Lewat buku “Aufa, Menulis
Itu Pahit”, Set Wahedi lahir sebagai anak kecil yang bicara tanpa aling-aling,
bertanya, mengkritik, bahkan berteriak semaunya. Tanpa merasa takut ketika
berhadapan dengan siapapun. Entah pejabat, kyai, serta penguasa tiran sekalipun. Logika anak
kecil sangat sederhana, menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Begitulah
sikap Set dalam buku ini, yang memuat sembilan esai yang ditulis dari rentang
tahun 2010-2014. Esai yang sudah dimuat di beberapa media masa ini, sarat
dengan nada kritik pedas pada persoalan sosial, budaya, teknologi, sastra (:seni),
politik, juga realitas yang cenderung memaksa manusia untuk tidak merdeka dari
dunianya.
Keadaan telah
memaksa Set untuk dirasa perlu bersuara, ingin melakukan perubahan dari dunia yang
semakin carut-marut, jenuh, kotor, menuju ke dunia yang penuh makna. Bagaimana
pun idealnya, perubahan tidak akan pernah datang dari langit. Karena dunia,
utamanya Indonesia, tidak akan pernah mengalami suatu puncak kebermaknaan, jika
hanya berada dalam kungkungan sejarah. Tanpa harus menjelaskan detail, bangsa
Indonesia sudah mengalami rentetan sejarah yang gemilang sekaligus mencekam.
Sehingga, tanpa sadar dalam memaknai cenderung sepihak tanpa mengolah dan
menciptakan kreativitas baru untuk menjadi bangsa yang gemilang.
“Alangkah
baiknya, untuk sekadar melupakan yang teringat, kita kembali membolak-balik
kitab ramalan. Bukan karena apa, di kitab ramalan kita tidak akan mengalami
lupa atau ingat, apalagi ingin berkuasa. Sebab semakin kita ‘mengingat’ semakin
banyak ruang-ruang kosong yang semestinya kita isi dengan golak perlawanan. Apalagi
para elit politik hari ini semakin gencar berakrobat: ada yang blusukan ke
pasar-pasar rakyat; ada yang menggelar buka bersama; ada yang getol bersuara
biarkan hukum memproses.” (hal. 10)
Kisah Unik Penuh
Makna
Hal yang paling
penting dalam buku ini, Set menggiring persoalan yang pelik dan rumit menjadi
sederhana. Melalui kisah Kamran, Sajuri, persoalan yang membutuhkan dahi
berkerut menjadi sederhana dan utuh. Tampak cerita keseharian yang di tangan orang banyak hanya kisah murahan, di tangan Set benar-benar penuh makna.
Dari sembilan
esai yang ditulisnya, Set benar-benar menggiring kita memasuki wilayah yang sebenarnya kita temui setiap hari. Akan tetapi, kita
tidak sadar kalau kisah itu penuh makna dan mampu membuat kita terperangah. Setelah
membaca esai dalam buku, secara tiba-tiba kita akan tersadar bahwa kisah hari kemarin menjadi
semacam kredo besar pada hari ini, dan sampai kapanpun. Tak heran, jika tokoh
Sajuri disandingkan dengan Abu Nawas. Melalui tokoh Sajuri, kritik Set
ditujukan pada polemik buku “33 Tokoh Sastra Berpengaruh”; persoalan yang sempat menyeruak di tahun
2014, dan sampai kini persoalan tersebut belum selesai.
Sedang melalui
kisah Kamran, Set menggambarkan
lika-liku nasib seorang teman yang lugu,
polos, dan ndeso. Pada suatu ketika, Kamran menjadi seseorang yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
Pertemuan dengan dunia “modern” telah merubahnya menjadi seorang yang luar biasa berubah,
baik cara sikap, bicara, pergaulannya. Tidak seperti dulu lagi. Hal ini
menandakan bahwa keadaan mampu membuat seseorang tidak merdeka dari keadaan
lingkungannya.
Banyak kisah
masa lalu, kini, menjadi sorotan kritikan Set. Kisah sederhana yang murahan
menjadi penuh makna dan merasa cukup untuk dijadikan tolak ukur dalam membaca
keadaan Indonesia yang semakin kalang kabut.
Perlunya Idealitas
dan Aktualitas
Perubahan tidak
cukup untuk diwacanakan saja. Pernyataan Bung Karno: “Beri aku sepuluh pemuda,
akan kuguncang dunia.” Pernyataan tersebut bukan suatu kebetulan, melainkan
pergolakan besar dalam melakukan perubahan berada di tangan pemuda. Tidak
heran, jika Bung Karno menginginkan pemuda menjadi label dari semangat
zamannya.
Dari pernyataan
Bung Karno, ada dua hal yang dapat ditangkap: idealitas dan aktualitas. Karena,
kedua persoalan menjadi penting untuk selalu disandingkan. Satu sama lain dapat
memberikan arti, sehingga idealitas tanpa aktualitas, ada yang kurang dan juga
sebaliknya. “Selanjutnya, dari generasi muda-generasi muda seperti inilah diharapkan
lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu mengarahkan gerbong Negara-Bangsa
Indonesia ke arah yang lebih cerah; pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas
dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan, dicontoh dan dijadikan
panutan sepanjang sejarah.” (Hal. 65).
Melalui buku
ini, Set ingin mengajak pemuda untuk berperan dan menemukan eksistensi
ke-aku-annya. Bukan berarti sebagai anak kecil yang tahu mengkritik dan bicara
semaunya, Set memberikan solusi dalam setiap persoalan. Dalam buku ini,
tesa-antitesis-sintesa dapat kita temui. Hanya saja, Set terlalu idealis dalam
menyandingkan tokoh keseharian dengan beberapa pernyataan kutipan yang dari
beberapa tokoh besar yang sebenarnya mengganggu.
Judul : Aufa, Menulis Itu Pahit
(Kumpulan Esai)
Penulis : Set Wahedi
Tahun Terbit : Desember, 2015
Penerbit : Paelan
Tebal : v + 66 halaman
*
Khairi Esa Anwar, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
(Tulisan ini dimuat di Radar Madura, Minggu 10 April 2016 )