Rabu, 08 Februari 2017

Kado Terindah dari Tuhan


Oleh Kuswanto Ferdian

"Aufa, Menulis itu pahit " seperti itulah pesan yang tersirat dalam buku kumpulan esai Set Wahedi, penulis muda asal Sumenep. Kata-kata itu seperti mendoktrin otak saya untuk merasakan kepahitan menulis; seperti minum kopi tanpa seduhan gula. Semakin pahit, semakin nikmat.
Mula-mula saya tidak suka dengan membaca-menulis. Meski saya kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca-menulis tetaplah dunia asing. Entahlah niat untuk membaca-menulis itu seperti tidak terbersit dalam diri saya. Tapi sejak membaca kumpulan esai Set Wahedi, saya merasakan gejolak. Kepala saya seperti dihantam batu yang keras.
Kumpulan esai Set Wahedi menuntun saya untuk menumbuhkan semangat membaca-menulis. Saya merasa malu dengan diri saya sendiri. Saya buang jauh kemalasan itu. Saya merasakan gejolak itu semakin membuncah. Saya mulai suka membaca di semeseter 3. Sejak kenal dengannya, Set Wahedi memotivasi saya untuk membaca dan terus membaca. Tak peduli apapun yang saya baca. Yang penting saya baca.
Mula-mula saya membaca cerpen karya Seno Gumira Adjidarma di website. Ternyata, karyanya semakin menggunggah semangat saya untuk terus membaca. Terus menikmati kesenangan yang mulai terbiasa. Akhirnya saya merasakan kegelisahan hati sendiri. Sehari tidak membaca rasanya ada yang berbeda. Entahlah rasa itu muncul secara tiba-tiba di benak saya. Kebiasaan membaca sepertinya sudah tertanam di otak saya. Rasanya tangan ini mulai gatal, pikiran seperti berteriak-teriak sendiri di kepala. Selang beberapa waktu, saya mulai belajar menulis.
Kali pertama, saya menulis cerpen berjudul "Embun Pagi". Tiba-tiba imajinasi saya menjerit-jerit. Cerpen itu bercerita seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta pada gadis cantik yang bekerja di cafe. Tapi laki-laki itu takut mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, dirinya hanya seorang pemulung. Semakin lama kegilaan saya dalam membaca semakin menggebu-gebu. Cerpen pertama saya, saya muat di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca karya saya. Banyak yang suka. Sekitar 325 mata yang membaca karya saya. Saya merasa bangga pada hari itu meskipun karya yang saya buat, tidak di muat di media.
Saya menulis sebatas kesenangan saja, awalnya. Tapi akhir-akhir ini saya semakin semangat untuk berkarya. Iseng-iseng saya membuat puisi sewaktu di warung kopi bersama teman. Di pinggir pantai sambil menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu serta ditemani segelas kopi hangat. Peristiwa ngopi itu memberi saya ide. Saya mencoba menulis puisi malam itu. Saya ketik di handphone dengan suasana hening. Tak lama berselang, beberapa menit satu puisi selesai saya tulis dengan judul "Kopi Hening". Saya posting lagi puisi itu di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca sekitar 210 mata yang melihat.
Saya merasa bangga, tapi tidak puas. Suatu siang saya iseng-iseng buka facebook. Saya sudah lama tidak membukanya. Kali pertama saya melihat beranda facebook saya, seorang teman menandai saya tentang perlombaan antologi puisi bertema "Hutan". Saya menumbuhkan niat dan membulatkan tekad untuk mengikuti perlombaan itu. Saya membuat puisi bertema "Hutan".
Ya, saya masih ingat puisi saya waktu itu berjudul "Kembalikan Paru-Paruku". Saya kirim puisi itu pada penerbit tesebut dengan alamat email yang sudah tertera pada persyaratan perlombaan. Dengan mengucap kata bismillah saya mengirimkannya. Tinggal menunggu pengumuman kontributor yang lolos naskahnya. Pada persyaratan, naskah yang akan diambil hanya 100 karya terbaik saja. Cukup sedikit bagi saya. 
Dua minggu berlalu. Pada tanggal 18 oktober karya itu diumumkan. Ada pesan masuk di kotak email saya. Pesannya cukup panjang. Tapi saya langsung membaca bagian tengah, tulisan yang bercetak tebal. "Selamat naskah Anda dinyatakan lolos sebagai kontributor dalam antologi puisi nusantara bertema Hutan". Saya tidak percaya waktu itu. Sungguh ini kado terindah bagi saya. Dari 1000 lebih naskah puisi dari berbagai penjuru Indonesia, ternyata naskah saya lolos sebagai kontributor. Mungkin ini adalah petunjuk dari tuhan untuk saya. Supaya terus merasakan kepahitan menulis seperti yang dirasakan Set wahedi dalam esainya, bahwa " Menulis Itu Pahit".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar