Rabu, 14 Juni 2017

Cara Mendongeng yang Hampa

Oleh Dewi Kurniawati*

Siapa yang tidak suka mendengar dongeng atau mendengar cerita proses seseorang untuk mencapai keberhasilan? Mendongeng merupakan hal yang asyik. Karena dengan mendongeng, kita dapat mengubah cara berpikir seseorang. Selain itu juga kita dapat memotivasi.

Orang yang belum terbiasa mendongeng akan bingung apabila diminta mendongeng. Padahal mendongeng merupakan kebiasaan kita setiap harinya. Setiap hari kita berbincang-bincang pada semua orang. Berbicara dari A hingga Z tanpa ada hentinya. Tapi tetap saja ketika diminta untuk mendongeng, badan kita akan terasa panas dingin.

Hal tersebut mengenai biasa tidaknya berbicara di depan umum. Tetapi mendongeng tidaklah harus berbicara di depan umum. Setiap orang kelak akan menjadi orang tua dari anak-anaknya, dan beberapa ada yang merupakan kakak dari adik-adiknya. Mendongeng dapat dilakukan kepada anak sendiri ataupun adik. Apabila kita adalah seorang guru, kita dapat mendongeng kepada murid kita.

Kita perlu terbiasa mendongeng dan mencari bahan bacaan untuk materi mendongeng, sehingga kita memunyai cukup cerita untuk disampaikan. Inilah manfaat dari buku “Ayo.. Mendongeng” karya Muhammad Abdul Latif. Buku itu, sangat mengispirasi, dengan isi cerita yang cukup beragam. Melalui judulnya kita akan tertarik untuk membaca, karena warna warni. Hanya saja buku “Ayo.. Mendongeng” lebih terlihat untuk bacaan anak-anak, karena penuh dengan warna, dan gambar. Karena itu, anak-anak akan lebih tertarik melihatnya. Memang mendongeng identik dengan anak-anak sehingga desainnya juga diseuaikan dengan apa yang disenangi anak-anak. Jika benar ditujukan sebagai bahan bacaan anak-anak, agaknya terlalu rapat tulisannya. Namun apabila buku ini diperuntukkan orang dewasa sebagai pembaca, agaknya terlalu ramai gambar yang ada.

Pertama kali saya melihat buku “Ayo.. Mendongeng”, saya tertarik dengan sampulnya. Pada sampul depan terdapat gambar tangan dengan media mendongeng boneka tangan. Hal tersebut membuat saya berpikiran akan juga menemukan media-media yang tepat untuk digunakan mendongeng. Ketika membaca bukunya saya tidak menemukannya. Dan juga ketika belajar mendongeng, terkadang masih bingung dengan gaya yang baik dan cocok untuk menodongeng. Masih bingung untuk menggunakan kostum yang cocok, atau bahasa yang sesuai dengan pendengar. Bagi pemula masih ingin mengetahui apa-apa saja yang baik, yang sesuai, dan yang disenangi oleh pendengar/penonton. Sehingga dapat menjadi pembelajaran dan membantu untuk perayaan diri ketika mendongeng.

Pemahaman tentang mendongeng juga hampir mirip dengan monolog, sehingga perlu penjelasan lebih lanjut mengenai mendongeng. Bagi pembaca dewasa, memerlukan hal yang demikian, melihat merekalah yang mendongeng.

Dengan mendongeng, guru akan dicintai oleh muridnya, dengan mendongeng orang tua akan dekat dengan anaknya, dan dengan mendongeng persaudaraan akan semakin akrab. Memang benar adanya jika dengan mendengar kisah perjalanan seseorang yang menginspirasi, secara tidak sadar, hati akan ikut tergerak untuk mengikuti apa yang sudah dilakukannya. Sering jika mendengar sesuatu yang membuat terharu karena sikap dan perilakunya, hati terasa tertusuk dan akhirnya meneteskan air mata. Itu merupakan bukti dengan mendongeng akan dapat memotivasi dan mengubah pikiran seseorang. Untuk mencapai hal tersebut, perlu penyampaian yang sesuai untuk menunjang materi yang ada. Apabila hanya ada bahan untuk mendongeng, namun gaya dalam penyampaian tidak sesuai atau hanya datar-datar saja, makna dan maksud yang hendak disampaikan hanya terbuang sia-sia.

Bahasa yang dikuasai oleh anak-anak berbeda dengan bahasa yang dikuasai oleh orang dewasa. Bahasa orang dewasa sedikit lebih rumit dan ilmiah. Berbeda dengan anak-anak yang dalam cakupan penguasaan bahasa masih tergolong sedikit. Selain itu, bahasa yang digunakan anak-anak lebih biasa dan lebih santai. Sehingga perlu adanya penjelasan bahasa untuk mendongeng, dan hal tersebut tidak saya temukan dalam buku “Ayo.. Mendongeng”.

Biasanya dalam media cetakan seperti buku, menggunakan font yang berkaki. Font berkaki misalnya adalah Times New Roman. Karena dianggap akan lebih mudah untuk membaca dan terkesan tidak terlalu rapat ketika membaca. Demikian ketika saya membaca buku “Ayo.. Mendongeng” ini. Saya merasa tulisannya rapat, sehingga terkadang sedikit jenuh untuk membacanya. Hal tersebut dapat berpengaruh apabila para pembacanya adalah anak-anak yang sedang belajar membaca.

Materi yang disajikan sangat beragam. Mulai dari kisah sahabat nabi, kisah keseharian, dan cerita fiksi yang disukai oleh anak-anak. Sehingga dengan materi yang demikian, para pembaca dapat menerapkan dengan mudah materi yang ada ketika mendongeng. Selain itu materi dapat disesuaikan dengan situasi yang ada. Dari sekian banyak materi, ada materi yang terasa menggantung. Ketika membaca terasa mengganjal. Merasa kurang puas setelah membaca ceritanya dari awal hingga akhir. Serasa cerita belum selesai, dipaksa untuk selesai. Misalnya saja cerita “Si Amin”. Pada cerita itu saya merasa cerita dipotong, dan dikagetkan oleh Amin kecil yang tiba-tiba mejadi dewasa dan sukses, tanpa tahu apa yang sudah dilakukannya hingga dapat menjadi sukses. Bagian pembuka dan bagian penutup terasa kurang sesuai. 

Dewi Kurniawati, mahasiswa angkatan 2015 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura

Rabu, 08 Februari 2017

Kado Terindah dari Tuhan


Oleh Kuswanto Ferdian

"Aufa, Menulis itu pahit " seperti itulah pesan yang tersirat dalam buku kumpulan esai Set Wahedi, penulis muda asal Sumenep. Kata-kata itu seperti mendoktrin otak saya untuk merasakan kepahitan menulis; seperti minum kopi tanpa seduhan gula. Semakin pahit, semakin nikmat.
Mula-mula saya tidak suka dengan membaca-menulis. Meski saya kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca-menulis tetaplah dunia asing. Entahlah niat untuk membaca-menulis itu seperti tidak terbersit dalam diri saya. Tapi sejak membaca kumpulan esai Set Wahedi, saya merasakan gejolak. Kepala saya seperti dihantam batu yang keras.
Kumpulan esai Set Wahedi menuntun saya untuk menumbuhkan semangat membaca-menulis. Saya merasa malu dengan diri saya sendiri. Saya buang jauh kemalasan itu. Saya merasakan gejolak itu semakin membuncah. Saya mulai suka membaca di semeseter 3. Sejak kenal dengannya, Set Wahedi memotivasi saya untuk membaca dan terus membaca. Tak peduli apapun yang saya baca. Yang penting saya baca.
Mula-mula saya membaca cerpen karya Seno Gumira Adjidarma di website. Ternyata, karyanya semakin menggunggah semangat saya untuk terus membaca. Terus menikmati kesenangan yang mulai terbiasa. Akhirnya saya merasakan kegelisahan hati sendiri. Sehari tidak membaca rasanya ada yang berbeda. Entahlah rasa itu muncul secara tiba-tiba di benak saya. Kebiasaan membaca sepertinya sudah tertanam di otak saya. Rasanya tangan ini mulai gatal, pikiran seperti berteriak-teriak sendiri di kepala. Selang beberapa waktu, saya mulai belajar menulis.
Kali pertama, saya menulis cerpen berjudul "Embun Pagi". Tiba-tiba imajinasi saya menjerit-jerit. Cerpen itu bercerita seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta pada gadis cantik yang bekerja di cafe. Tapi laki-laki itu takut mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, dirinya hanya seorang pemulung. Semakin lama kegilaan saya dalam membaca semakin menggebu-gebu. Cerpen pertama saya, saya muat di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca karya saya. Banyak yang suka. Sekitar 325 mata yang membaca karya saya. Saya merasa bangga pada hari itu meskipun karya yang saya buat, tidak di muat di media.
Saya menulis sebatas kesenangan saja, awalnya. Tapi akhir-akhir ini saya semakin semangat untuk berkarya. Iseng-iseng saya membuat puisi sewaktu di warung kopi bersama teman. Di pinggir pantai sambil menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu serta ditemani segelas kopi hangat. Peristiwa ngopi itu memberi saya ide. Saya mencoba menulis puisi malam itu. Saya ketik di handphone dengan suasana hening. Tak lama berselang, beberapa menit satu puisi selesai saya tulis dengan judul "Kopi Hening". Saya posting lagi puisi itu di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca sekitar 210 mata yang melihat.
Saya merasa bangga, tapi tidak puas. Suatu siang saya iseng-iseng buka facebook. Saya sudah lama tidak membukanya. Kali pertama saya melihat beranda facebook saya, seorang teman menandai saya tentang perlombaan antologi puisi bertema "Hutan". Saya menumbuhkan niat dan membulatkan tekad untuk mengikuti perlombaan itu. Saya membuat puisi bertema "Hutan".
Ya, saya masih ingat puisi saya waktu itu berjudul "Kembalikan Paru-Paruku". Saya kirim puisi itu pada penerbit tesebut dengan alamat email yang sudah tertera pada persyaratan perlombaan. Dengan mengucap kata bismillah saya mengirimkannya. Tinggal menunggu pengumuman kontributor yang lolos naskahnya. Pada persyaratan, naskah yang akan diambil hanya 100 karya terbaik saja. Cukup sedikit bagi saya. 
Dua minggu berlalu. Pada tanggal 18 oktober karya itu diumumkan. Ada pesan masuk di kotak email saya. Pesannya cukup panjang. Tapi saya langsung membaca bagian tengah, tulisan yang bercetak tebal. "Selamat naskah Anda dinyatakan lolos sebagai kontributor dalam antologi puisi nusantara bertema Hutan". Saya tidak percaya waktu itu. Sungguh ini kado terindah bagi saya. Dari 1000 lebih naskah puisi dari berbagai penjuru Indonesia, ternyata naskah saya lolos sebagai kontributor. Mungkin ini adalah petunjuk dari tuhan untuk saya. Supaya terus merasakan kepahitan menulis seperti yang dirasakan Set wahedi dalam esainya, bahwa " Menulis Itu Pahit".