Kamis, 20 Maret 2014

Perhatian Untuk Pemburu Buku

Oleh Afif “Che” Arifin

"Don’t judge the book by the cover” 

Pepatah ini menyiratkan agar kita tidak menilai orang dari penampilannya. Bolehkah Anda tidak setuju? 

Sangat boleh. Apalagi pada buku. Coba Anda bayangkan. Besok pagi adalah acara spesial Anda karena akan menghadiri acara pertunangan Anda dengan calon yang sangat Anda cintai. Apa yang pertama akan Anda perhatikan agar tidak mengecewakannya? Penampilan! Dan di dalam ilmu sosial penampilan dikenal dengan labelling; sebuah pencitraan yang tercipta melalui penampilan luar seseorang di mata orang lain. Dalam industri makanan dikenal dengan kemasan. Makanya sampai ada jurusan desain produksi.

Jika Anda ingin mengetahui isi sebuah buku dengan benar sebelum membelinya maka Anda harus tidak setuju. Saya pun begitu. Jadi, mari kita buang dulu kata don’t-nya.

Anda pasti tahu, buku adalah nutrisi otak yang tidak hanya berakibat jangka panjang. Namun Anda juga harus tahu kalau ternyata buku adalah sebuah pergumulan sengit dalam hal angka-angka bisnis. Anda ragu? Lihat saja dari cover. Anda bisa buktikan itu dengan tagline-tagline yang disematkan, semisal: kata “best-seller”, money-back guarantee (jaminan uang kembali), edisi revisi, sebuah kalimat penjelas seperti “penulis buku best-seller ABDC dan XYZ”, atau juga testimoni seseorang/lembaga yang memiliki otoritas tertentu. Bahkan terkesan ugal-ugalan. Semua itu untuk satu titik ujung: menukarnya dengan uang dan waktu Anda.

Hati-hati Anda menentukan buku yang akan dibaca karena you are what you read. Menentukan suatu buku untuk dibaca berarti Anda sudah memastikan asupan gizi yang akan masuk pada dendrit otak Anda. Dan sebagai calon pembeli dan pembacanya tentu Anda ingin mengetahui sekelebat jeroan buku tersebut agar tidak mengecewakan komputer canggih yang terletak 5 cm di bawah rambut Anda. Kita mulai.

Judul Buku

Mungkin Anda bilang, ya iyalah judulnya. Anda benar. Tapi tunggu dulu. Anda tahu karya Rhonda Byrne yang judulnya bikin penasaran dan booming di mana-mana? Judulnya The Secret (rahasia). Siapa yang tidak ingin tahu rahasia jika itu bermanfaat dan memancing minat? Dan ini kuncinya. Seberapa berbobot olah kata dalam judul itu mewakili seluruh isi buku dan pasti memantik minat baca Anda. Pendeknya, judul itu soal seni meracik kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang bisa pembeli dapat agar menarik minat. Kenapa pembeli? Kembali ke hitung-hitungan bisnis seperti yang saya singgung di atas. Kenapa harus menarik minat? Lihat lagi judul the secret.

Saya ingin bercerita pada Anda. Ketika memasuki sebuah toko buku satu tahun lalu, di sebuah rak terpampang buku dengan desain simpel dan judul pun super simpel hanya dua huruf. Judul buku terpendek yang pernah saya temui. Penasaran, saya ambil. Ah, terbungkus. Kalau saya sobek bungkusnya berarti saya harus beli. Apa yang kemudian saya lakukan? Saya langsung membaliknya ke bagian ...

Sinopsis

Di sisi belakang cover tertulis penjelasan singkat dan manfaat yang akan saya peroleh jika membeli buku tersebut. Saya mulai tertarik. Sejenak, saya mendapat kesimpulan awal bahwa buku yang akan saya beli adalah buku ‘montok’, plus dengan tuntunan teknis yang mengisi kemontokannya itu, katanya.

Sampai di sini Anda sudah mendapatkan gambaran buku melalui pendekatan ini. Dan selanjutnya ini yang bisa Anda lakukan lebih jauh untuk menemukan isi buku. Jika kebetulan ada yang sudah terbuka bungkusnya maka langsung saja ke bagian...

Daftar Isi

Di sana Anda akan dibawa lebih mendalam mengenai isi buku. Lihatlah poin-poin tertentu dari awal bab hingga bagian terakhir. Adakah yang cocok isi buku dengan keinginan Anda.

Tambahan untuk Anda yang ini: lihat juga adakah profil penulisnya. Jika ada, baca juga. Ini juga memberikan jaminan apakah Anda sedang menimang-nimang buku yang ditelurkan oleh penulis yang memiliki jam terbang tinggi terkait bukunya atau buku yang hanya mencicipi pangsa pasar dan “asal dapur mengepul”. Jangan sampai Anda mengalami kecewa seperti saya karena dulu ceroboh membeli buku yang ternyata hanya berisi kompilasi dari internet. Saya terkecoh oleh desain dan judul. Di dunia perkutu-bukuan, buku prematur demikian itu dikenal dengan istilah ‘buku sampah’ dan hanya ‘menyesaki’ rak buku.

Anda masih ingin mengetahui cara lain mengetahui isi buku dengan sekali tebas saja? Buka saja bagian ...

Kata Pengantar

Ini cara terakhir yang saya terapkan agar tidak berlama-lama di toko buku dan tidak sampai dilirik pemiliknya terus menerus. Hemat waktu, tentunya. Tapi sekali lagi ini untuk buku yang disediakan memang tanpa bungkus. Melalui bagian ini Anda juga bisa mengetahui lebih jauh apa dan bagaimana buku itu dihidangkan. Biasanya, buku yang ditulis dengan ciamik akan berisi pemaparan singkat bagian detil tubuh buku sehingga Anda tidak sedang memasuki sebuah ruangan kosong kedap suara dan gelap. Selanjutnya setelah membaca kata pengantar, keputusan ada di tangan Anda.

Jika Anda merasa belum cukup mengobati rasa penasaran mengenai sebuah buku cobalah googling dan pantau seberapa bergizi buku itu di mata pembaca yang lain. Ini akan menjamin Anda untuk menilai secara autentik ‘booming’ buku itu.

Yang lebih ampuh adalah jika Anda menemukan diskusi, komentar, pandangan dan sebagainya di forum-forum media sosial. Di sanalah suara asli pembacanya tanpa ada ‘pesanan’ penerbit maupun penulisnya. Saya pun begitu.

Sampai di sini, Anda sudah memiliki gambaran jelas ketika akan membeli buku dengan cara melihat retorika judulnya, deretan kalimat-kalimat sinopsisnya, susunan daftar isinya dan pemaparan kata pengantarnya serta googling di forum socmed.

Bonus untuk Anda. Lihat testimoninya bila ada. Itu lumayan menjamin lho untuk kualitas buku. Apalagi dari media sosial, itu aslinya testimoni.


Apakah Anda atau teman Anda punya pengalaman berbeda ketika berburu buku? Adakah cara yang lebih jitu yang mungkin untuk diterapkan sebelum membeli buku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar