Siapa
yang tidak suka mendengar dongeng atau mendengar cerita proses seseorang untuk
mencapai keberhasilan? Mendongeng merupakan hal yang asyik. Karena dengan
mendongeng, kita dapat mengubah cara berpikir seseorang. Selain itu juga kita dapat
memotivasi.
Orang
yang belum terbiasa mendongeng akan bingung apabila diminta mendongeng. Padahal
mendongeng merupakan kebiasaan kita setiap harinya. Setiap hari kita
berbincang-bincang pada semua orang. Berbicara dari A hingga Z tanpa ada
hentinya. Tapi tetap saja ketika diminta untuk mendongeng, badan kita akan terasa
panas dingin.
Hal
tersebut mengenai biasa tidaknya berbicara di depan umum. Tetapi mendongeng
tidaklah harus berbicara di depan umum. Setiap orang kelak akan menjadi orang
tua dari anak-anaknya, dan beberapa ada yang merupakan kakak dari adik-adiknya.
Mendongeng dapat dilakukan kepada anak sendiri ataupun adik. Apabila kita adalah
seorang guru, kita dapat mendongeng kepada murid kita.
Kita
perlu terbiasa mendongeng dan mencari bahan bacaan untuk materi mendongeng,
sehingga kita memunyai cukup cerita untuk disampaikan. Inilah manfaat dari buku
“Ayo.. Mendongeng” karya Muhammad
Abdul Latif. Buku itu, sangat mengispirasi, dengan isi cerita yang cukup
beragam. Melalui judulnya kita akan tertarik untuk membaca, karena warna warni.
Hanya saja buku “Ayo.. Mendongeng”
lebih terlihat untuk bacaan anak-anak, karena penuh dengan warna, dan gambar. Karena
itu, anak-anak akan lebih tertarik melihatnya. Memang mendongeng identik dengan
anak-anak sehingga desainnya juga diseuaikan dengan apa yang disenangi
anak-anak. Jika benar ditujukan sebagai bahan bacaan anak-anak, agaknya terlalu
rapat tulisannya. Namun apabila buku ini diperuntukkan orang dewasa sebagai
pembaca, agaknya terlalu ramai gambar yang ada.
Pertama
kali saya melihat buku “Ayo..
Mendongeng”, saya tertarik dengan sampulnya. Pada sampul depan terdapat
gambar tangan dengan media mendongeng boneka tangan. Hal tersebut membuat saya
berpikiran akan juga menemukan media-media yang tepat untuk digunakan
mendongeng. Ketika membaca bukunya saya tidak menemukannya. Dan juga ketika
belajar mendongeng, terkadang masih bingung dengan gaya yang baik dan cocok
untuk menodongeng. Masih bingung untuk menggunakan kostum yang cocok, atau
bahasa yang sesuai dengan pendengar. Bagi pemula masih ingin mengetahui apa-apa
saja yang baik, yang sesuai, dan yang disenangi oleh pendengar/penonton.
Sehingga dapat menjadi pembelajaran dan membantu untuk perayaan diri ketika
mendongeng.
Pemahaman
tentang mendongeng juga hampir mirip dengan monolog, sehingga perlu penjelasan
lebih lanjut mengenai mendongeng. Bagi pembaca dewasa, memerlukan hal yang
demikian, melihat merekalah yang mendongeng.
Dengan
mendongeng, guru akan dicintai oleh muridnya, dengan mendongeng orang tua akan
dekat dengan anaknya, dan dengan mendongeng persaudaraan akan semakin akrab. Memang
benar adanya jika dengan mendengar kisah perjalanan seseorang yang
menginspirasi, secara tidak sadar, hati akan ikut tergerak untuk mengikuti apa
yang sudah dilakukannya. Sering jika mendengar sesuatu yang membuat terharu
karena sikap dan perilakunya, hati terasa tertusuk dan akhirnya meneteskan air
mata. Itu merupakan bukti dengan mendongeng akan dapat memotivasi dan mengubah
pikiran seseorang. Untuk mencapai hal tersebut, perlu penyampaian yang sesuai
untuk menunjang materi yang ada. Apabila hanya ada bahan untuk mendongeng,
namun gaya dalam penyampaian tidak sesuai atau hanya datar-datar saja, makna
dan maksud yang hendak disampaikan hanya terbuang sia-sia.
Bahasa
yang dikuasai oleh anak-anak berbeda dengan bahasa yang dikuasai oleh orang
dewasa. Bahasa orang dewasa sedikit lebih rumit dan ilmiah. Berbeda dengan
anak-anak yang dalam cakupan penguasaan bahasa masih tergolong sedikit. Selain
itu, bahasa yang digunakan anak-anak lebih biasa dan lebih santai. Sehingga
perlu adanya penjelasan bahasa untuk mendongeng, dan hal tersebut tidak saya
temukan dalam buku “Ayo.. Mendongeng”.
Biasanya
dalam media cetakan seperti buku, menggunakan font yang berkaki. Font berkaki
misalnya adalah Times New Roman.
Karena dianggap akan lebih mudah untuk membaca dan terkesan tidak terlalu rapat
ketika membaca. Demikian ketika saya membaca buku “Ayo.. Mendongeng” ini. Saya merasa tulisannya rapat, sehingga
terkadang sedikit jenuh untuk membacanya. Hal tersebut dapat berpengaruh
apabila para pembacanya adalah anak-anak yang sedang belajar membaca.
Materi
yang disajikan sangat beragam. Mulai dari kisah sahabat nabi, kisah keseharian,
dan cerita fiksi yang disukai oleh anak-anak. Sehingga dengan materi yang
demikian, para pembaca dapat menerapkan dengan mudah materi yang ada ketika
mendongeng. Selain itu materi dapat disesuaikan dengan situasi yang ada. Dari
sekian banyak materi, ada materi yang terasa menggantung. Ketika membaca terasa
mengganjal. Merasa kurang puas setelah membaca ceritanya dari awal hingga
akhir. Serasa cerita belum selesai, dipaksa untuk selesai. Misalnya saja cerita
“Si Amin”. Pada cerita itu saya merasa cerita dipotong, dan dikagetkan oleh
Amin kecil yang tiba-tiba mejadi dewasa dan sukses, tanpa tahu apa yang sudah
dilakukannya hingga dapat menjadi sukses. Bagian pembuka dan bagian penutup
terasa kurang sesuai.






