Melihat
sampul utama bertuliskan “Aufa, Menulis Itu Pahit” sebuah kumpulan esai karya
penulis asal Sumenep, ini memberikan kesan baru bagi saya. Ya, saya sendiri
belum pernah membaca sebuah kumpulan esai. Biasanya saya membaca esai melalu
situs-situs tertentu. Beda penulis beda pula cara penyajiannya, entah apakah
saya sendiri yang merasakan membaca seperti mendengarkan langsung dari mulut
penulis atau mungking para pembaca lainnya juga merasakan hal yang sama? Entahlah.
Ciri khas
penulis yang apa adanya, namun begitu teliti dalam menempatkan diksi dan
menyusunnya hingga terbentuk kalimat-kalimat yang begitu tertata dan “sangat”
mudah dimengerti. Tak seperti esai yang pernah saya baca sebelumnya, terkadang
saya harus mengulang beberapa bagian yang memang memerlukan pemikiran lebih.
Eits, bukan berarti kumpulan esai ini tak berbobot. Andai saya memiliki jempul
lebih dari dua, saya akan memberikan semuanya kepada penulis.
Pesan-pesan
penting tersampaikan begitu mudah, dengan pelbagai bumbu penyusunan kalimat
yang begitu apik. Ada hal lain yang begitu spesial, penulis juga tak sembarang
menulis. Beliau juga memakai beberapa buku yang menjadi rujukan, dan itu
membuat buku ini tampak lebih meyakinkan dan berbeda dengan yang lainnya.
Ada
beberapa bagian yang membuat saya tak henti-hentinya menampakkan senyum dengan
deretan gigi yang tak dapat saya lihat dengan indera penglihatan saya sendiri. “Doktor
Hafalan”, “Kamran”, dan “Sajuri dan 33 Tokoh Sastra Indonesia” adalah bagian-bagian
yang mulai menarik rasa ingin tahu saya, rasa penasaran, dan rasa ingin
menyelesaikan bacaan hingga akhir. Penulis tak lupa menyelipkan beberapa diksi
dan susunan kalimat yang membuat bibir memaksa untuk membuka diri, dan tak bisa
menahan tawa. Begitu rapih dengan pelbagai pesan yang begitu tertancap
dipikiran.
Kelebihan
lain yang begitu saya sukai dari buku ini adalah, penulis mencantumkan beberapa
quote atau penggalan kalimat para pesohor tanah air. Seperti penggalan
kalimat mendiang presiden pertama Indonesia di halaman 52 dan banyak lagi di
halaman lainnya. Pada akhir bagian, kita akan disuguhkan penjelasan sajak “Aku”
yang menegaskan identitas generasi bangsa, dan ini menambah daftar isi
pengetahuan di memori otak saya.
Cuma itu?
Tentu Tidak! Cara penulis menyampaikan isi dengan penganalogian objek. Ya, saya
suka sekali cara beliau menganalogikan beberapa bagian sehingga tersampaikan
dengan sempurna dan tentunya dapat dimengerti oleh semua kalangan. Coba kita
lihat halaman 41 baris paling awal “kelak, jika kau menulis, menulislah
dengan hati dan penuh dedikasi, agar karya-karyamu menemukan ‘arti’. Kau jangan
menulis karena ingin dimuat di koran ya?”. Ya, pesan yang tak pernah saya
temukan dan tak pernah saya dengar dari seorang penulis. Intinya, menulislah
dengan hati dan penuh dedikasi.
Ada lagi,
cara penulis menyangkut-pautkan antara ilmu satu dan ilmu yang lainnya, begitu
apik dijelaskan pada bagian “Emrete dan Capres Kita”. Ya, bagian ini sangat
berkesan bagi saya. Jujur, saya sudah khatam yang namanya Imriti, namun tak
pernah memikirkan apa yang telah dipikirkan oleh penulis. Geleng kepala, itu
saja yang dapat saya lakukan.
Berbicara
kekurangan, tak semua hal di dunia ini yang sempurna. Apalagi, buku ini juga
buatan seorang hamba. Ada beberapa bagian yang menurut saya mengurangi ke
khusukan dalam membaca buku ini. Ya, editing yang mungkin terlewat atau
terselip. Coba kita lihat halaman 4, baris ke-4 dari bawah. Hal 7, paragraf
ke-2 baris 4. Halaman 13, paragraf ke-2. Spasi antar kata yang memecah
sementara konsentrasi membaca. Okay, everything are cool. Saya rekomendasikan
buku ini untuk semua kalangan, karena semua isi disusun dengan diksi yang
sederhana namun mengena.
Judul : Aufa, Menulis Itu Pahit
*Fathur
Rahman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP,
Universitas Trunojoyo Madura. Judul : Aufa, Menulis Itu Pahit
Penulis : Set Wahedi
Tahun Terbit : Desember, 2015
Penerbit : Paelan
Tebal : v + 66 halaman
(tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.tabloidpendidikan.com/seni-dan-budaya/menulislah-dengan-hati-dan-penuh-dedikasi-dalam-aufa-menulis-itu-pahit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar