Minggu, 01 September 2013

Sejarah Kutukan Kaum “ET”

Oleh: Salamet Wahedi*

Lengsengnya Soeharto dan Orde Baru, menandai babak baru sejarah negara-bangsa Indonesia. Berbagai misteri dan kemelut (penulisan) sejarah mulai disingkap. Terutama tentang para Tahanan Politik Gerakan 30 September (Tapol G-30 S). Penelusuran tentang nasib, jejak, perlakuan diskriminasi, hingga pada pembantaian orang-orang yang diduga terlibat dengan G-30S, seolah menjadi ‘topik-hangat’ dalam ingatan kolektif negara-bangsa ini. Palu Arit Di Ladang Tebu: Sejarah Pembantai Massal Yang terlupakan (1965-1966) yang terbit tahun 2000, bercerita tentang pembantaian yang cukup tragik. Para buruh pabrik gula (loji), yang tak tahu-menahu tentang G-30S , diciduk dan dibantai.

Buku karya Hermawan Sulistiyo, ini memaparkan kebringasan pemerintah Orde Baru, mempropaganda masyarakat untuk ‘membersihkan’ orang-orang bekas PKI. Padahal, orang-orang yang dituduh atheis tersebut, merupakan kaum yang ber-KTP dengan agama yang jelas: Islam. Bahkan tidak jarang, orang-orang itu diciduk dalam keadaan melakukan ritual agamanya.

Penelusuran tentang nasib dan cerita pilu para tapol terus dilakukan. Ini mengingat, selain hak-hak mereka ‘dihilangkan’, mereka juga mendapatkan perlakuan diskriminasi dan pengasingan sepanjang keturunan. Gerwani, kisah Tapol Wanita di Kamp Palntungan, ini mengungkapkan cerita-cerita tragis yang dialami para tapol wanita. Seperti kita tahu, pasca peristiwa 30 september 1965, Gerwani sebagai onderbouw PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Konsekuensinya, para aktivisnya pun , tidak lepas dari target proyek bersih-bersih yang dicanangkan Presiden Soeharto.

Cerita dan jejak berliku para tapol wanita, -sejak ditetapkannya mereka sebagai buron hingga drama hidup mereka di Kamp ‘pengasingan’ Plantungan- ini merupakan lanskap berbeda membaca sejarah. Kalau selama ini sejarah selalu ditulis dan dibaca dari wajah pemenang, buku ini menyuguhkan sebaliknya. Sejarah bukan sekadar menampilkan catatan ‘perjalanan’. Tapi ia mesti menghadirkan satu rekaman utuh peristiwa dari berbagai sisi.

Terlebih pengalaman para aktivis Gerwani selama menjadi tapol, menjadi satu catatan memilukan tentang kejamnya rezim Orde Baru. Mereka tidak hanya dipaksa mengakui apa yang tidak pernah mereka ketahui dan lakukan. Tapi mereka juga diperlakukan seperti hewan. Di ruang interogasi, kerap kali mereka ditelanjangi. Kemaluan mereka disulut dengan puntung rokok. Kulit mereka begitu akrab dengan rotan. Bahkan dengan dalih mencari ‘gambar identitas’ Gerwani, para aparat sering menggerayangi tubuh mereka.

Para tapol wanita ini tidak hanya mengalami kekerasan fisik. Mental mereka pun, mulai dilumpuhkan. Pengasingan ke Kamp Plantungan tidak hanya membuat para tapol wanita ini merasa sebagai orang-orang pesakitan. Tapi mereka mulai putus asa. Mereka seolah tak punya harapan di masa depan lagi. Kamp Plantungan seolah-olah hanya tempat singgah sebelum menuju rumah abadi (:kuburan).

Hal lain yang perlu digarisbawahi oleh kita semua, tidak semua tapol wanita ini ditangkap karena benar-benar terlibat dengan Gerwani Onderbouw PKI. Ada sebagian di antara tapol ini dijebloskan karena salang tangkap. Ada yang dijebloskan karena menjadi jaminan. Seperti yang dituturkan C.H. Sumarmiyati. Dia ditangkap karena aktif di berbagai kegiatan kesenian, suka menari, membaca puisi dan membaca buku.

Selama di Kamp Plantungan, para tapol wanita menjalani kehidupan suram dan gairah setengah-hidup. Suram karena mereka berhadapan dengan dunia terkucil. Dunia di mana proses hukum mereka tidak jelas; aktivitas ‘berbau’ politik, misal baca koran, dilarang; Tempat tinggal tak layak huni; sampai stigma miring sebagai pembunuh para jenderal. Semua itu membuat para tapol tak bisa apa-apa. Merasa hanya pasrah dengan nasib. Di dunia pengasingan ini pula, tak jarang pelecehan seksual terjadi. Beberapa tapol wanita muda yang beranjak dewasa dipaksa jadi ‘gundik’ para komandan. Bahkan di antara ‘gundik’ itu ada yang hamil.

Sedangkan gairah setengah-hidup itu timbul, ketika masyarakat di sekitar Kamp Plantungan mulai menerima mereka. Dr. sumiyarsi dan teman perawat lainnya, untuk menangani persoalan kesehatan sesama tapol membuka poliklinik. Kemudian poliklinik dengan peralatan seadanya ini juga menerima pasien dari masyarakat setempat. Selain biayanya murah, dokter tapol wanita ini dikenal mujarab. Sehingga lambat laun, para tapol wanita dan masyarakat mulai bisa berinteraksi dan saling berbagi. Bahkan, setelah terbangun komunikasi, hubungan pun berlanjut pada hal–hal lainnya. Pada kesempatan tertentu, para tapol wanita ini berbagi keahlian yang mereka kuasai, semisal mengajari anak-anak masyarakat Plantungan menari, menyanyi. Satu waktu kadang mereka ikut andil dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat. Pun sebaliknya, masyarakat mulai bersimpati. Mereka mulai mengirimi para tapol wanita dengan hasil pertanian atau makanan yang tidak terdapat dalam Kamp Plantungan. Tapi interaksi itu tetap dalam pengawasan dan sesnor yang ketat.

Kenestapaan yang dialami para tapol wanita ini, tidak hanya terjadi di dalam penjara. Setelah bebas pun, ‘kutukan’ pengasingan terus berlanjut. Kode “ET” (Eks Tapol) di dalam KTP mereka, memberikan satu hukuman yang menyakitkan: kehilangan hak-hak politik, pengasingan dalam bermasyarakat, dan pelarangan jadi ABRI, Pegawai Negeri Sipil, dan pegawai perusahaan vital lainnya.

Kebijakan diskriminasi Orde Baru ini memaksa mereka melakukan siasat yang tak kalah nestapanya: mengganti identitas, mengubah status anak, hingga strategi ekonomi pinggiran.

Maka, penelusuran jejak dan cerita para Tapol wanita dalam buku ini, menjadi satu catatan penting bagi perjalanan negara-bangsa ini ke depan. Kecelakaan sejarah kemanusiaan yang pernah menimpa para tapol ini, hendaknya jadi pelajaran berharga. Yang terpenting, rekonsiliasi dan pengembalian nama baik dan hak-hak mereka sebagai warga negara merupakan langkah besar untuk menjadi negara-bangsa yang bermartabat.

Judul Buku                  : Gerwani Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan
Penulis                         : Amurwani Dwi Lestariningsih
Penerbit                       : Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit                : September 2011
Tebal                           : xxvii + 300 Halaman; 14 cm x 21 cm
ISBN                           :978-979-709-602-1

*Mahasiswa S2 FIB-UGM Jogja, Alumni Ponpest. Mathali’ul Anwar Sumenep, Periset Madoera Boekoe