![]() |
| indeksbuku/putra-piliang.blogspot.com |
Oleh Diana AV Sasa
‘Ah, emang pohon bisa nyoblos di
TPS?’
Para politisi kerap melontar kalimat ini sebagai bahan canda. Menyindir
maraknya wajah-wajah kandidat memamerkan diri pada pohon tepi jalan jelang pemilihan umum. Wajah-wajah cantik, tampan, lucu, aneh, dan
cenderung seragam itu berlomba mencuri perhatian khalayak. Memajang wajah-wajah
kandidat dalam spanduk, banner, dan
baliho adalah strategi yang diterapkan mulai tingkat pemilihan kepala desa,
bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan sampai presiden. Saking banyak dan
kerapnya justru menimbulkan kesan sumpeg dan semrawut. Sampai Komisi Pemilihan
Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu
pun menerbitkan aturan khusus pemilihan anggota legislative 2014 untuk mengatur
pembatasan intensitas pamer wajah itu. PKPU
No.15 tahun 2013 mengatur para kandidat anggota dewan tak lagi bisa seenaknya
pamer wajah di tepi jalan.
Bagi kandidat yang berpikir linier tentang cara sosialisasi diri
kepada pemilih, pembatasan ini bisa dianggap pemasungan. Mereka yang terlanjur
memacak dalam benaknnya bahwa kalau mau sosoknya dikenal ya mesti pasang wajah di tempat umum
sebanyak-banyaknya, selama mungkin, dan sesering mungkin wajahnya dilihat, dihafal
orang lewat. Meski belum tentu mereka memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS).
Minimal popularitas naik. Sedikit diantara para politisi itu yang terpikir
untuk beralih pada buku sebagai alat sosialisasi. Berbagai alasan pun
terlontar; terlalu intelek, takut dibuang, tidak dibaca, tidak tahan lama,
tidak efektif, tak cocok untuk pemilih di desa, dan sebagainya.
Baiklah,berikut ini bukti bagimana buku tak bisa dikesampingkan
sebagai alat sosialisasi. Mari memanjangkan ingatan, kita tengok tradisi awal Partai Komunis
Indonesia (PKI) berdiri. Semasa itu buku adalah alat propaganda dan pengkaderan
handal bagi partai. Pembelajaran pada kader
tentang teori penopang jiwa partai, program, dan visi partai memerlukan
media yang bisa dipahami oleh kader di level terendah. Dan,buku menjadi pilihan
utama bagi PKI.
Poestaka Ketjil Marxis, nama proyek ini, umumnya menerbitkan buku
berukuran mungil, 10,5 x 14 cm, tipis saja antara 20-100 halaman. Berisi teori
dan panduan. Juga agitasi propaganda untuk memperjuangkan nasib petani, buruh,
kaum miskin. Buku disebar hingga kader terbawah partai. PKI meluaskan
gerakannya dengan mendirikan Jajasan Pembaruan pada Mei 1951 di Jakarta. Ini
adalah sebuah lembaga penerbitan yang menjadi “mesin ilmiah” partai. Rata-rata
menerbitkan 1 judul sepekan. Tahun pertama: Rentjana Konstitusi PKI, Djalan
Baru Untuk Republik Indonesia, Pengantar Ekonomi Politik Marxis, Dimitrov
Menggugat Fasisme, Tentang Ajaran2 dan Perjuangan Karl Marx,
dan Bintang Merah (Jurnal). Penulis yang pernah diterbitkan tulisannya pun
tak tanggung-tanggung: Ir. Sukarno, Njoto, Sudisman, Ir. Sakirman, Joebaar
Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Utuy
Tatang Sontani, Dhalia, Sobron Aidit, dan lain-lain.
PKI juga memiliki Biro Penerjemahan CC PKI yang diawasi langsung
Ketua Aidit. Umumnya yang diterjemahkan adalah tulisan pemimpin kiri dunia,
seperti Stalin, Mao Zedong, Maurice Thorez (Perancis), Paul de Groot (Belanda),
Ajoy Gosch (India), dan lain-lain. Selain itu Bintang Merah sering memuat
terjemahan sajak-sajak progresif maupun tulisan dari/tentang pengarang terkenal
karya sastra dunia seperti Ilya Erenburg, Maxim Gorki, Martin Carter, Ho Chi
Minh, dan sebagainya . Badan Penerbitan Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan
(Lekra)- organ yang secara ideologis sejalan dengan PKI (baca Lekra tak Membakar Buku tentang posisi
Lekra-PKI ini) didirikan tahun 1960 di Jakarta. Terbitan pertamanya adalah 4
buku puisi Sahabat (Agam Wispi), Pulang Bertempur (Sobron Aidit), Bukit 1211
(Rumambi, Sudisman, dan FL Risakotta), dan Lagu Manusia (Nikola Vaptsarov –
diterjemahkan Risakotta, Agam Wispi, Walujadi Toer, dan Bintang Suradi).
Setelah 2 tahun sudah menerbitkan 30 buku diantaranya karya sastra (pengarang
Indonesia) 47%, 30 % terjemahan, 16% karya-karya musik, dan 7% ilmu. Hasilnya,
pada pemilu 1955, PKI berhasil masuk 4 besar dengan perolehan 39 kursi atau
setara dengan 16,36 %.
Medio buku sebagai alat penyebaran wacana dan profil partai ini
pernah dilakukan pula oleh salah satu peserta pemilu 1999, Partai Keadilan
(PK). Semasa itu, PK mencetak buku saku dan terdistribusi hingga di desa-desa
dimana kelompok pengajian mereka berada. Ada 6 buku ukuran saku yang sempat
penulis dokumentasikan. Masing-masing berisi tak lebih dari 30 halaman. Ada buku
sejarah berdirinya partai, arti lambang dan semboyan partai, AD/ART dan cara
menjadi anggota, program prioritas partai, 10 alasan mengapa memilih PK, dan
profil ketua umum partai. Masih ada bonus buku memo kecil yang berisi beberapa
doa harian dan halaman kosong yang bisa ditulisi.
Dengan buku saku, mereka memasuki ruang pribadi setiap pemilik hak
suara. Langsung menyerang pikiran. Maka kelihaian menata kata dan kalimat
menjadi kunci penting bagaimana mempengaruhi pembacanya. Buku saku PK tidak
dibuat asal-asalan. Mereka perhitungkan betul tata letak, kalimat, ilustrasi,
dan alur berpikir pembacanya. Pada ruas ini, PK percaya bahwa buku membawa
mereka pada keberhasilan mempengaruhi pikiran. Hasilnya, dalam waktu yang relatif singkat PKS
dapat masuk 5 besar pada pemilu 2009. Bahkan perolehan suara antara tahun 1999
ke 2004, melonjak hingga 600%.
Terdekat, pada pemilihan gubernur Jawa Timur Agustus lalu, ada
kandidat yang menggunakan buku sebagai alat sosialisasi. Adalah Bambang DH,
calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan menggunakan buku biografi Bambang DH Mengubah Surabaya anggitan
Ridho Saiful Ashadi untuk mengenalkan dirinya ke kalangan pemilih
terdidik. Selain itu, ia gunakan pula
buku saku berisi profil dirinya dan pasangan cawagubnya, MH Said Abdullah.
Sayangnya buku saku ini kurang digarap maksimal hingga kurang menarik dibaca. Meski
kemudian Bambang-Said ini kalah dalam pertarungannya, namun mereka menunjukkan
bagaimana menggunakan cara-cara yang mendidik dan tidak konvensional untuk
sosialisasi.
Jika ingin merujuk agak jauh, lihatlah Michael Sessions yang
menjadi wali kota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat, pada usia 18 tahun. Ia
mengalahkan rivalnya, Douglas Ingles, 51 tahun, bekas wali kota sebelumnya yang
seusia bapaknya, dengan ''hanya'' bermodalkan uang 700 ribu rupiah. Yang
sehari-hari dilakukannya adalah mengetuk setiap pintu saat senggang sekolah dan
memberi kado berupa buku-buku kecil yang harganya tak seberapa. Dengan
keyakinan itu, Michael berhasil mencuri
hati pemilihnya.
PKI, PK, Bambang DH, Michael barangkali hanya sedikit dari sekian
banyak kandidat pemilu yang memiliki kesadaran pentingnya buku sebagai alat
sosialisasi. Jika calon pemimpin di negeri ini peduli tentang pendidikan
pemilih, maka mereka tak akan sekedar mengelabuhi pemilih dengan memajang
wajah-wajah manis. Pendidikan politik dimulai dengan mengenalkan sosok yang
akan dipilih dengan cara-cara yang mencerdaskan. Jadi, wahai para kandidat,
lupakan banner, buatlah bukumu dan perkenalkan dirimu pada pemilihmu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar