Minggu, 10 April 2016

Kritik Set Wahedi Terhadap Indonesia

Oleh Khairi Esa Anwar*

Lewat buku Aufa, Menulis Itu Pahit, Set Wahedi lahir sebagai anak kecil yang bicara tanpa aling-aling, bertanya, mengkritik, bahkan berteriak semaunya. Tanpa merasa takut ketika berhadapan dengan siapapun. Entah pejabat, kyai, serta penguasa tiran sekalipun. Logika anak kecil sangat sederhana, menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Begitulah sikap Set dalam buku ini, yang memuat sembilan esai yang ditulis dari rentang tahun 2010-2014. Esai yang sudah dimuat di beberapa media masa ini, sarat dengan nada kritik pedas pada persoalan sosial, budaya, teknologi, sastra (:seni), politik, juga realitas yang cenderung memaksa manusia untuk tidak merdeka dari dunianya.

Keadaan telah memaksa Set untuk dirasa perlu bersuara, ingin melakukan perubahan dari dunia yang semakin carut-marut, jenuh, kotor, menuju ke dunia yang penuh makna. Bagaimana pun idealnya, perubahan tidak akan pernah datang dari langit. Karena dunia, utamanya Indonesia, tidak akan pernah mengalami suatu puncak kebermaknaan, jika hanya berada dalam kungkungan sejarah. Tanpa harus menjelaskan detail, bangsa Indonesia sudah mengalami rentetan sejarah yang gemilang sekaligus mencekam. Sehingga, tanpa sadar dalam memaknai cenderung sepihak tanpa mengolah dan menciptakan kreativitas baru untuk menjadi bangsa yang gemilang.

“Alangkah baiknya, untuk sekadar melupakan yang teringat, kita kembali membolak-balik kitab ramalan. Bukan karena apa, di kitab ramalan kita tidak akan mengalami lupa atau ingat, apalagi ingin berkuasa. Sebab semakin kita ‘mengingat’ semakin banyak ruang-ruang kosong yang semestinya kita isi dengan golak perlawanan. Apalagi para elit politik hari ini semakin gencar berakrobat: ada yang blusukan ke pasar-pasar rakyat; ada yang menggelar buka bersama; ada yang getol bersuara biarkan hukum memproses.” (hal. 10)

Kisah Unik Penuh Makna

Hal yang paling penting dalam buku ini, Set menggiring persoalan yang pelik dan rumit menjadi sederhana. Melalui kisah Kamran, Sajuri, persoalan yang membutuhkan dahi berkerut menjadi sederhana dan utuh. Tampak cerita keseharian yang di tangan orang banyak hanya kisah murahan, di tangan Set benar-benar penuh makna.
Dari sembilan esai yang ditulisnya, Set benar-benar menggiring kita memasuki wilayah yang sebenarnya  kita temui setiap hari. Akan tetapi, kita tidak sadar kalau kisah itu penuh makna dan mampu membuat kita terperangah. Setelah membaca esai dalam buku, secara tiba-tiba kita akan tersadar bahwa kisah hari kemarin menjadi semacam kredo besar pada hari ini, dan sampai kapanpun. Tak heran, jika tokoh Sajuri disandingkan dengan Abu Nawas. Melalui tokoh Sajuri, kritik Set ditujukan pada polemik buku “33 Tokoh Sastra Berpengaruh”; persoalan yang sempat menyeruak di tahun 2014, dan sampai kini persoalan tersebut belum selesai.   

Sedang melalui kisah Kamran, Set menggambarkan lika-liku nasib seorang teman yang lugu, polos, dan ndeso. Pada suatu ketika, Kamran menjadi seseorang yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Pertemuan dengan dunia “modern” telah merubahnya menjadi seorang yang luar biasa berubah, baik cara sikap, bicara, pergaulannya. Tidak seperti dulu lagi. Hal ini menandakan bahwa keadaan mampu membuat seseorang tidak merdeka dari keadaan lingkungannya.

Banyak kisah masa lalu, kini, menjadi sorotan kritikan Set. Kisah sederhana yang murahan menjadi penuh makna dan merasa cukup untuk dijadikan tolak ukur dalam membaca keadaan Indonesia yang semakin kalang kabut.

Perlunya Idealitas dan Aktualitas

Perubahan tidak cukup untuk diwacanakan saja. Pernyataan Bung Karno: “Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia.” Pernyataan tersebut bukan suatu kebetulan, melainkan pergolakan besar dalam melakukan perubahan berada di tangan pemuda. Tidak heran, jika Bung Karno menginginkan pemuda menjadi label dari semangat zamannya.

Dari pernyataan Bung Karno, ada dua hal yang dapat ditangkap: idealitas dan aktualitas. Karena, kedua persoalan menjadi penting untuk selalu disandingkan. Satu sama lain dapat memberikan arti, sehingga idealitas tanpa aktualitas, ada yang kurang dan juga sebaliknya. “Selanjutnya, dari generasi muda-generasi muda seperti inilah diharapkan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu mengarahkan gerbong Negara-Bangsa Indonesia ke arah yang lebih cerah; pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan, dicontoh dan dijadikan panutan sepanjang sejarah.” (Hal. 65).

Melalui buku ini, Set ingin mengajak pemuda untuk berperan dan menemukan eksistensi ke-aku-annya. Bukan berarti sebagai anak kecil yang tahu mengkritik dan bicara semaunya, Set memberikan solusi dalam setiap persoalan. Dalam buku ini, tesa-antitesis-sintesa dapat kita temui. Hanya saja, Set terlalu idealis dalam menyandingkan tokoh keseharian dengan beberapa pernyataan kutipan yang dari beberapa tokoh besar yang sebenarnya mengganggu.

Judul               : Aufa, Menulis Itu Pahit (Kumpulan Esai)
Penulis            : Set Wahedi
Tahun Terbit : Desember, 2015
Penerbit         : Paelan
Tebal              : v + 66 halaman  

* Khairi Esa Anwar, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
(Tulisan ini dimuat di Radar Madura, Minggu 10 April 2016 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar