"Aufa, Menulis itu
pahit " seperti itulah pesan yang tersirat dalam buku
kumpulan esai
Set Wahedi, penulis muda asal Sumenep. Kata-kata itu
seperti
“mendoktrin” otak saya untuk
merasakan kepahitan menulis; seperti minum kopi
tanpa seduhan gula. Semakin pahit, semakin nikmat.
Mula-mula saya tidak
suka dengan membaca-menulis. Meski saya kuliah
di Prodi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca-menulis
tetaplah dunia asing. Entahlah niat untuk
membaca-menulis
itu seperti tidak terbersit dalam diri saya. Tapi sejak membaca
kumpulan esai Set Wahedi, saya merasakan gejolak.
Kepala saya seperti
dihantam batu yang keras.
Kumpulan esai Set
Wahedi menuntun saya untuk menumbuhkan semangat membaca-menulis. Saya merasa
malu dengan diri saya sendiri. Saya buang jauh kemalasan itu.
Saya merasakan gejolak itu semakin membuncah. Saya mulai suka membaca
di semeseter 3. Sejak kenal dengannya,
Set
Wahedi memotivasi saya untuk membaca dan terus
membaca. Tak peduli apapun yang saya baca. Yang penting saya baca.
Mula-mula saya membaca
cerpen karya Seno Gumira Adjidarma di website. Ternyata, karyanya
semakin
menggunggah semangat saya untuk terus membaca. Terus menikmati kesenangan yang
mulai terbiasa. Akhirnya saya merasakan kegelisahan hati
sendiri. Sehari tidak membaca rasanya ada yang berbeda. Entahlah rasa itu
muncul secara tiba-tiba di benak saya. Kebiasaan membaca sepertinya sudah
tertanam di otak saya. Rasanya tangan ini mulai gatal, pikiran seperti
berteriak-teriak sendiri di kepala. Selang beberapa waktu, saya mulai belajar
menulis.
Kali pertama, saya
menulis cerpen berjudul "Embun Pagi". Tiba-tiba imajinasi saya
menjerit-jerit. Cerpen itu bercerita seorang laki-laki yang sedang
jatuh cinta pada gadis cantik yang bekerja di cafe. Tapi laki-laki itu takut
mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, dirinya hanya seorang pemulung.
Semakin lama kegilaan saya dalam membaca semakin menggebu-gebu. Cerpen
pertama saya, saya muat di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang
membaca karya saya. Banyak yang suka. Sekitar 325 mata yang
membaca karya saya. Saya merasa bangga pada hari itu meskipun karya yang saya
buat, tidak di muat di media.
Saya menulis sebatas
kesenangan saja, awalnya. Tapi akhir-akhir ini saya semakin semangat untuk
berkarya. Iseng-iseng saya membuat puisi sewaktu di warung kopi
bersama teman. Di pinggir pantai sambil menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu
serta ditemani segelas kopi hangat. Peristiwa ngopi
itu memberi saya
ide.
Saya
mencoba
menulis puisi malam itu. Saya ketik di handphone
dengan suasana hening. Tak lama berselang, beberapa menit satu
puisi selesai saya tulis dengan judul "Kopi Hening". Saya posting lagi
puisi
itu
di
blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca sekitar 210 mata yang melihat.
Saya merasa bangga, tapi tidak puas. Suatu
siang saya iseng-iseng buka facebook.
Saya
sudah lama
tidak membukanya. Kali pertama saya melihat beranda facebook saya, seorang teman menandai saya tentang perlombaan antologi
puisi bertema "Hutan". Saya menumbuhkan niat dan membulatkan tekad
untuk mengikuti perlombaan itu. Saya membuat puisi
bertema "Hutan".
Ya, saya masih ingat
puisi saya waktu itu berjudul "Kembalikan Paru-Paruku". Saya kirim
puisi itu pada penerbit tesebut dengan alamat email yang sudah tertera pada
persyaratan perlombaan. Dengan mengucap kata “bismillah” saya mengirimkannya.
Tinggal
menunggu pengumuman kontributor yang lolos naskahnya. Pada persyaratan, naskah
yang akan diambil hanya 100 karya terbaik saja. Cukup sedikit bagi saya.
Dua minggu
berlalu. Pada tanggal 18 oktober karya itu diumumkan. Ada
pesan masuk di kotak email saya. Pesannya cukup panjang. Tapi saya langsung
membaca bagian tengah, tulisan yang bercetak tebal. "Selamat naskah Anda dinyatakan
lolos sebagai kontributor dalam antologi puisi nusantara bertema Hutan".
Saya tidak percaya waktu itu. Sungguh ini kado terindah bagi saya. Dari 1000
lebih naskah puisi dari berbagai penjuru Indonesia,
ternyata naskah saya lolos sebagai kontributor. Mungkin ini adalah petunjuk
dari tuhan untuk saya. Supaya terus merasakan “kepahitan”
menulis seperti yang dirasakan Set wahedi dalam esainya, bahwa
" Menulis Itu Pahit".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar