Sabtu, 08 Maret 2014

Jejak Obama

Oleh Set Wahedi

Orang-orang besar tidak hanya mereka yang dicatat sejarah. Orang-orang besar juga mereka yang mampu menunjukkan jati diri dan menjadi inspirasi. Kata-kata ini pantas kita simpulkan dari sosok Barack Obama. Presiden ke-44 ini tidak hanya menyita perhatian beribu pasang mata di setiap penjuru dunia, tapi sepakterjangnya di panggung politik Negara adidaya tersebut menjadi sumber inspirasi perubahan. Bahkan di pundak sosok yang kalem nan tegas itu, beribu mimpi bangkit dari liang kelamnya. Beribu harapan coba direnda kembali.

Ya Obama telah mampu membangkitkan dunia untuk berkata “Yes We Can”. Ya kita bisa. Perubahan itu bisa kita lakukan. Negara Amerika yang berwajah Drakula bisa kita dudukkan memandang kuasa langit. Beristigfar untuk menjelmakan diri sebagai malaikat.

Kemunculan Obama di pentas politik menuju kursi AS 1, sejak pertarungan sengitnya dengan mantan first lady Amerika Hillary Clinton, hingga duel menentukan dengan McCain, menjadi titik perhatian dunia. Semua orang di segala penjuru dunia tidak hanya ternganga dengan pidatonya yang membangkitkan gairah dan semangat. Tapi sosoknya yang berlatar belakang klas ‘marginal’ kulit hitam afro-asia sekaligus Amerika, seolah memang diidamkan untuk mencatatkan sejarahnya sendiri.

Tidak dapat dielakkan lagi, kemenangannya pun disambut gegap gempita penjuru dunia. Tidak hanya rakyat Amerika yang bersorak-sorai. Masyarakat Kenya, ranah muasal kakek Obama, juga dengan euforia dan histeria yang memuncak turun ke jalan-jalan untuk menarikan kemenangan Obama.

Begitu pun di Indonesia, tempat Obama menghabiskan masa kecilnya. Terutama masyarakat Menteng Jakarta, yang menyimpan jejak Obama kecil. Tidak mau ketinggalan, Bali pulau penuh kenangan dan sejarah orang-orang besar yang pernah disinggahi Obama juga ikut merayakan kemenangannya.

Bahkan perayaan Obama di Bali tidak hanya sekadar euforia fisik semata. Tapi kemenangan Obama pun menginspirasi seorang Nurinwa Ki S. Hendrowinoto untuk merayakan kemenangan Obama dalam dunia ‘metafisik’ karya sastra.

Lewat novel “Pesta Obama di Bali”, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, hendak memercakapkan sosok Obama yang benar-benar membangkitkan gairah dan semangat manusia untuk tidak berhenti berharap pada suara langit.

Novel ini bercerita tentang perayaan kemenangan Obama dengan upacara tari Legong Bali. Persiapan pesta obama inilah yang menjadi muasal percakapan peristiwa dibangun. Seperti diceritakan Nyi Legong penari terkenal, yang telah lama memutuskan untuk tidak menari pada akhirnya luluh menelan ‘ludah’ sumpahnya. Ritual-ritual persiapan pun dilakukan. Ziarah tapak tilas jejak Ann Dunham, Ibu Obama merupakan ritual pembuka serangkaian upacara menghikmati jejak Obama di Indonesai. Cerita ini semakin menarik dengan terlibatnya dan kehadiran berbagai elemen masyarakat yang ikt andil dalam pesta Obama di Bali ini: Mahasiswa, seniman, profesor, ditambah jenderal Amerika. Selain suguhan realitas ‘nyata’, jalan cerita dalam novel ini juga dibumbui mistis ala Bali, kasus hadiah ‘benda’ seks yang mengguncang jagad dunia, serta dialog untuk memaknai sakralitas ‘semu tafsir’ agama di negeri ini.

Kehadiran novel ini di tengah satirnya kerinduan akan perubahan dunia di pundak Obama, seolah mengajak bangsa Indonesia merenungkan dirinya. Kemenangan Obama hendaknya ditangkap sebagai suara langit yang mesti kita amini dengan siap-sedia melakukan perubahan, kita mesti menangkap isyarat ini sebagai kehendak yang kuasa. Kita mesti melihat keberpihakan langit dalam memenangkan Obama sebagai presiden Amerika  ke-44, itu juga pertanda keberpihakan langit kepada dunia yang banyak manusianya tertindas (hal. 30).

Dan Indonesia merupakan dunia yang banyak manusianya tertindas. Tidak hanya itu, Obama yang diharapkan mengubah wajah Amerika, hendaknya juga menginspirasi bangsa ini untuk tidak berhenti berharap, mudah-mudahan free port, perusahaan tambang emas di Papua mengubah rakyat yang memakai koteka menjadi seperti Obama, misalnya. Dengan kata lain, perayaan kemenangan Obama dengan tapak tilas jejaknya di Indonesia, diharapkan menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk meneriakkan “We need change”, “Yes We Can”!

Perubahan bagi bangsa ini, yang terkungkung oleh 'mitos intelektual' generasi LSM yang menjual kemiskinan bangsa dan mengemis di luar negeri, yang terbelenggu 'dogma' politik yang menyebabkan kita buta apresiasi terhadap prestasi anak negeri semisal minimnya penghargaan terhadap karya besar Pramoedya, merupakan hal yang urgen untuk kita lakukan. Sikap perubahan ini pun mesti dijelentrehkan seperti Nyi Legong, tokoh utama novel ini, memutuskan untuk menelan ludah sumpahnya, untuk menari lagi demi sosok pembawa deru perubahan Obama (hal 13).

Sosok dan sikap Nyi Legong ini untuk menari lagi, secara implisit menyodorkan sebuah tawaran bagi bangsa ini untuk lebih terbuka. Tarian Nyi Legong ini merupakan ajakan untuk menemukan spirit perubahan. Hal ini dapat kita tangkap dari sikap 'mitos' Nyi Legong yang luluh oleh sosok besar pembawa angin perubahan, Barack Obama. Dengan kata lain, bangsa Indonesia sudah saatnya menanggalkan segala mitosnya: takhayul, paternalistik, pandum nrima yang buta, juga ketakmampuannya memberikan pilihan bagi hidupnya, meminjam kata-kata Mochtar Lubis dalam esai "Manusia Indonesia".

Novel ini pun tidak luput dan lupa untuk mengingatkan kita akan berbagai kecelakaan sejarah yang pernah dan mencekam negeri ini, namun tenggelam dan kabur di buku sejarah. Yang semua hal itu sudah saatnya untuk diungkap dan diselesaikan serta menjadi pelajaran bangsa ini menatap masa depan. Kekejian dan kebiadaban sebuah bangsa dalam medan laga adalah biasa. Namun pembantaian sebuah bangsa oleh bangsanya sendiri adalah sungguh di luar nalar kekejian biasa itu. 

Tidak hanya hal-hal serius yang diangkat Nurinwa, persoalan BH, celana dalam, tuhan, dan persoalan agama kita pun disentilnya. Kita diajak untuk merenungi, memikirkan dan mendialogkan segala peristiwa dan kejadian di sekitar kita. Bahkan hal yang sepele, seperti hilangnya BH dan celana dalam Nyi Legong ternyata bisa berbuntut panjang ke gedung putih dan membakar jenggot pemuka agama.  Seperti komentar Melani Budianta di sampul belakang novel ini, di sinilah urakannya seorang Nurinwa yang tidak sungkan-sungkan menyajikan renungan hidup yang tidak mengawang. Tetapi lewat fragmen-fragmen liar nan nakal ini, Nurinwa hendak memupus kepicikan pola pikir bangsa ini dari tradisi feodalisme, menerima kemajemukan lebih terbuka, dan mengedepankan dialog serta pemikiran yang cerdas dalam menyelesaikan masalah.

Secara keseluruhan, dengan bahasa yang estetis, lugas, jauh dari kesan bertele-tele novel ini pantas untuk dijadikan konsumsi. Pola pikir liar nan banal ala Nurinwa yang urakan, yang terselip lewat kata-kata para tokohnya mengajak kita semua menatap langit kita yang sekian lama murung dan bermendung, dengan optimisme "Yes We Can" ala Obama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar