Oleh Afif “Che” Arifin
"Don’t judge the book by the cover”
Pepatah ini menyiratkan agar kita tidak menilai orang
dari penampilannya. Bolehkah Anda tidak setuju?
Sangat boleh. Apalagi pada buku. Coba Anda bayangkan.
Besok pagi adalah acara spesial Anda karena akan menghadiri acara pertunangan
Anda dengan calon yang sangat Anda cintai. Apa yang pertama akan Anda
perhatikan agar tidak mengecewakannya? Penampilan! Dan di dalam ilmu sosial
penampilan dikenal dengan labelling; sebuah pencitraan yang tercipta
melalui penampilan luar seseorang di mata orang lain. Dalam industri makanan
dikenal dengan kemasan. Makanya sampai ada jurusan desain produksi.
Jika Anda ingin mengetahui isi sebuah buku dengan
benar sebelum membelinya maka Anda harus tidak setuju. Saya pun begitu.
Jadi, mari kita buang dulu kata don’t-nya.
Anda pasti tahu, buku adalah nutrisi otak yang tidak
hanya berakibat jangka panjang. Namun Anda juga harus tahu kalau ternyata buku
adalah sebuah pergumulan sengit dalam hal angka-angka bisnis. Anda ragu? Lihat
saja dari cover. Anda bisa buktikan itu dengan tagline-tagline yang disematkan,
semisal: kata “best-seller”, money-back guarantee (jaminan uang
kembali), edisi revisi, sebuah kalimat penjelas seperti “penulis buku
best-seller ABDC dan XYZ”, atau juga testimoni seseorang/lembaga yang memiliki
otoritas tertentu. Bahkan terkesan ugal-ugalan. Semua itu untuk satu titik
ujung: menukarnya dengan uang dan waktu Anda.
Hati-hati Anda menentukan buku yang akan dibaca karena
you are what you read. Menentukan suatu buku untuk dibaca berarti Anda
sudah memastikan asupan gizi yang akan masuk pada dendrit otak Anda. Dan
sebagai calon pembeli dan pembacanya tentu Anda ingin mengetahui sekelebat
jeroan buku tersebut agar tidak mengecewakan komputer canggih yang terletak 5
cm di bawah rambut Anda. Kita mulai.
Judul Buku
Mungkin Anda bilang, ya iyalah judulnya. Anda benar.
Tapi tunggu dulu. Anda tahu karya Rhonda Byrne yang judulnya bikin penasaran
dan booming di mana-mana? Judulnya The Secret (rahasia). Siapa yang
tidak ingin tahu rahasia jika itu bermanfaat dan memancing minat? Dan ini
kuncinya. Seberapa berbobot olah kata dalam judul itu mewakili seluruh isi buku
dan pasti memantik minat baca Anda. Pendeknya, judul itu soal seni meracik kata
yang tepat untuk menggambarkan apa yang bisa pembeli dapat agar menarik minat.
Kenapa pembeli? Kembali ke hitung-hitungan bisnis seperti yang saya singgung di
atas. Kenapa harus menarik minat? Lihat lagi judul the secret.
Saya ingin bercerita pada Anda. Ketika memasuki sebuah
toko buku satu tahun lalu, di sebuah rak terpampang buku dengan desain simpel
dan judul pun super simpel hanya dua huruf. Judul buku terpendek yang pernah
saya temui. Penasaran, saya ambil. Ah, terbungkus. Kalau saya sobek bungkusnya
berarti saya harus beli. Apa yang kemudian saya lakukan? Saya langsung
membaliknya ke bagian ...
Sinopsis
Di sisi belakang cover tertulis penjelasan singkat dan
manfaat yang akan saya peroleh jika membeli buku tersebut. Saya mulai tertarik.
Sejenak, saya mendapat kesimpulan awal bahwa buku yang akan saya beli adalah
buku ‘montok’, plus dengan tuntunan teknis yang mengisi kemontokannya itu,
katanya.
Sampai di sini Anda sudah mendapatkan gambaran buku
melalui pendekatan ini. Dan selanjutnya ini yang bisa Anda lakukan lebih
jauh untuk menemukan isi buku. Jika kebetulan ada yang sudah terbuka bungkusnya
maka langsung saja ke bagian...
Daftar Isi
Di sana Anda akan dibawa lebih mendalam mengenai isi
buku. Lihatlah poin-poin tertentu dari awal bab hingga bagian terakhir. Adakah
yang cocok isi buku dengan keinginan Anda.
Tambahan untuk Anda yang ini: lihat juga adakah profil
penulisnya. Jika ada, baca juga. Ini juga memberikan jaminan apakah Anda sedang
menimang-nimang buku yang ditelurkan oleh penulis yang memiliki jam terbang
tinggi terkait bukunya atau buku yang hanya mencicipi pangsa pasar dan “asal
dapur mengepul”. Jangan sampai Anda mengalami kecewa seperti saya karena dulu
ceroboh membeli buku yang ternyata hanya berisi kompilasi dari internet. Saya
terkecoh oleh desain dan judul. Di dunia perkutu-bukuan, buku prematur demikian
itu dikenal dengan istilah ‘buku sampah’ dan hanya ‘menyesaki’ rak buku.
Anda masih ingin mengetahui cara lain mengetahui isi
buku dengan sekali tebas saja? Buka saja bagian ...
Kata Pengantar
Ini cara terakhir yang saya terapkan agar tidak
berlama-lama di toko buku dan tidak sampai dilirik pemiliknya terus menerus.
Hemat waktu, tentunya. Tapi sekali lagi ini untuk buku yang disediakan memang
tanpa bungkus. Melalui bagian ini Anda juga bisa mengetahui lebih jauh apa dan
bagaimana buku itu dihidangkan. Biasanya, buku yang ditulis dengan ciamik akan
berisi pemaparan singkat bagian detil tubuh buku sehingga Anda tidak sedang
memasuki sebuah ruangan kosong kedap suara dan gelap. Selanjutnya setelah
membaca kata pengantar, keputusan ada di tangan Anda.
Jika Anda merasa belum cukup mengobati rasa penasaran
mengenai sebuah buku cobalah googling dan pantau seberapa bergizi buku itu di
mata pembaca yang lain. Ini akan menjamin Anda untuk menilai secara autentik ‘booming’
buku itu.
Yang lebih ampuh adalah jika Anda menemukan diskusi,
komentar, pandangan dan sebagainya di forum-forum media sosial. Di sanalah
suara asli pembacanya tanpa ada ‘pesanan’ penerbit maupun penulisnya. Saya pun
begitu.
Sampai di sini, Anda sudah memiliki gambaran jelas
ketika akan membeli buku dengan cara melihat retorika judulnya, deretan
kalimat-kalimat sinopsisnya, susunan daftar isinya dan pemaparan kata
pengantarnya serta googling di forum socmed.
Bonus untuk Anda. Lihat testimoninya bila ada. Itu
lumayan menjamin lho untuk kualitas buku. Apalagi dari media sosial, itu
aslinya testimoni.
Apakah Anda atau teman Anda punya pengalaman berbeda
ketika berburu buku? Adakah cara yang lebih jitu yang mungkin untuk diterapkan
sebelum membeli buku?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar