyakinan akan peran-fungsi pemuda di tengah masyarakatnya. Karena bagaimana pun besarnya sebuah bangsa tanpa dibarengi kehadiran generasi muda yang handal, maka sesungguhnya ia hanya menunggu waktu kehancurannya. Mengapa?

Pertama, dalam sejarah pereadaban umat manusia pemuda selalu mejadi agen perubahan zamannya. Hal ini bisa dilihat dalam firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 60: "Mereka berkata:’kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama ibrahim. Kedua, sesuai dengan pendapat Bisono (dalam Erinawati, 2003:xii), bahwa mereka (pemuda) adalah para penumpang gerbong terdepan dari kereta api masa datang yang bertolak dari stasiun abad ke-20 menuju stasiun abad 21.

Sebagai penumpang terdepan tentunya, para pemuda akan merasakan, mengalami, dan melakukan berbagai atraksi perubahan terhadap masanya. Dengan kata lain, eksistensi suatu bangsa di masa mendatang bergantung pada sepakterjang generasi mudanya. Kalau generasi mudanya mampu menempa diri dengan berbagai kemampuan dan kompetensi yang mumpuni; intelektual, spritual dan nalar sosial; maka harapan hadirnya suatu tatanan negara yang baldatun toyyibatun wa rabbin ghafur tinggal menunggu waktu landas saja. Begitu pun sebaliknya.

Selain itu, secara psikis, generasi muda memiliki energi karakter yang cukup kuat. Karakter yang dimaksud dapat dipahami dari gerak energik generasi muda dalam pencarian eksistensi dirinya dalam berbagai interaksi. Lebih jauh, peranan generasi muda ini, tidak hanya mejadi trendsetter gaya hidup, tetapi ia juga mampu menjadi medium penetrasi bagi berbagai persoalan bangsa di tengah peradaban digital yang menawarkan berbagai persoalan paradoksal.

Menurut Pilliang (2007) ada enam persoalan paradoks yang dihadapi bangsa ini dalam percaturan peradaban digital ini. Pertama, paradoks pengetahuan, yaitu paradoks antara pengetahuan/ sampah pengetahuan, kebenaran/ kepalsuan, esensial/ banal, dan kemajuan/ degradasi. Kedua, ketelanjangan budaya (cultural transparency). Keadaan ini disebabkan oleh belum adanya aturan dan pembatasan dalam penggunaan dunia informasi. Ketiga, budaya ekses (culture of excess). Perkembangan peradaban digital lebih didominasi oleh aneka ekses yang ditimbulkannya, dengan lebih berkembangnya efek-efek negatif dari dunia digital dan virtual, berupa aneka kejahatan, baik yang nampak maupun dalam dunia maya.

Keempat, ketakpastian etis (ethical indelerminacy). Peradaban digital membangun dunia sebagai sebuah ’kesatuan dunia’ yang di dalamnya setiap tampilan dan representasi budaya menjadi ’milik’ setiap orang dari setiap tempat, setiap keyakinan, bahkan setiap umur. Kelima, kesenjangan digital (digital discrepancy). Perkembangan dunia virtual yang tidak didukung oleh pengelolaan dunia fisik yang memadai telah menciptakan kesenjangan antara dunia elektronik-digital yang bercirikan teknologi tinggi (high tech), dengan realitas sosial keseharian yang masih primitif atau berteknologi rendah.

Keenam, kegamangan seni (dizziness of arts). Seni yang dipahami sebagai suatu ungkapan yang mampu mengakomodir berbagai bentuk ekspresi dari realitas hidup ketika dihadapkan pada kenyataan dunia yang semakin dipenuhi berbagai paradoks, maka seni akan terperangkap pada kondisi kegamangan, yaitu ketakberanian secara pasti, utuh dan penuh dalam ekspresi.

Berbagai persoalan peradoksal tersebut, tentunya merupakan persoalan yang cukup komplek dan pelik, yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan budaya tandingan atau penolakan terhadapnya. Tetapi persoalan-persoalan tersebut membutuhkan kearifan generasi bangsa untuk menerima, menghayati, mencerap, menyikapi dan memfilter persoalan-persoalan tersebut dan selanjutnya ’melahirkannya’ sebagai produk globalisasi yang tepat guna bagi bangsa ini.

Produk-produk digital seperti televisi, hanphone, internet, di tengah kehidupan memang merupakan sesuatu yang mesti diterima. Penerimaan awal akan kehadiran produk-produk lebih ditekankan pada pemahaman tentang peran-fungsi dan dampaknya terhadap perjalanan realita hidup yang selalu dipenuhi dengan fantasi dan keinginan untuk memuaskan segala kebutuhan.

Pada tataran teknis, usaha mengidentifikasi terhadap berbagai dampak-dampak produk digital ini melalui penghayatan, pencerapan, yang untuk selanjutnya sikap dari generasi muda inilah yang akan memberikan suatu pemfilteran terhadap berbagai dampak negatif produk digital tersebut sekaligus dapat memadukan manfaatnya dengan realitas sosial masyarakat Indonesia yang masih primitif.

Sumpah Pemuda

Sumpah pemuda 75 tahun silam, 28 Oktober 1928, merupakan ’ikrar setia’ dari semangat dan kesadaran para pemuda akan pentingnya persatuan dan kesatuan sebagai perekat bangsa. Yang pada tataran praktis, memiliki arti yang sangat signifikan bagi pembangunan kesadaran rakyat Republik Indonesia ke depan. Kesadaran kebangsaan yang dicetuskan dalam sumpah pemuda ini, dalam sejarah bangsa, juga telah membersitkan gelora nasionalisme yang menjadi letupan patriotik untuk melawan segala bentuk penjajahan. Lalu bagaimana relevansi sumpah pemuda bagi eksistensi bangsa di tengah peradaban digital?

Selain persoalan-persoalan kebudayaan yang paradoks, di tengah perdaban digital ini, bangsa ini juga masih dililit masalah kebangsaan yang ’akut’ dan berkepanjangan’ sentimen keagamaan, golongan dan kedaerahan; yang kalau semua persoalan tersebut tidak segera diatasi, bukan hal yang tidak mungkin, akan mengaburkan dan merontokkan nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Di tengah semua itu, refleksi sumpah pemuda memilki peran yang cukup vital untuk kembali membangun semangat persatuan dan kesatuan bangsa (Tim Sosialisasi penyemaian jati diri bangsa, 2003:49). Hal ini bisa dipahami dari latar belakang peristiwa sumpah pemuda yang dicetuskan dengan penuh kesadaran dan semangat akan pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk menjadi kuat dan maju.

Lebih jauh, kesadaran generasi muda akan peran-fungsinya, di tengah pluralitas bangsa, persoalan bangsa yang belum berakhir, dan goncangan dunia global, akan memberikan harapan baru bangsa ini untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Dalam konteks kekinian, perlu kiranya kita mengikrarkan beberapa sumpah untuk negeri ini. Pertama, kita perlu bersumpah untuk tidak berbuat dan membasmi korupsi. Kedua, kita bersumpah untuk hidup sederhana. Ketiga, kita bersumpah untuk sadar hukum. Keempat, kita bersumpah untuk lebih mengedepankan sikap altruistik. Kelima, kita bersumpah untuk berhenti mengatasnamakan rakyat demi kepentingan pribadi atau kelompok. Keenam, kita bersumpah untuk berpegang teguh pada jati diri bangsa yang religius dan berbudaya.

Selain sumpah-sumpah itu, tentunya masih banyak sumpah lagi yang mesti kita ikrarkan untuk menjadi modal awal dari komitmen bersama untuk mengatasi krisis multidimensi negeri ini.

Sajak “Aku” Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku//’Ku mau tak seorang ’kan merayu// Tidak juga kau// Tak perlu sedu sedan itu// ......//Biar peluru menembus kulitku// Aku tetap meradang menerjang// Luka dan bisa kubawa berlari// Berlari// Hingga hilang pedih peri// Dan aku akan lebih tidak perduli..//Aku mau hidup seribu tahun lagi. Sajak Aku-nya Chairil Anwar tersebut adalah sajak yang sering dideklamasikan dengan penuh kobaran semangat. Bahkan di setiap acara sastra, sajak tersebut begitu familiar untuk dibawakn oleh anak-anak muda dengan gaya mengepalkan tangan atau membusungkan dada.

Meski kalau dirunut dalam sejarahnya sajak "Aku" bukanlah sajak yang lahir dari kondisi perjuangan bangsa waktu itu, melainkan sajak "Aku" ini dilatarbelakngi pergolakan subjektivitas pengarangnya sebagai bentuk penolakan atas bujuk rayu ayahnya untuk hidup bersama. Lalu apa keistimewaan sajak "Aku" ini dibanding sajak Chairil Anwar yang lain atau penyair yang lain untuk diperbincang dalam tulisan ini, kaitannya dengan peradaban digital yang telah menimbulkan berbagai kegamangan identitas diri?

Pertama, Chairil Anwar adalah salah satu pemuda yang menjadi pelopor angkatan ’45 dalam sastra Indonesia yang memberikan warna baru bagi perpuisian Indonesia Modern. Pembaharuan yang dilakukan Chairil Anwar tentunya bisa dijadikan contoh kecil untuk memacu semangat para pemuda dalam mencari jati diri ke-Aku-annya yang akan memberikan sumbangsih bagi perkembangan bangsa ini. Kedua, sajak "Aku" merupakan simbol ’pemberontakan’ Chairil Anwar terhadap ayahnya yang telah menelantarkan ibunya. Dengan kata lain, melalui sajak ini Chairil telah melakukan satu langkah pasti untuk menolak yang namanya kesewenang-wenangan serta segala macam bentuk penindasan terhadap harkat dan martabat manusia.

Ketiga, cita-cita yang tinggi. Keinginan aku mau hidup seribu tahun lagi mungkin merupakan hal yang mustahil diwujudkan. Namun kata-kata ini lebih menyiratkan pada keinginan yang cukup tinggi untuk mengukir prestasi hidup. Keempat, pendirian yang kokoh. Salah satu sikap yang perlu disimak lagi dan dicermati dengan penuh gairah dari sajak ini adalah keteguhan untuk ku mau tak seorang kan merayu// tidak juga kau// tidak sedu sedan itu; sebuah sikap yang menunjukkan akan kokhnya pendirian seorang generasi muda. 

Kelima, berpegang teguh dan cinta pada keadaan diri sendiri. Walau dalam berbagai suasana apa pun, dalam keadaan biar peluru menembus kulitku, hendaknya generasi muda mesti dapat mengatakan aku tetap maradang menerjang; sebuah ungkapan yang berpegang teguh pada kondisi sosial masyarakat sendiri, ketimbang harus ikut dengan orang lain.

Lebih lanjut, melalui refleksi sajak "Aku" diharapkan tumbuhnya kesadaran dan semangat kebangsaan generasi muda akan pentingnya jati diri di tengah percaturan global ini. Jati diri di sini adalah kesadaran akan hakikat kehidupan bangsa indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang berbudaya dan beragama. Sehingga dengan kesadaran akan jati dirinya, para pemuda benar-benar mampu menjadikan dirinya sebagai garda depan perubahan sekaligus pemegang tongkat estafet dari para founding fathers bangsa ini yang bersusah payah merumuskan Indonesia sebagai negara yang Bhineka Tunggal Ika, merumuskan pancasila sebagai falsafah hidup dan mencetuskan pembukaan UUD 45 untuk bersama-sama menghapuskan segala bentuk penjajahan di atas bumi ini.

Buku "Pergolakan Pemikiran Islam" Ahmad Wahib

"Buku harus menjadi kapak es yang memecahkan lautan beku dalam diri kita," tulis Franz Kafka (1883-1924). Saya menemukan kata-kata itu dalam buku Dunia Tanpa Ingatan-nya Anton Kurnia setelah puluhan tahun saya mengaetahui wahyu yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq yang memerintahkan Nabi Muhammad Saw. untuk "bacalah dengan nama Tuhanmu".

Buku? Ah, mungkin dunia lain, tempat kita mesti mengungsi ketika kita menemukan dunia ini terlalu buruk; tulis Gustave Flaubert. Dan Sartre juga menemukan ’dunia lain’nya dalam buku. Bahkan buku bagi Sartre adalah agama yang ditemukannya. Lalu bagaimana nasib buku di negeri ini?

Buku, sepanjang sejarah peradaban umat manusia merupakan barang yang selalu membawa gagasan perubahan zamannya. Dan buku sepanjang peradaban manusia selalu menajdi anti tesis dari kenyataan hidup; buku Dr. Zhivago-nya Borris Pasternak dianggap kontra-revolusi oleh penguasa Uni Soviet; buku Perempuan di Titik Nol, telah menyebabkan pengarangnya, Nawal El-Saadawi, dianggap melakukan ’kajahatan politik’ terhadap rezim Anwar Sadat; dan buku-buku lainnya yang ditampilkan sebagai bentuk anti tesis terhadap lika-liku zamannya. Lebih-lebih buku kadang lahir sebagai ’penyambung lidah rakyat’ dan alat perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.

Di negeri ini, buku juga pernah mengalami ‘era kegelapan’ di rezim orde baru. Buku-buku karya Pramoedya, Tan Malaka, dan pengarang rakyat lainnya tidak mendapat ruang gerak yang semestinya sebagai sumber ilmu. Bahkan tidak jarang karya-karya mesti lenyap ditelan kepicikan para penguasa.

Baru di zaman reformasi ini, buku-buku yang selama ini ’berlabel’ hitam, bisa beredar dan dinikmati oleh setiap orang yang ’suka’ baca. Keberadaan buku, yang sudah mendapat nafas segar ini, diharapkan mampu dipahami oleh generasi muda kita sebagai wahana mencerdaskan kehidupan bangsa yang beberapa dekade orde baru telah terabaikan. Apalagi di tengah peradaban digital yang menuntut kompetensi penuh dari para pelakunya.

Dalam percaturan peradaban digital ini, buku merupakan pusaka yang mesti dijadikan senjata sekaligus tameng oleh generasi muda. Ini mengingat buku masih menjadi barang istimewa masyarakat kita. Buku pada tataran praktis memiliki beberapa peran yang mesti diadari oleh setiap generasi bangsa. Pertama, buku merupakan jendela informasi sekaligus acuan awal setiap individu mengambang potensi dirinya. Kedua, dengan buku setiap individu mampu menelorkan gagasan-gagasannya. Hal ini bisa dilihat pada sosok Ahmad Wahib, satu dari sekian para pemuda Inbdonesia, yang mengabadikan gagasannya dalam buku "Pergolakan Pemikiran Islam". Buku ini memang sempat memancing kamarahan tokoh-tokoh islam. Namun di luar itu semua, buku ini telah menjadi bukti otentik dari peran-fungsi pemuda sebagai agen perubahan zamannya.

Epilog

Era globalisasi dengan peradaban digitalnya telah menajdi ’hantu’ bagi sebagai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang berada di kawasan strategis bagi lalu-lalang produk-produk ’instan’ digital tersebut. Tantangan yang dihadirkan oleh peradaban digital ini tidak hanya tuntutan pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya saja, akan tetapi juga pada kesadaran dan kemantapan setiap individu akan eksistensinya demi menatap dam menata kehidupan yang akan datang dengan "berdikari" (berdiri di atas kaki sendiri).

Dalam konteks inilah, peranan generasi muda (baca:pemuda) sebagai tulang punggung bangsa, menempati posisi yang cukup sentral dan vital. Dengan kesadaran ini, diharapkan generasi muda indonesia mampu menempa dirinya dalam platform kebangsaan yang menitik beratkan pengembangan yang berorientasi ke "dalam" sekaligus pembekalan kemampuan intelektual yang mumpuni guna menjawab berbagai tantangan golabalisasi yang semakin kompleks. Generasi muda seperti apakah yang akan menjadi tumpuan harapan bangsa?

Berdasar uraian di atas ada beberapa kriteria generasi muda yang menjadi tumpuan harapan bangsa. Pertama, generasi muda yang bisa mengingat dan menghargai sejarah bangsanya. Seperti yang dipesankan oleh Bung Karno "jangan sekali-kali kita meninggalkan searah bangsa" ( Rahardjo dan Sudarso, 2006:x). Dengan berbekal ’ingatan’ akan sejarah bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya, terutama sumpah pemuda yang menjadi tonggak kesadaran generasi muda akan pentingnya rasa persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah, diharapkan generasi muda mampu menjadi garda depan bagi perjalanan Indonesia ke depan.

Kedua, generasi muda yang sadar akan eksistensi kebangsaannya. Percaturan era globalisasi yang semakin menelanjangi batas setiap dimensi hidup, telah menjadi ’pe-er’ bagi generasi muda untuk lebih menunjukkan eksistensinya, guna menjaga keutuhan negara-bangsa.

Ketiga, generasi muda yang berwawasan intelektual tinggi. Sudah barang tentu kehadiran produk-produk baru dengan teknologi tinggi, telah menuntut kita untuk lebih memacu diti. Karena tanpa adanya usaha untuk meningkatkan kemampuan intelektual kita akan tersisih dari percaturan global yang tidak bisa dielakkan ini. Peningkatan kamampuan ini tentunya bisa dilakukan dengan cara melakukan pembacaan yang intensif terhadap media informasi (baca:buku) dan alam sekitarnya (baca:kondisi sosial).

Selanjutnya, dari generasi muda-generasi muda seperti inilah diharapkan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu mengarahkan gerbong negara-bangsa indonesia ke arah yang lebih cerah; pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan, dicontoh dan dijadikan panutan sepanjang sejarah.

Daftar Rujukan

Erinawati, Euis. 2003. Ngetop Bareng Biar Peace. Jakarta: Gema Insani Press
Kurnia, Anton. 2004. Dunia Tanpa Ingatan. Jogjakarta: Jalasutra
Pilliang, Yasraf A. 2007. Peradaban Digital: Dinamika Kehidupan dalam Virtualitas Budaya. Makalah disampaikan dalam acara seminar "peradaban baru", Festival Seni Surabaya 2007, gedung mitra, kompleks balai pemuda Surabaya, 14 Juni 2007.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi. Jogjakarta: Gadjah Mada University Press
Rahardjo, Imam Toto K., Suko Sudarsono (ed.). 2006. Bung Karno, Islam, Pancasila & NKRI. Jakarta: Komunitas Nasinalisme Religius Indonesia