Oleh Set Wahedi
Dari ruang klise itulah saya
berjuang untuk menjadikan peristiwa itu menjadi cerita yang segar dan menarik.
Cerita itu akan segar dan menarik manakala kita mampu menampilkan sisi lain
yang tak terpikirkan orang lain (hlm. iv)
Kredo atau
semacam pengakuan seorang pengarang tentang proses kreatifnya, bukan sekadar
pernyataan semata. Tapi merupakan pintu masuk untuk menyelami dan memahami
karya-karyanya. Kredo tersebut akan menjadi penghantar bagi pembaca untuk
melihat rambu-rambu dari dan ke arah mana karya itu menemukan
dunianya. Dengan demikian, dunia dalam karya tersebut tidak lagi hampa. Ia
telah menemukan penghuninya. Bersama penghuni inilah, (dunia) karya sastra menghadirkan
ruang dialog.
Begitu juga
kredo yang dicuplik dari kata pengantar “Machiko dalam Kabut” di atas (Mencoba
menghargai Pengendapan). Dengan penyataan tersebut, kurang lebih, pengarang
(:Wawan Setiawan) hendak menguraikan bagaimana cara menerima dan memperlakukan peristiwa
yang silih-ganti menyerbunya. Serakan peristiwa yang ditemukan pengarang tidak
serta-merta menjadi bahan ceritanya, tetapi masih membutuhkan pengendapan dan
pembacaan lebih lanjut.
Dari
pengendapan dan pembacaan itulah, pengarang mencoba menakar kembali
potongan-potongan peristiwa yang akan disajikannya. Tujuannya untuk melihat
seberapa jauh arti kehadiran cerita itu di tengah masyarakatnya. Demi melihat
arti cerita inilah pengarang tidak jarang melakukan berbagai manuver. Salah
satu manuver yang dapat dilakukan adalah memandang peristiwa itu dari
sisi-yang-lain. Dengan sisi-yang-lain inilah pengarang pun dapat menampilkan
ceritanya sedemikian menarik dan segar.
12 cerita
pendek dalam “Machiko dalam Kabut” merupakan cerita-cerita dengan kekuatan
sisi-yang-lain. Berbagai persoalan, yang mulanya biasa dan tak terasa,
tiba-tiba menjadi kilasan peristiwa yang membutuhkan jeda nafas untuk
memahaminya. Persoalan goyang ngebor Inul, beberapa waktu lalu sempat menarik
perhatian semua lapisan masyarakat. Tukang becak hingga tukang janji merasa
perlu membicarakannya. Penyanyi kelas teri hingga raja dangdut merasa perlu
turut mendiskusikannya. Hasilnya, Inul menjadi medan-tempur penafsiran
eksotisme bokong.
Lebih
lanjut, tafsir bokong itu menyeret semua orang pada klaim kebenaran atas nama
agama dan “seni.” Orang-orang agama mengutuknya karena disinyalir melanggar
ayat Tuhan, dan orang-orang “seni” mendukungnya demi kebebasan berekspresi. Di
luar perdebatan itu, goyang ngebor Inul ternyata menjadi pemicu pertikaian Ina
dan suaminya. Suami Ina yang dikenal suka dangdut, kesemsem dengan goyang Inul.
Jadinya, ia pun mulai “bertingkah.” Inem, pelayan seksinya tak urung menjadi
wanita idaman lainnya.
Dalam hal
ini, sisi-yang-lain mengkonretkan imajinasi tentang efek lekuk-bokong-goyang
Inul. Goyangan Inul bukan sekadar menimbulkan riak dalam perdebatan, pun dalam
kepala suami Ina menumbuhkan biji-biji liar hasrat. Membuatnya gemar bergulat
dengan Inem, pembantunya yang seksi (hlm. 52)
Kesadaran
yang lahir dari pengendapan dalam usaha menemukan sisi-yang-lain, dapat memberi
kita ruang lain tentang manusia. Manusia yang kadang kehilangan ‘akal’, penuh
pergulatan emosi, sibuk dengan kartu identitas hingga manusia dengan kesadaran
yang menghentak. Sisi-yang-lain tentang manusia tak hanya menghadirkan cerita
yang miris. Tetapi juga menggelikan.
Percakapan makam
dan bumi, riuh hypermarket, nasib malang
tikus yang mati ditabrak lari, menjadi i’tibar
bagi kita dalam memahami manusia. Makam yang dipersepsikan angker, penuh dengan
ruh-ruh halus tiba-tiba menjadi medan magnetik paling menarik di tengah
berbagai ancaman. Pasangan muda-mudi seolah menemukan ‘kamar-gelap’ bercintanya
di bawah pohon kamboja; pencopet tampak lega merebahkan diri di antara gundukan
nisan. (hlm. 8-10) Deskripsi semacam ini menunjukkan tentang hilangnya
rasionalitas manusia dalam memenuhi kebutuhan dan rasa amannya.
Tidak hanya
itu, pemenuhan kebutuhan telah menjadi ‘wahyu’ sakral dalam diri manusia.
Popularitas, keabadian, libido seks menggiring manusia pada ruang hypermarket yang bising. Manusia
terjebak dalam rutinitas konsumsi dan atraksi harga diri. Manusia pun larut dan
liar dalam hingar-bingar kota dengan segenap teori kemajuan dan merk
santapannya. Akibatnya mereka (:manusia) larut dalam kelebat-kelebat khayal membangun
negeri yang tak pernah ada (hlm. 28).
Kelebat popularitas dan keabadian
dalam benak manusia, memaksa mereka ambil ancang-ancang untuk berhitung tentang
hidup dengan pasti dan aman. Bahkan pada persoalan yang di luar dugaan, semisal
mati ditabrak lari, mereka pun merasa perlu mengantisipasinya. Mati tabrak lari
tanpa identitas bukan sekadar ancaman, tapi dapat menisbikan makna popularitas
yang mereka bangun. Mati haruslah dengan identitas yang jelas. Tak heranlah
manusia merasa perlu membawa kartu tanda pengenal ke mana-mana. Berjaga-jaga
mereka menemukan ajalnya di tanah yang tak dikenal. Dengan kartu tanda pengenal
itu, manusia berharap dirinya tetap aman
dan damai hingga liang kubur. Kalau perlu, malaikat pun tak perlu melemparkan
pertanyaan demi pertanyaan. Malaikat cukup melihat kartu tanda pengenal dalam dompet
di saku belakang celananya.
Judul Buku : Machiko dalam Kabut
Penulis : Wawan Setiawan
Penerbit : Amper Media bekerjasama dengan dbuku
Tahun Terbit : cetakan pertama 2013
Tebal Halaman : vi +90
ISBN :978-602-989-977-1

Tidak ada komentar:
Posting Komentar