Sabtu, 22 Februari 2014

Kelebat Ganjil Manusia

Oleh Set Wahedi

Dari ruang klise itulah saya berjuang untuk menjadikan peristiwa itu menjadi cerita yang segar dan menarik. Cerita itu akan segar dan menarik manakala kita mampu menampilkan sisi lain yang tak terpikirkan orang lain (hlm. iv)

Kredo atau semacam pengakuan seorang pengarang tentang proses kreatifnya, bukan sekadar pernyataan semata. Tapi merupakan pintu masuk untuk menyelami dan memahami karya-karyanya. Kredo tersebut akan menjadi penghantar bagi pembaca untuk melihat rambu-rambu dari dan ke arah mana karya itu menemukan dunianya. Dengan demikian, dunia dalam karya tersebut tidak lagi hampa. Ia telah menemukan penghuninya. Bersama penghuni inilah, (dunia) karya sastra menghadirkan ruang dialog.
 
Begitu juga kredo yang dicuplik dari kata pengantar “Machiko dalam Kabut” di atas (Mencoba menghargai Pengendapan). Dengan penyataan tersebut, kurang lebih, pengarang (:Wawan Setiawan) hendak menguraikan bagaimana cara menerima dan memperlakukan peristiwa yang silih-ganti menyerbunya. Serakan peristiwa yang ditemukan pengarang tidak serta-merta menjadi bahan ceritanya, tetapi masih membutuhkan pengendapan dan pembacaan lebih lanjut.

Dari pengendapan dan pembacaan itulah, pengarang mencoba menakar kembali potongan-potongan peristiwa yang akan disajikannya. Tujuannya untuk melihat seberapa jauh arti kehadiran cerita itu di tengah masyarakatnya. Demi melihat arti cerita inilah pengarang tidak jarang melakukan berbagai manuver. Salah satu manuver yang dapat dilakukan adalah memandang peristiwa itu dari sisi-yang-lain. Dengan sisi-yang-lain inilah pengarang pun dapat menampilkan ceritanya sedemikian menarik dan segar.

12 cerita pendek dalam “Machiko dalam Kabut” merupakan cerita-cerita dengan kekuatan sisi-yang-lain. Berbagai persoalan, yang mulanya biasa dan tak terasa, tiba-tiba menjadi kilasan peristiwa yang membutuhkan jeda nafas untuk memahaminya. Persoalan goyang ngebor Inul, beberapa waktu lalu sempat menarik perhatian semua lapisan masyarakat. Tukang becak hingga tukang janji merasa perlu membicarakannya. Penyanyi kelas teri hingga raja dangdut merasa perlu turut mendiskusikannya. Hasilnya, Inul menjadi medan-tempur penafsiran eksotisme bokong.

Lebih lanjut, tafsir bokong itu menyeret semua orang pada klaim kebenaran atas nama agama dan “seni.” Orang-orang agama mengutuknya karena disinyalir melanggar ayat Tuhan, dan orang-orang “seni” mendukungnya demi kebebasan berekspresi. Di luar perdebatan itu, goyang ngebor Inul ternyata menjadi pemicu pertikaian Ina dan suaminya. Suami Ina yang dikenal suka dangdut, kesemsem dengan goyang Inul. Jadinya, ia pun mulai “bertingkah.” Inem, pelayan seksinya tak urung menjadi wanita idaman lainnya.

Dalam hal ini, sisi-yang-lain mengkonretkan imajinasi tentang efek lekuk-bokong-goyang Inul. Goyangan Inul bukan sekadar menimbulkan riak dalam perdebatan, pun dalam kepala suami Ina menumbuhkan biji-biji liar hasrat. Membuatnya gemar bergulat dengan Inem, pembantunya yang seksi (hlm. 52)

Kesadaran yang lahir dari pengendapan dalam usaha menemukan sisi-yang-lain, dapat memberi kita ruang lain tentang manusia. Manusia yang kadang kehilangan ‘akal’, penuh pergulatan emosi, sibuk dengan kartu identitas hingga manusia dengan kesadaran yang menghentak. Sisi-yang-lain tentang manusia tak hanya menghadirkan cerita yang miris. Tetapi juga menggelikan.

Percakapan makam dan bumi, riuh hypermarket, nasib malang tikus yang mati ditabrak lari, menjadi i’tibar bagi kita dalam memahami manusia. Makam yang dipersepsikan angker, penuh dengan ruh-ruh halus tiba-tiba menjadi medan magnetik paling menarik di tengah berbagai ancaman. Pasangan muda-mudi seolah menemukan ‘kamar-gelap’ bercintanya di bawah pohon kamboja; pencopet tampak lega merebahkan diri di antara gundukan nisan. (hlm. 8-10) Deskripsi semacam ini menunjukkan tentang hilangnya rasionalitas manusia dalam memenuhi kebutuhan dan rasa amannya.

Tidak hanya itu, pemenuhan kebutuhan telah menjadi ‘wahyu’ sakral dalam diri manusia. Popularitas, keabadian, libido seks menggiring manusia pada ruang hypermarket yang bising. Manusia terjebak dalam rutinitas konsumsi dan atraksi harga diri. Manusia pun larut dan liar dalam hingar-bingar kota dengan segenap teori kemajuan dan merk santapannya. Akibatnya mereka (:manusia) larut dalam kelebat-kelebat khayal membangun negeri yang tak pernah ada (hlm. 28).
 
Kelebat popularitas dan keabadian dalam benak manusia, memaksa mereka ambil ancang-ancang untuk berhitung tentang hidup dengan pasti dan aman. Bahkan pada persoalan yang di luar dugaan, semisal mati ditabrak lari, mereka pun merasa perlu mengantisipasinya. Mati tabrak lari tanpa identitas bukan sekadar ancaman, tapi dapat menisbikan makna popularitas yang mereka bangun. Mati haruslah dengan identitas yang jelas. Tak heranlah manusia merasa perlu membawa kartu tanda pengenal ke mana-mana. Berjaga-jaga mereka menemukan ajalnya di tanah yang tak dikenal. Dengan kartu tanda pengenal itu, manusia berharap  dirinya tetap aman dan damai hingga liang kubur. Kalau perlu, malaikat pun tak perlu melemparkan pertanyaan demi pertanyaan. Malaikat cukup melihat kartu tanda pengenal dalam dompet di saku belakang celananya. 

Judul Buku                 : Machiko dalam Kabut
Penulis                        : Wawan Setiawan
Penerbit                     : Amper Media bekerjasama dengan dbuku
Tahun Terbit             : cetakan pertama 2013
Tebal Halaman          : vi +90
ISBN                            :978-602-989-977-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar