Kamis, 10 Maret 2016

Menulislah Dengan Hati dan Penuh Dedikasi

Oleh Fathur Rahman*

Melihat sampul utama bertuliskan “Aufa, Menulis Itu Pahit” sebuah kumpulan esai karya penulis asal Sumenep, ini memberikan kesan baru bagi saya. Ya, saya sendiri belum pernah membaca sebuah kumpulan esai. Biasanya saya membaca esai melalu situs-situs tertentu. Beda penulis beda pula cara penyajiannya, entah apakah saya sendiri yang merasakan membaca seperti mendengarkan langsung dari mulut penulis atau mungking para pembaca lainnya juga merasakan hal yang sama? Entahlah.

Ciri khas penulis yang apa adanya, namun begitu teliti dalam menempatkan diksi dan menyusunnya hingga terbentuk kalimat-kalimat yang begitu tertata dan “sangat” mudah dimengerti. Tak seperti esai yang pernah saya baca sebelumnya, terkadang saya harus mengulang beberapa bagian yang memang memerlukan pemikiran lebih. Eits, bukan berarti kumpulan esai ini tak berbobot. Andai saya memiliki jempul lebih dari dua, saya akan memberikan semuanya kepada penulis.

Pesan-pesan penting tersampaikan begitu mudah, dengan pelbagai bumbu penyusunan kalimat yang begitu apik. Ada hal lain yang begitu spesial, penulis juga tak sembarang menulis. Beliau juga memakai beberapa buku yang menjadi rujukan, dan itu membuat buku ini tampak lebih meyakinkan dan berbeda dengan yang lainnya.

Ada beberapa bagian yang membuat saya tak henti-hentinya menampakkan senyum dengan deretan gigi yang tak dapat saya lihat dengan indera penglihatan saya sendiri. “Doktor Hafalan”, “Kamran”, dan “Sajuri dan 33 Tokoh Sastra Indonesia” adalah bagian-bagian yang mulai menarik rasa ingin tahu saya, rasa penasaran, dan rasa ingin menyelesaikan bacaan hingga akhir. Penulis tak lupa menyelipkan beberapa diksi dan susunan kalimat yang membuat bibir memaksa untuk membuka diri, dan tak bisa menahan tawa. Begitu rapih dengan pelbagai pesan yang begitu tertancap dipikiran.  

Kelebihan lain yang begitu saya sukai dari buku ini adalah, penulis mencantumkan beberapa quote atau penggalan kalimat para pesohor tanah air. Seperti penggalan kalimat mendiang presiden pertama Indonesia di halaman 52 dan banyak lagi di halaman lainnya. Pada akhir bagian, kita akan disuguhkan penjelasan sajak “Aku” yang menegaskan identitas generasi bangsa, dan ini menambah daftar isi pengetahuan di memori otak saya.

Cuma itu? Tentu Tidak! Cara penulis menyampaikan isi dengan penganalogian objek. Ya, saya suka sekali cara beliau menganalogikan beberapa bagian sehingga tersampaikan dengan sempurna dan tentunya dapat dimengerti oleh semua kalangan. Coba kita lihat halaman 41 baris paling awal “kelak, jika kau menulis, menulislah dengan hati dan penuh dedikasi, agar karya-karyamu menemukan ‘arti’. Kau jangan menulis karena ingin dimuat di koran ya?”. Ya, pesan yang tak pernah saya temukan dan tak pernah saya dengar dari seorang penulis. Intinya, menulislah dengan hati dan penuh dedikasi.

Ada lagi, cara penulis menyangkut-pautkan antara ilmu satu dan ilmu yang lainnya, begitu apik dijelaskan pada bagian “Emrete dan Capres Kita”. Ya, bagian ini sangat berkesan bagi saya. Jujur, saya sudah khatam yang namanya Imriti, namun tak pernah memikirkan apa yang telah dipikirkan oleh penulis. Geleng kepala, itu saja yang dapat saya lakukan.

Berbicara kekurangan, tak semua hal di dunia ini yang sempurna. Apalagi, buku ini juga buatan seorang hamba. Ada beberapa bagian yang menurut saya mengurangi ke khusukan dalam membaca buku ini. Ya, editing yang mungkin terlewat atau terselip. Coba kita lihat halaman 4, baris ke-4 dari bawah. Hal 7, paragraf ke-2 baris 4. Halaman 13, paragraf ke-2. Spasi antar kata yang memecah sementara konsentrasi membaca. Okay, everything are cool. Saya rekomendasikan buku ini untuk semua kalangan, karena semua isi disusun dengan diksi yang sederhana namun mengena.

Judul                 : Aufa, Menulis Itu Pahit
Penulis             : Set Wahedi
Tahun Terbit  : Desember, 2015
Penerbit           : Paelan


Tebal                 : v + 66 halaman

*Fathur Rahman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura. 

(tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.tabloidpendidikan.com/seni-dan-budaya/menulislah-dengan-hati-dan-penuh-dedikasi-dalam-aufa-menulis-itu-pahit)