Oleh Moh. Fathoni
Secara medis mungkin obat bisa menyembuhkan pusing, tapi yang menarik di sini adalah mensejajarkan persoalan korupsi dengan medis. Tapi, apakah pusing sebab korupsi bisa diobati dengan Oskadon? Atau, pusing sebab memikirkan pemenangan caleg bisa diatasi dengan obat sakit kepala? Dalam nalar medis Oskadon memang berkaitan pusing atau sakit kepala. Menarik, Oskadon tiba-tiba terlibat dengan persoalan yang rumit dipikirkan. Lantas, benarkah yang dimaksud ‘pusing’ di sini sebagai persoalan medis atau sekedar pencitraan merk obat? Saya tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu merk obat. Bisa jadi ini persoalan metaforik. Pusing atau sakit yang secara anaatomi berada di kepala.
Tampak pusing atau tidaknya mungkin bukan persoalan, jika korupsi menjadi semacam properti dalam iklan sabun pencuci tangan. Sayangnya tidak ada iklan semacam itu. Semoga tidak!
“Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Tanya seorang lelaki kepada lelaki lain yang lebih tua dalam sebuah iklan. Kata ‘menang’ di sini mengandaikan adanya suatu pertandingan atau kompetisi. Bagi seorang caleg, menang berarti mengantongi suara lebih dalam proses pemilihan. Dan, ia disebut sebagai pemenang atau orang yang terpilih, semacam manusia pilihan.
Seorang ronggeng dalam novel Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, misalnya, sekilas tampaknya dipilih bukan oleh manusia, tetapi ada semacam ‘pulung’ yang jatuh kepada seseorang. Seorang ronggeng seperti dipilih oleh pihak di luar kekuatan manusia, yang bersifat melebihi kekuatan manusia. Tapi, kemudian ia juga perlu dinyatakan. Ada manusia yang membuat pernyataa, bahwa ia terpilih, ia bukan sembarang orang. Dan, saya tidak hendak mengatakan seorang caleg yang menang adalah ronggeng.
Namun, soal manusia terpilih ini bukan ‘sekedar’ persoalan manusia memilih manusia. Proses pemilihan dalam demokrasi dengan sistem kalah-menang dapat dipahami sebagai suatu kompetisi. Semangat persaingan atau pertandingan ini yang menjadi urat saraf demokrasi. Benarkah ‘demokrasi’ macam ini yang kita kehendaki? Demokrasi yang melahirkan pemenang dan menistakan pecundang? Saya teringat kata Adorno tentang konformitas. Manusia terpilih dalam pemilihan umum (pemilu) barangkali semacam konformitas.
Pemilihan umum yang melibatkan konstituen rakyat menjadi kedok untuk mengkonstitusi individu yang ‘terpilih’. Bukan berarti saya menolak pemilu, tetapi sistem yang kemudian menghasilkan individu pemenang, legislator, atau bukan tidak mungkin juga koruptor ini telah memanipulasi massa. Individu itu dikonstruksi lekat dan dekat dengan rakyat, sehingga terjadi semacam penyerobotan identitas massa pada diri individu—individu yang telah dikonsepsikan sebagai representasi rakyat, yang mengusung cita-cita demokrasi.
Dalam pengertian yang paling sederhana, individu terpilih itu berkonsepsi ganda. Pengertian ini tidak terelakkan ketika korupsi, monopoli dan kesenjangan dijembatani dengan pemilihan umum yang seolah-olah mempunyai garansi, seperti obat sakit kepala yang menjamin kesembuhan. Tetapi, bukankah kita sedang membicarakan iklan. Dan, saya tidak sedang membahas hubungan antara demokrasi, pemilu, dan iklan. “Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Sebuah pertanyaan klise yang dianggap penting.
Sebuah kegalauan calon legislatif (caleg) yang hampir dapat dipastikan ia adalah caleg baru. Tentu bukan caleg lama yang punya kekhawatiran seperti itu. Mereka barangkali sudah cukup berpengalaman, lebih-lebih tidak akan kaget atau mendadak punya masalah dengan kata ‘korupsi’ ketika masa kampanye. “Kerja keras, jujur, dan.. tidak korupsi,” jawab ki dalang mantep sudarsono, ditanya si caleg anyaran tadi. Mendengar kata korupsi mendadak si caleg pusing. Sekilas, dalam nalar iklan barangkali ini wajar. Pusing bisa diatasi dengan obat sakit kepala. Nalar iklan barangkali cenderung menyarankan secara praktis pada merk obat.
Secara medis mungkin obat bisa menyembuhkan pusing, tapi yang menarik di sini adalah mensejajarkan persoalan korupsi dengan medis. Tapi, apakah pusing sebab korupsi bisa diobati dengan Oskadon? Atau, pusing sebab memikirkan pemenangan caleg bisa diatasi dengan obat sakit kepala? Dalam nalar medis Oskadon memang berkaitan pusing atau sakit kepala. Menarik, Oskadon tiba-tiba terlibat dengan persoalan yang rumit dipikirkan. Lantas, benarkah yang dimaksud ‘pusing’ di sini sebagai persoalan medis atau sekedar pencitraan merk obat? Saya tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu merk obat. Bisa jadi ini persoalan metaforik. Pusing atau sakit yang secara anaatomi berada di kepala.
Barangkali bukan hal yang tidak disengaja keterkaitan antara sakit kepala, korupsi dan obat sakit kepala. Jika begitu, maka korupsi bisa jadi bukan tidak disengaja. Apalagi iklan itu, waktu itu yang saya tonton, ditayangkan dalam sebuah acara yang bertajuk “Indonesia Baru” di sebuah stasiun televisi swasta. Acara itu menghadirkan salah satu sosok yang dicalon sebagai RI 1 2014. Hadir pula grup band Slank, yang beberapa kali bertanya soal kepemimpinan dan mendendangkan lirik ‘jangan ingkari janji..” setelah jeda iklan. Saya membayangkan, apakah si caleg juga tiba-tiba pusing mendengar lirik lagu Slank itu. Saya juga tidak melihat sosok yang disebut calon RI 1 itu tampak seperti si caleg di iklan obat sakit kepala itu.
Tampak pusing atau tidaknya mungkin bukan persoalan, jika korupsi menjadi semacam properti dalam iklan sabun pencuci tangan. Sayangnya tidak ada iklan semacam itu. Semoga tidak!






