Rabu, 14 Juni 2017

Cara Mendongeng yang Hampa

Oleh Dewi Kurniawati*

Siapa yang tidak suka mendengar dongeng atau mendengar cerita proses seseorang untuk mencapai keberhasilan? Mendongeng merupakan hal yang asyik. Karena dengan mendongeng, kita dapat mengubah cara berpikir seseorang. Selain itu juga kita dapat memotivasi.

Orang yang belum terbiasa mendongeng akan bingung apabila diminta mendongeng. Padahal mendongeng merupakan kebiasaan kita setiap harinya. Setiap hari kita berbincang-bincang pada semua orang. Berbicara dari A hingga Z tanpa ada hentinya. Tapi tetap saja ketika diminta untuk mendongeng, badan kita akan terasa panas dingin.

Hal tersebut mengenai biasa tidaknya berbicara di depan umum. Tetapi mendongeng tidaklah harus berbicara di depan umum. Setiap orang kelak akan menjadi orang tua dari anak-anaknya, dan beberapa ada yang merupakan kakak dari adik-adiknya. Mendongeng dapat dilakukan kepada anak sendiri ataupun adik. Apabila kita adalah seorang guru, kita dapat mendongeng kepada murid kita.

Kita perlu terbiasa mendongeng dan mencari bahan bacaan untuk materi mendongeng, sehingga kita memunyai cukup cerita untuk disampaikan. Inilah manfaat dari buku “Ayo.. Mendongeng” karya Muhammad Abdul Latif. Buku itu, sangat mengispirasi, dengan isi cerita yang cukup beragam. Melalui judulnya kita akan tertarik untuk membaca, karena warna warni. Hanya saja buku “Ayo.. Mendongeng” lebih terlihat untuk bacaan anak-anak, karena penuh dengan warna, dan gambar. Karena itu, anak-anak akan lebih tertarik melihatnya. Memang mendongeng identik dengan anak-anak sehingga desainnya juga diseuaikan dengan apa yang disenangi anak-anak. Jika benar ditujukan sebagai bahan bacaan anak-anak, agaknya terlalu rapat tulisannya. Namun apabila buku ini diperuntukkan orang dewasa sebagai pembaca, agaknya terlalu ramai gambar yang ada.

Pertama kali saya melihat buku “Ayo.. Mendongeng”, saya tertarik dengan sampulnya. Pada sampul depan terdapat gambar tangan dengan media mendongeng boneka tangan. Hal tersebut membuat saya berpikiran akan juga menemukan media-media yang tepat untuk digunakan mendongeng. Ketika membaca bukunya saya tidak menemukannya. Dan juga ketika belajar mendongeng, terkadang masih bingung dengan gaya yang baik dan cocok untuk menodongeng. Masih bingung untuk menggunakan kostum yang cocok, atau bahasa yang sesuai dengan pendengar. Bagi pemula masih ingin mengetahui apa-apa saja yang baik, yang sesuai, dan yang disenangi oleh pendengar/penonton. Sehingga dapat menjadi pembelajaran dan membantu untuk perayaan diri ketika mendongeng.

Pemahaman tentang mendongeng juga hampir mirip dengan monolog, sehingga perlu penjelasan lebih lanjut mengenai mendongeng. Bagi pembaca dewasa, memerlukan hal yang demikian, melihat merekalah yang mendongeng.

Dengan mendongeng, guru akan dicintai oleh muridnya, dengan mendongeng orang tua akan dekat dengan anaknya, dan dengan mendongeng persaudaraan akan semakin akrab. Memang benar adanya jika dengan mendengar kisah perjalanan seseorang yang menginspirasi, secara tidak sadar, hati akan ikut tergerak untuk mengikuti apa yang sudah dilakukannya. Sering jika mendengar sesuatu yang membuat terharu karena sikap dan perilakunya, hati terasa tertusuk dan akhirnya meneteskan air mata. Itu merupakan bukti dengan mendongeng akan dapat memotivasi dan mengubah pikiran seseorang. Untuk mencapai hal tersebut, perlu penyampaian yang sesuai untuk menunjang materi yang ada. Apabila hanya ada bahan untuk mendongeng, namun gaya dalam penyampaian tidak sesuai atau hanya datar-datar saja, makna dan maksud yang hendak disampaikan hanya terbuang sia-sia.

Bahasa yang dikuasai oleh anak-anak berbeda dengan bahasa yang dikuasai oleh orang dewasa. Bahasa orang dewasa sedikit lebih rumit dan ilmiah. Berbeda dengan anak-anak yang dalam cakupan penguasaan bahasa masih tergolong sedikit. Selain itu, bahasa yang digunakan anak-anak lebih biasa dan lebih santai. Sehingga perlu adanya penjelasan bahasa untuk mendongeng, dan hal tersebut tidak saya temukan dalam buku “Ayo.. Mendongeng”.

Biasanya dalam media cetakan seperti buku, menggunakan font yang berkaki. Font berkaki misalnya adalah Times New Roman. Karena dianggap akan lebih mudah untuk membaca dan terkesan tidak terlalu rapat ketika membaca. Demikian ketika saya membaca buku “Ayo.. Mendongeng” ini. Saya merasa tulisannya rapat, sehingga terkadang sedikit jenuh untuk membacanya. Hal tersebut dapat berpengaruh apabila para pembacanya adalah anak-anak yang sedang belajar membaca.

Materi yang disajikan sangat beragam. Mulai dari kisah sahabat nabi, kisah keseharian, dan cerita fiksi yang disukai oleh anak-anak. Sehingga dengan materi yang demikian, para pembaca dapat menerapkan dengan mudah materi yang ada ketika mendongeng. Selain itu materi dapat disesuaikan dengan situasi yang ada. Dari sekian banyak materi, ada materi yang terasa menggantung. Ketika membaca terasa mengganjal. Merasa kurang puas setelah membaca ceritanya dari awal hingga akhir. Serasa cerita belum selesai, dipaksa untuk selesai. Misalnya saja cerita “Si Amin”. Pada cerita itu saya merasa cerita dipotong, dan dikagetkan oleh Amin kecil yang tiba-tiba mejadi dewasa dan sukses, tanpa tahu apa yang sudah dilakukannya hingga dapat menjadi sukses. Bagian pembuka dan bagian penutup terasa kurang sesuai. 

Dewi Kurniawati, mahasiswa angkatan 2015 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura

Rabu, 08 Februari 2017

Kado Terindah dari Tuhan


Oleh Kuswanto Ferdian

"Aufa, Menulis itu pahit " seperti itulah pesan yang tersirat dalam buku kumpulan esai Set Wahedi, penulis muda asal Sumenep. Kata-kata itu seperti mendoktrin otak saya untuk merasakan kepahitan menulis; seperti minum kopi tanpa seduhan gula. Semakin pahit, semakin nikmat.
Mula-mula saya tidak suka dengan membaca-menulis. Meski saya kuliah di Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, membaca-menulis tetaplah dunia asing. Entahlah niat untuk membaca-menulis itu seperti tidak terbersit dalam diri saya. Tapi sejak membaca kumpulan esai Set Wahedi, saya merasakan gejolak. Kepala saya seperti dihantam batu yang keras.
Kumpulan esai Set Wahedi menuntun saya untuk menumbuhkan semangat membaca-menulis. Saya merasa malu dengan diri saya sendiri. Saya buang jauh kemalasan itu. Saya merasakan gejolak itu semakin membuncah. Saya mulai suka membaca di semeseter 3. Sejak kenal dengannya, Set Wahedi memotivasi saya untuk membaca dan terus membaca. Tak peduli apapun yang saya baca. Yang penting saya baca.
Mula-mula saya membaca cerpen karya Seno Gumira Adjidarma di website. Ternyata, karyanya semakin menggunggah semangat saya untuk terus membaca. Terus menikmati kesenangan yang mulai terbiasa. Akhirnya saya merasakan kegelisahan hati sendiri. Sehari tidak membaca rasanya ada yang berbeda. Entahlah rasa itu muncul secara tiba-tiba di benak saya. Kebiasaan membaca sepertinya sudah tertanam di otak saya. Rasanya tangan ini mulai gatal, pikiran seperti berteriak-teriak sendiri di kepala. Selang beberapa waktu, saya mulai belajar menulis.
Kali pertama, saya menulis cerpen berjudul "Embun Pagi". Tiba-tiba imajinasi saya menjerit-jerit. Cerpen itu bercerita seorang laki-laki yang sedang jatuh cinta pada gadis cantik yang bekerja di cafe. Tapi laki-laki itu takut mengungkapkan perasaannya. Ia sadar, dirinya hanya seorang pemulung. Semakin lama kegilaan saya dalam membaca semakin menggebu-gebu. Cerpen pertama saya, saya muat di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca karya saya. Banyak yang suka. Sekitar 325 mata yang membaca karya saya. Saya merasa bangga pada hari itu meskipun karya yang saya buat, tidak di muat di media.
Saya menulis sebatas kesenangan saja, awalnya. Tapi akhir-akhir ini saya semakin semangat untuk berkarya. Iseng-iseng saya membuat puisi sewaktu di warung kopi bersama teman. Di pinggir pantai sambil menikmati kerlap-kerlip cahaya lampu serta ditemani segelas kopi hangat. Peristiwa ngopi itu memberi saya ide. Saya mencoba menulis puisi malam itu. Saya ketik di handphone dengan suasana hening. Tak lama berselang, beberapa menit satu puisi selesai saya tulis dengan judul "Kopi Hening". Saya posting lagi puisi itu di blog pribadi saya. Ternyata banyak yang membaca sekitar 210 mata yang melihat.
Saya merasa bangga, tapi tidak puas. Suatu siang saya iseng-iseng buka facebook. Saya sudah lama tidak membukanya. Kali pertama saya melihat beranda facebook saya, seorang teman menandai saya tentang perlombaan antologi puisi bertema "Hutan". Saya menumbuhkan niat dan membulatkan tekad untuk mengikuti perlombaan itu. Saya membuat puisi bertema "Hutan".
Ya, saya masih ingat puisi saya waktu itu berjudul "Kembalikan Paru-Paruku". Saya kirim puisi itu pada penerbit tesebut dengan alamat email yang sudah tertera pada persyaratan perlombaan. Dengan mengucap kata bismillah saya mengirimkannya. Tinggal menunggu pengumuman kontributor yang lolos naskahnya. Pada persyaratan, naskah yang akan diambil hanya 100 karya terbaik saja. Cukup sedikit bagi saya. 
Dua minggu berlalu. Pada tanggal 18 oktober karya itu diumumkan. Ada pesan masuk di kotak email saya. Pesannya cukup panjang. Tapi saya langsung membaca bagian tengah, tulisan yang bercetak tebal. "Selamat naskah Anda dinyatakan lolos sebagai kontributor dalam antologi puisi nusantara bertema Hutan". Saya tidak percaya waktu itu. Sungguh ini kado terindah bagi saya. Dari 1000 lebih naskah puisi dari berbagai penjuru Indonesia, ternyata naskah saya lolos sebagai kontributor. Mungkin ini adalah petunjuk dari tuhan untuk saya. Supaya terus merasakan kepahitan menulis seperti yang dirasakan Set wahedi dalam esainya, bahwa " Menulis Itu Pahit".

Sabtu, 16 Juli 2016

Cinta, Musik dan Agama

Judul          : Fazan
Penulis       : Yudhi AW
Penerbit    : Lingkaran
Cetakan     : Pertama, 2016
Tebal         : 212 halaman
ISBN           : 978-602-73998-0-8
Peresensi : Zahrul Fadhi Johan

Niat memang banyak menentukan hasil akhir, namun tidak semua niat yang “salah” akan berujung pada hasil yang “salah” pula. Para tokoh dalam novel ini menjadi gambaran bahwa proses pendidikan yang tepat bisa merubah niat seseorang yang salah menjadi benar, bahkan bisa membawa pada hasil yang berkualitas.

Novel ini juga memberi inspirasi tentang cara mendidik remaja dari latar belakang yang kurang baik agar menjadi pribadi yang lurus sesuai kaidah norma dan ajaran agama. Dan musik menjadi sarana dalam mengajarkan kedisiplinan, ketekunan, toleransi, dan jiwa besar bagi para remaja yang bermasalah tersebut.

Berlatar kehidupan di pesantren, novel ini memberi gambaran bahwa lembaga pendidikan agama tersebut bukanlah tempat yang eksklusif dan kaku, sebagaimana citra yang terbentuk atas beberapa pesantren di tanah air selama ini. Kisah dalam novel ini membuka cakrawala kita bahwa pesantren harusnya menebar kedamaian dan kenyamanan, juga bisa menjadi tempat yang ramah bagi para remaja yang ingin menjadi baik sesuai kapasitas mereka sebagai anak muda yang membutuhkan ruang untuk berekspresi.

Sebagaimana remaja pada umumnya, para santri juga mendambakan keindahan cinta dengan lawan jenis. Novel ini menawarkan gaya percintaan yang santun sesuai adab kesopanan namun tetap menguras emosi romantisme, mengajak pembaca membayangkan kehidupan remaja yang gaul namun bermartabat.

Novel ini mengambil setting waktu pertengahan tahun 1990-an sehingga bisa menjadi bacaan nostalgia bagi pembaca dewasa. Juga sangat tepat dibaca oleh anak-anak muda karena novel ini memang bergaya remaja. Dengan kemasan bahasa yang ringan dan alur cerita yang mengalir, novel ini menjadi nyaman dinikmati. Bahkan novelis senior Ahmad Tohari usai membaca novel ini langsung memberikan rekomendasi kepada anak-anak muda saat ini dan generasi 90-an untuk segera membacanya.

*Zahrul Fadhi Johan, Mahasiswa Pascasarjana UGM Jogjakarta

Minggu, 10 April 2016

Kritik Set Wahedi Terhadap Indonesia

Oleh Khairi Esa Anwar*

Lewat buku Aufa, Menulis Itu Pahit, Set Wahedi lahir sebagai anak kecil yang bicara tanpa aling-aling, bertanya, mengkritik, bahkan berteriak semaunya. Tanpa merasa takut ketika berhadapan dengan siapapun. Entah pejabat, kyai, serta penguasa tiran sekalipun. Logika anak kecil sangat sederhana, menyampaikan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Begitulah sikap Set dalam buku ini, yang memuat sembilan esai yang ditulis dari rentang tahun 2010-2014. Esai yang sudah dimuat di beberapa media masa ini, sarat dengan nada kritik pedas pada persoalan sosial, budaya, teknologi, sastra (:seni), politik, juga realitas yang cenderung memaksa manusia untuk tidak merdeka dari dunianya.

Keadaan telah memaksa Set untuk dirasa perlu bersuara, ingin melakukan perubahan dari dunia yang semakin carut-marut, jenuh, kotor, menuju ke dunia yang penuh makna. Bagaimana pun idealnya, perubahan tidak akan pernah datang dari langit. Karena dunia, utamanya Indonesia, tidak akan pernah mengalami suatu puncak kebermaknaan, jika hanya berada dalam kungkungan sejarah. Tanpa harus menjelaskan detail, bangsa Indonesia sudah mengalami rentetan sejarah yang gemilang sekaligus mencekam. Sehingga, tanpa sadar dalam memaknai cenderung sepihak tanpa mengolah dan menciptakan kreativitas baru untuk menjadi bangsa yang gemilang.

“Alangkah baiknya, untuk sekadar melupakan yang teringat, kita kembali membolak-balik kitab ramalan. Bukan karena apa, di kitab ramalan kita tidak akan mengalami lupa atau ingat, apalagi ingin berkuasa. Sebab semakin kita ‘mengingat’ semakin banyak ruang-ruang kosong yang semestinya kita isi dengan golak perlawanan. Apalagi para elit politik hari ini semakin gencar berakrobat: ada yang blusukan ke pasar-pasar rakyat; ada yang menggelar buka bersama; ada yang getol bersuara biarkan hukum memproses.” (hal. 10)

Kisah Unik Penuh Makna

Hal yang paling penting dalam buku ini, Set menggiring persoalan yang pelik dan rumit menjadi sederhana. Melalui kisah Kamran, Sajuri, persoalan yang membutuhkan dahi berkerut menjadi sederhana dan utuh. Tampak cerita keseharian yang di tangan orang banyak hanya kisah murahan, di tangan Set benar-benar penuh makna.
Dari sembilan esai yang ditulisnya, Set benar-benar menggiring kita memasuki wilayah yang sebenarnya  kita temui setiap hari. Akan tetapi, kita tidak sadar kalau kisah itu penuh makna dan mampu membuat kita terperangah. Setelah membaca esai dalam buku, secara tiba-tiba kita akan tersadar bahwa kisah hari kemarin menjadi semacam kredo besar pada hari ini, dan sampai kapanpun. Tak heran, jika tokoh Sajuri disandingkan dengan Abu Nawas. Melalui tokoh Sajuri, kritik Set ditujukan pada polemik buku “33 Tokoh Sastra Berpengaruh”; persoalan yang sempat menyeruak di tahun 2014, dan sampai kini persoalan tersebut belum selesai.   

Sedang melalui kisah Kamran, Set menggambarkan lika-liku nasib seorang teman yang lugu, polos, dan ndeso. Pada suatu ketika, Kamran menjadi seseorang yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Pertemuan dengan dunia “modern” telah merubahnya menjadi seorang yang luar biasa berubah, baik cara sikap, bicara, pergaulannya. Tidak seperti dulu lagi. Hal ini menandakan bahwa keadaan mampu membuat seseorang tidak merdeka dari keadaan lingkungannya.

Banyak kisah masa lalu, kini, menjadi sorotan kritikan Set. Kisah sederhana yang murahan menjadi penuh makna dan merasa cukup untuk dijadikan tolak ukur dalam membaca keadaan Indonesia yang semakin kalang kabut.

Perlunya Idealitas dan Aktualitas

Perubahan tidak cukup untuk diwacanakan saja. Pernyataan Bung Karno: “Beri aku sepuluh pemuda, akan kuguncang dunia.” Pernyataan tersebut bukan suatu kebetulan, melainkan pergolakan besar dalam melakukan perubahan berada di tangan pemuda. Tidak heran, jika Bung Karno menginginkan pemuda menjadi label dari semangat zamannya.

Dari pernyataan Bung Karno, ada dua hal yang dapat ditangkap: idealitas dan aktualitas. Karena, kedua persoalan menjadi penting untuk selalu disandingkan. Satu sama lain dapat memberikan arti, sehingga idealitas tanpa aktualitas, ada yang kurang dan juga sebaliknya. “Selanjutnya, dari generasi muda-generasi muda seperti inilah diharapkan lahirnya pemimpin-pemimpin yang mampu mengarahkan gerbong Negara-Bangsa Indonesia ke arah yang lebih cerah; pemimpin-pemimpin yang memiliki kapasitas dan kapabilitas yang dapat dipertanggungjawabkan, dicontoh dan dijadikan panutan sepanjang sejarah.” (Hal. 65).

Melalui buku ini, Set ingin mengajak pemuda untuk berperan dan menemukan eksistensi ke-aku-annya. Bukan berarti sebagai anak kecil yang tahu mengkritik dan bicara semaunya, Set memberikan solusi dalam setiap persoalan. Dalam buku ini, tesa-antitesis-sintesa dapat kita temui. Hanya saja, Set terlalu idealis dalam menyandingkan tokoh keseharian dengan beberapa pernyataan kutipan yang dari beberapa tokoh besar yang sebenarnya mengganggu.

Judul               : Aufa, Menulis Itu Pahit (Kumpulan Esai)
Penulis            : Set Wahedi
Tahun Terbit : Desember, 2015
Penerbit         : Paelan
Tebal              : v + 66 halaman  

* Khairi Esa Anwar, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
(Tulisan ini dimuat di Radar Madura, Minggu 10 April 2016 )

Kamis, 10 Maret 2016

Menulislah Dengan Hati dan Penuh Dedikasi

Oleh Fathur Rahman*

Melihat sampul utama bertuliskan “Aufa, Menulis Itu Pahit” sebuah kumpulan esai karya penulis asal Sumenep, ini memberikan kesan baru bagi saya. Ya, saya sendiri belum pernah membaca sebuah kumpulan esai. Biasanya saya membaca esai melalu situs-situs tertentu. Beda penulis beda pula cara penyajiannya, entah apakah saya sendiri yang merasakan membaca seperti mendengarkan langsung dari mulut penulis atau mungking para pembaca lainnya juga merasakan hal yang sama? Entahlah.

Ciri khas penulis yang apa adanya, namun begitu teliti dalam menempatkan diksi dan menyusunnya hingga terbentuk kalimat-kalimat yang begitu tertata dan “sangat” mudah dimengerti. Tak seperti esai yang pernah saya baca sebelumnya, terkadang saya harus mengulang beberapa bagian yang memang memerlukan pemikiran lebih. Eits, bukan berarti kumpulan esai ini tak berbobot. Andai saya memiliki jempul lebih dari dua, saya akan memberikan semuanya kepada penulis.

Pesan-pesan penting tersampaikan begitu mudah, dengan pelbagai bumbu penyusunan kalimat yang begitu apik. Ada hal lain yang begitu spesial, penulis juga tak sembarang menulis. Beliau juga memakai beberapa buku yang menjadi rujukan, dan itu membuat buku ini tampak lebih meyakinkan dan berbeda dengan yang lainnya.

Ada beberapa bagian yang membuat saya tak henti-hentinya menampakkan senyum dengan deretan gigi yang tak dapat saya lihat dengan indera penglihatan saya sendiri. “Doktor Hafalan”, “Kamran”, dan “Sajuri dan 33 Tokoh Sastra Indonesia” adalah bagian-bagian yang mulai menarik rasa ingin tahu saya, rasa penasaran, dan rasa ingin menyelesaikan bacaan hingga akhir. Penulis tak lupa menyelipkan beberapa diksi dan susunan kalimat yang membuat bibir memaksa untuk membuka diri, dan tak bisa menahan tawa. Begitu rapih dengan pelbagai pesan yang begitu tertancap dipikiran.  

Kelebihan lain yang begitu saya sukai dari buku ini adalah, penulis mencantumkan beberapa quote atau penggalan kalimat para pesohor tanah air. Seperti penggalan kalimat mendiang presiden pertama Indonesia di halaman 52 dan banyak lagi di halaman lainnya. Pada akhir bagian, kita akan disuguhkan penjelasan sajak “Aku” yang menegaskan identitas generasi bangsa, dan ini menambah daftar isi pengetahuan di memori otak saya.

Cuma itu? Tentu Tidak! Cara penulis menyampaikan isi dengan penganalogian objek. Ya, saya suka sekali cara beliau menganalogikan beberapa bagian sehingga tersampaikan dengan sempurna dan tentunya dapat dimengerti oleh semua kalangan. Coba kita lihat halaman 41 baris paling awal “kelak, jika kau menulis, menulislah dengan hati dan penuh dedikasi, agar karya-karyamu menemukan ‘arti’. Kau jangan menulis karena ingin dimuat di koran ya?”. Ya, pesan yang tak pernah saya temukan dan tak pernah saya dengar dari seorang penulis. Intinya, menulislah dengan hati dan penuh dedikasi.

Ada lagi, cara penulis menyangkut-pautkan antara ilmu satu dan ilmu yang lainnya, begitu apik dijelaskan pada bagian “Emrete dan Capres Kita”. Ya, bagian ini sangat berkesan bagi saya. Jujur, saya sudah khatam yang namanya Imriti, namun tak pernah memikirkan apa yang telah dipikirkan oleh penulis. Geleng kepala, itu saja yang dapat saya lakukan.

Berbicara kekurangan, tak semua hal di dunia ini yang sempurna. Apalagi, buku ini juga buatan seorang hamba. Ada beberapa bagian yang menurut saya mengurangi ke khusukan dalam membaca buku ini. Ya, editing yang mungkin terlewat atau terselip. Coba kita lihat halaman 4, baris ke-4 dari bawah. Hal 7, paragraf ke-2 baris 4. Halaman 13, paragraf ke-2. Spasi antar kata yang memecah sementara konsentrasi membaca. Okay, everything are cool. Saya rekomendasikan buku ini untuk semua kalangan, karena semua isi disusun dengan diksi yang sederhana namun mengena.

Judul                 : Aufa, Menulis Itu Pahit
Penulis             : Set Wahedi
Tahun Terbit  : Desember, 2015
Penerbit           : Paelan


Tebal                 : v + 66 halaman

*Fathur Rahman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FIP, Universitas Trunojoyo Madura. 

(tulisan ini pernah dipublikasikan di http://www.tabloidpendidikan.com/seni-dan-budaya/menulislah-dengan-hati-dan-penuh-dedikasi-dalam-aufa-menulis-itu-pahit)

Senin, 13 April 2015

Tak Ada Pembunuh Palomino di Indonesia

Oleh Set Wahedi

Amerika Latin, mula-mula saya kenal saya lewat para “idola” heroiknya: Fidel Castro, Che Guevara, Hugo Chaves, Evo Morales dan lainnya. Dari para idola ini, saya mendapati banyak cerita tentang kegigihan anak negeri berbuat dan berbakti pada negara-bangsa dan kemanusiaan. Kemudian, saya semakin familiar dengan Amerika Latin bersama para pemain sepak bolanya: Maradona, Pele, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Suarez, Messi, dan lainnya. Merekalah pemain yang meruntuhkan segala keangkuhan dunia Barat dengan seni gocekan si kulit bundar. Kemegahan panggung sepak bola Eropa, tanpa mereka seakan tanpa asam-garam.  

Tidak berhenti di situ. Berikutnya, para pengarang Amerika Latin memberikan referensi cerita yang energik. Sebut saja Octavio Paz, Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marques, Mario Vargas Llosa dan lainnya. Pada umumnya, para pengarang Amerika Latin ini memiliki suara “sengak” dan sikap tegas dalam dinamika politik negerinya. Mereka sadar betul akan kekuatan kata dalam perlawanan. Tak urung, karya-karya Amerika Latin identik dengan drama sisi gelap kekuasaan.

Sikap politik para pengarang negara bekas jajahan Spanyol ini tidak hanya mendengung dalam kata-kata. Mereka sering ambil bagian dalam kancah politik untuk menyatakan keberpihakannya. Karena sikap politik seperti itulah, Neruda menjadi aktivis Partai Komunis Kuba, Octavio Paz menjadi diplomat Chile lalu mengundurkan diri, dan Jorge Mario Pedro Vargas Llosarset terjung dalam pemilihan Presiden Peru. Menariknya, pergulatan mereka terhadap kondisi sosial politik di negaranya tidak serta merta membuat mereka terjebak. Mereka tetap lantang untuk menjadi suara lain bagi sejarah negaranya. “Berpolitik” seolah seruan lain mereka dalam berkarya.

Jorge Mario Pedro Vargas Llosarset atau yang lebih dikenal Mario Vargas Llosa, merupakan pengarang yang memperjuangkan cita-cita politiknya dengan ambil bagian dalam pemilihan Presiden Peru. Karya-karya peraih Nobel Sastra tahun 2010 menunjukkan kepiawaiannya dalam memetakan struktur kekuasaan. Ia mampu menggambarkan tajamnya lika-liku perlawanan, pemberontakan dan kekalahan individu.  
    
Salah satu karya pengarang kelahiran 23 Maret 1936 ini, ¿Quién mató a Palomino Molero? (:Siapa Pembunuh Palomino Molero). Novel yang berlatar tahun 50-an ini dapat dikatakan novel bergenre detektif. Novel ini dibuka dengan ditemukannya jasad Palomino Molero. Palomino mengalami kematian yang cukup tragis dan mengenaskan. Anak semata wayang janda Dona Asunta ini mati dengan hidung dan mulut robek, muka lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok, dan buah zakar melorot menutupi pangkal paha. Kematian Palomino menggambarkan sisi lain sifat manusia: binatang.

Dari kematian Palomino itu, dua polisi desa, Letnan Silva dan bawahannya, Lituma melakukan penyelidikan. Penelusuran awal dua polisi desa itu menemukan cerita “klise” kaum remaja: pembunuhan dengan motif cinta (:cemburu). Palomino yang ganteng dan pandai bernyanyi diduga telah melakukan selingkuh dengan salah seorang istri penggede Angkatan Udara. Hipotesa awal ini menemukan titik terang ketika dua polisi itu bertandang ke Amotape. Kesaksian Dona Lupe tentang dua pasangan –yang diyakini sebagai Palomino dan kekasihnya- memberi sinyal-sinyal positif bagi dua polisi desa itu dalam merumuskan “siapa” pembunuh Palomino. Sosok pembunuh Palomino semakin jelas ketika Alicia Mindreau, sang pacar Palomino membeberkan lika-liku cinta-kasih mereka.

Serangkaian peristiwa yang disuguhkan Llosa, tidak jauh beda dengan serakan ‘mozaik’ teka-teki novel dektektif pada umumnya: kematian korban, pembunuh yang misterius, motif pembunuhan dan detik-detik tegang pengungkapannya.  Sayangnya Llosan tidak tidak memiliki gairah kuat untuk menyuguhkan ketegangan yang membius. Penyelidikan yang dilakukan dua polisi desa berjalan datar-datar saja. Mereka tidak menemui satu kendala serius dalam mengorek data. Penyelidikan itu semakin hambar ketika Kolonel Mindreau mengakui perbuatannya dan melakukan bunuh diri.

Kalau novel itu benar “diniatkan” sebagai novel detektif, Llosa dapat dikatakan sebagai penulis yang kurang serius. Teka-teki yang dibangun sejak awal tak memiliki tangga dramatik kuat, layaknya pengungkapan sebuah misteri. Akan tetapi, Llosa ternyata punya perspektif lain terhadap realitas penyelidikan siapa pembunuh Palomino - berdasarkan desas-desus melibatkan para penggede militer- hingga pengakuan Kolonel Mindrau.

Fakta, mungkin serangkaian peristiwa yang dapat disaksikan panca indera dalam situasi dan kondisi tertentu dapat menjadi fiksi. Rangkaian fakta yang disusun oleh Letnan Silva dan Lituma merupakan serakan puzzle yang hampir utuh. Letnan Silva pun merasa yakin untuk menunjuk hidung pembunuh Palomino. Pada saat teka-teki ini akan terbongkar dan mengarah pada satu orang, Llosa ternyata menggantung cerita. Ia memberikan ancangan lain: delusions. Kematian Palomino, Kolonel Mindreau dan anaknya, Alicia bukanlah serangkaian pembunuhan karena cinta. Ternyata isu selingkuh hanya pengalihan. Percintaan Palomino dan Alicia, rasa kesal Konolnel Mindrau, pun bukan fakta yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan siapa pembunuh Palomino. Rangkaian puzzle itu ternyata hanya fiksi. Lewat tokoh Don Jeronomi, supir langganan dua polisi desa itu, Llosa bermain fiksi dari fakta dalam fiksinya.

Fakta mungkin lebih fiksi dari fiksi. Mungkin itulah yang ditekankan Llosa ketika berhadapan dengan fakta yang melibatkan orang-orang besar. Fakta atau peristiwa skandal yang melibatkan tokoh penguasa seolah menggantung. Ia hanya dapat ditafsirkan, dikonkretkan sebagai fakta kalau mampu menghadirkan sosok penguasa seutuhnya. Tapi kalau fakta itu menyangkut sisi lain kekuasaan, ia adalah rumah dengan seribu pintu. Semua orang dibuat tak punya legal standing untuk melakukan justifikasi terhadap kebenaran dan kesalahan.

Sebagai karya fiksi, novel “Siapa pembunuh Palomino Molero” kurang menggigit. Tapi sebagai kesaksian, novel ini menemukan sentuhannya pada keinginan untuk membongkar “tradisi kelam” para penguasa absolut. Llosa, seperti halnya para pengarang Amerika Latin lainnya, begitu sadar untuk menjadikan karyanya sebagai suara lain sejarah. Kediktatoran kaum militer atau pun keculasan kaum kapitalis telah menjadi teror menakutkan. Maka, karya sastra menjadi fakta lain dari fakta yang menakutkan itu.

Dalam konteks Indonesia, novel Llosa itu sangat “enak” untuk dibaca sambil mendengarkan berita bentrok TNI-Polri atau suara live dialog para pejuang HAM. Kalau di Amerika Latin kesemuan fakta disebabkan kekuasaan absolut penguasa-militer, di Indonesia fakta menjadi fiksi karena politik impunitas. Kalau di Amerika Latin, kasus pembunuhan menjadi fiksi karena keotoriteran, di Indonesia kekaburan fakta karena konspirasi elite politik.

Kasus penculikan para aktivis oleh Tim Mawar, penembakan empat mahasiswa Trisakti, Pembunuhan Aktivis HAM Munir, hingga kasus HAM lainnya menjadi serangkaian cerita fiksi mendebarkan. Dari satu forum ke forum berikutnya berbagai kasus itu seperti serangkaian bab novel tak kunjung usai. Berbagai dalih, upaya, tokoh dan teori disuguhkan. Olok-olok pada janji pemimpin tak mampu mengubah kadar “imajinasi” insiden kelam kemanusiaan itu.

Sejauh ini, tidak etis kalau kita berkata negara ini diam atas berbagai kasus kemanusiaan itu. Berbagai upaya dan langkah mungkin telah dilakukan. Seperti dua polisi desa yang melakukan penyelidikan terhadap pembunuh Palomino. Tapi sejauh ini pula, kita hanya disuguhi laporan peristiwa-peristiwa “fiksi” menggelikan. Toh, kalau pun ada yang ditindak tegas, mereka hanya kelas teri. Mereka adalah Palomino yang mesti disingkirkan dengan cerita cinta dan perselingkuhan. () 

*Esais tinggal di salametwahedi@gmail.com dan @set_wahedi

Sabtu, 14 Juni 2014

Korupsi, Sakit Kepala dan Orang-Orang Terpilih

Oleh Moh. Fathoni

“Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Tanya seorang lelaki kepada lelaki lain yang lebih tua dalam sebuah iklan. Kata ‘menang’ di sini mengandaikan adanya suatu pertandingan atau kompetisi. Bagi seorang caleg, menang berarti mengantongi suara lebih dalam proses pemilihan. Dan, ia disebut sebagai pemenang atau orang yang terpilih, semacam manusia pilihan. 

Seorang ronggeng dalam novel Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, misalnya, sekilas tampaknya dipilih bukan oleh manusia, tetapi ada semacam ‘pulung’ yang jatuh kepada seseorang. Seorang ronggeng seperti dipilih oleh pihak di luar kekuatan manusia, yang bersifat melebihi kekuatan manusia. Tapi, kemudian ia juga perlu dinyatakan. Ada manusia yang membuat pernyataa, bahwa ia terpilih, ia bukan sembarang orang. Dan, saya tidak hendak mengatakan seorang caleg yang menang adalah ronggeng. 

Namun, soal manusia terpilih ini bukan ‘sekedar’ persoalan manusia memilih manusia. Proses pemilihan dalam demokrasi dengan sistem kalah-menang dapat dipahami sebagai suatu kompetisi. Semangat persaingan atau pertandingan ini yang menjadi urat saraf demokrasi. Benarkah ‘demokrasi’ macam ini yang kita kehendaki? Demokrasi yang melahirkan pemenang dan menistakan pecundang? Saya teringat kata Adorno tentang konformitas. Manusia terpilih dalam pemilihan umum (pemilu) barangkali semacam konformitas. 

Pemilihan umum yang melibatkan konstituen rakyat menjadi kedok untuk mengkonstitusi individu yang ‘terpilih’. Bukan berarti saya menolak pemilu, tetapi sistem yang kemudian menghasilkan individu pemenang, legislator, atau bukan tidak mungkin juga koruptor ini telah memanipulasi massa. Individu itu dikonstruksi lekat dan dekat dengan rakyat, sehingga terjadi semacam penyerobotan identitas massa pada diri individu—individu yang telah dikonsepsikan sebagai representasi rakyat, yang mengusung cita-cita demokrasi. 

Dalam pengertian yang paling sederhana, individu terpilih itu berkonsepsi ganda. Pengertian ini tidak terelakkan ketika korupsi, monopoli dan kesenjangan dijembatani dengan pemilihan umum yang seolah-olah mempunyai garansi, seperti obat sakit kepala yang menjamin kesembuhan. Tetapi, bukankah kita sedang membicarakan iklan. Dan, saya tidak sedang membahas hubungan antara demokrasi, pemilu, dan iklan. “Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Sebuah pertanyaan klise yang dianggap penting. 

Sebuah kegalauan calon legislatif (caleg) yang hampir dapat dipastikan ia adalah caleg baru. Tentu bukan caleg lama yang punya kekhawatiran seperti itu. Mereka barangkali sudah cukup berpengalaman, lebih-lebih tidak akan kaget atau mendadak punya masalah dengan kata ‘korupsi’ ketika masa kampanye. “Kerja keras, jujur, dan.. tidak korupsi,” jawab ki dalang mantep sudarsono, ditanya si caleg anyaran tadi. Mendengar kata korupsi mendadak si caleg pusing. Sekilas, dalam nalar iklan barangkali ini wajar. Pusing bisa diatasi dengan obat sakit kepala. Nalar iklan barangkali cenderung menyarankan secara praktis pada merk obat. 

Secara medis mungkin obat bisa menyembuhkan pusing, tapi yang menarik di sini adalah mensejajarkan persoalan korupsi dengan medis. Tapi, apakah pusing sebab korupsi bisa diobati dengan Oskadon? Atau, pusing sebab memikirkan pemenangan caleg bisa diatasi dengan obat sakit kepala? Dalam nalar medis Oskadon memang berkaitan pusing atau sakit kepala. Menarik, Oskadon tiba-tiba terlibat dengan persoalan yang rumit dipikirkan. Lantas, benarkah yang dimaksud ‘pusing’ di sini sebagai persoalan medis atau sekedar pencitraan merk obat? Saya tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu merk obat. Bisa jadi ini persoalan metaforik. Pusing atau sakit yang secara anaatomi berada di kepala.

Barangkali bukan hal yang tidak disengaja keterkaitan antara sakit kepala, korupsi dan obat sakit kepala. Jika begitu, maka korupsi bisa jadi bukan tidak disengaja. Apalagi iklan itu, waktu itu yang saya tonton, ditayangkan dalam sebuah acara yang bertajuk “Indonesia Baru” di sebuah stasiun televisi swasta. Acara itu menghadirkan salah satu sosok yang dicalon sebagai RI 1 2014. Hadir pula grup band Slank, yang beberapa kali bertanya soal kepemimpinan dan mendendangkan lirik ‘jangan ingkari janji..” setelah jeda iklan. Saya membayangkan, apakah si caleg juga tiba-tiba pusing mendengar lirik lagu Slank itu. Saya juga tidak melihat sosok yang disebut calon RI 1 itu tampak seperti si caleg di iklan obat sakit kepala itu. 

Tampak pusing atau tidaknya mungkin bukan persoalan, jika korupsi menjadi semacam properti dalam iklan sabun pencuci tangan. Sayangnya tidak ada iklan semacam itu. Semoga tidak!

Sabtu, 22 Maret 2014

Kitab Emrithi dan Capres 2014

Oleh Set Wahedi

Beberapa bulan lalu, sebelum menginjak kalender 2014, saya sempat deg-degan dengan isu rezim kebohongan. Mereka yang tergabung dalam tokoh-tokoh lintas agama dan aliran, menuding pemerintah (:dalam hal ini Presiden dan seluruh jajaran kabinetnya) melakukan kebohongan publik. Maksudnya, Presiden dan para pembantunya hanya bisa bicara, tapi tidak pernah melaksanakan apa yang telah diucapkannya. Saya deg-degan karena kalau itu benar, negara ini diambang kebangkrutan (kalau tidak kehancuran).

Memasuki tahun 2014, isu yang berkaitan dengan pemerintahan –terutama calon presiden- semakin berjubel: kisruh hambalang yang nyerempet lingkaran istana, para penerus yang ramai dalam survei, hingga rangkap jabatan yang membuat kita semakin bingung menetukan presiden dan ketua umum partai. Dari sekian isu yang seksi untuk dilihat dari pengalaman saya di pondok pesantren, siapakah calon presiden yang pas untuk negeri ini ke depan?

Presiden (baca: pemimpin), dalam pemahaman saya waktu nyantri dulu, menempati urutan nomor tiga sebagai pihak yang mesti “diikuti” –setelah ketundukan pada Allah dan rasulnya. Sedangkan dalam khazanah Madura –lingkungan pondok pesantren saya- pemimpin (rato) menempati urutan keempat untuk ditaati setelah bapak, ibu dan guru. Dari dua referensi ini, saya mengangankan capres kita itu tidak hanya karena KTPnya beragama. Akan tetapi pemimpin itu mampu memahami titah tuhan, meneladani nabi dan mengambil kebijakan demi kemaslahatan umat. Selain itu, capres itu kudu mampu mencerminkan tindak-tanduk untuk menjadi pemimpin (Bapak), pengayom (Ibu) dan dapat dijadikan contoh (Guru).

Referensi lain yang cukup menarik untuk kriteria capres ideal 2014 ini, saya temukan dalam Kitab Emrithi. Dalam mukaddimah (pengantar) karya Syekh Syarifuddin Syekh Syarifuddin Yahya Al-Emrithi ini, terdapat baris yang berbunyi “wannahwu aula awwalan an-yu’lama, idzilkalamu dzunahu lan-yufhama” (baris 9). Terjemahan bebasnya: dan ilmu nahwu itu lebih utama untuk diketahui, karena tanpa itu (:nahwu) perkataan tidak bisa dipahami. Dan dalam saduran bebas saya: dan contoh (nahwu) –bisa juga suritauladan, tingkah laku atau perilaku yang baik lainnya- merupakan hal utama untuk diketahui. Karena tanpa itu, perkataan, anjuran, janji, tak akan dapat dipahami.

Ingatan saya pada baris Emrithi cukup lekang. Karena baris itu selalu dibaca berulang sejak kelas dua MTs hingga kelas 3 SMA. Sedangkan ketertarikan saya untuk mengaitkannya dengan capres 2014, terletak pada keinginan saya untuk membuat semacam catatan atau kriteria capres ideal berdasarkan kitab-kitab yang saya geluti di pondok. Jadilah, tabel itu saya isi –sebagiannya- dengan baris emrithi itu: pemimpin itu harus paham nahwu. Bisa memberi contoh. Bukan banyak bicara. Pemimpin itu- seperti iklan rokok: talk less do more. Kenapa?

Pertama, saya ingin kembali pada persoalan rezim kebohongan. Gara-gara Presiden banyak pidato dan janji, kita tidak peduli: mana janji yang diucapkan sepenuh hati dan mana janji sekadar ngapusi. Saking tidak pedulinya, kita anggap semua pidato itu mesti ditepati. Kalau demikian, isu bohong yang dilontarkan oleh para cendekiawan agama mungkin ada benarnya. Kalau pemerintah selama ini hanya selalu berkata-kata; tanpa tindakan yang jelas dan nyata, mungkin para penuduh itu memang tidak memahami apa yang terkandung dalam dawuh penguasa tersebut. Apalagi dalam kenyataannya memang banyak kata-kata yang tidak klop dengan tindak-tanduknya.

Kedua, saya akan memilih capres berdasarkan jejak rekam hidupnya. Seperti diuraikan Ki pengarang Emrithi di atas, tanpa contoh segala perkataan tidak akan terpahami. Bagamana capres itu bisa berbicara kesejahteraan kalau selama ini –maksud saya selama sebelum mau mencalonkan diri jadi capres- tindak-tanduknya menimbulkan keresahan. Bagaimana capres itu bisa menjanjikan negara adil-makmur-sejahtera, kalau di masa lampau ia terlibat dengan penculikan terhadap aktivis kebebasan? Bagaimana saya akan memilih capres yang selama jadi kebijakan impor garamnya membuat petani garam kalang kabut? Bagaimana saya akan memilih dia, kalau selama jadi menteri namanya banyak dikaitkan dengan isu korupsi?

Ketiga, saya ingin mengurangi kebingungan di tengah tumpukan buku-buku biografi dan motivasi presiden dan calon penerusnya: SBY, Jokowi, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan lainnya. Saya bingung dengan nuansan melodrama atau heroik buku-buku tersebut. Bahkan sebagian buku-buku tersebut lebih banyak kontrovesinya daripada pendidikannya.

Anehnya, sebagian buku-buku tersebut sering diseminarkan. Seolah-olah dengan buku dan seminarnya, rakyat jadi paham akan jejak rekamnya. Seolah-olah dengan buku mereka berharap rakyat langsung kepincut dengan raut lucu atau riak keluhnya.

Sayangnya, buku bukanlah juru selamat. Memang, Kafka menandaskan kalau buku semisal kapak es. Dengan kapak es inilah, segala macam batu kebandelan dan kebodohan dapat dipecahkan. Tapi sebagai kapak es pula, buku dapat dijadikan membongkar masa silam yang selama ini ditutup-tutupi. Buku -semisal kitab-kitab kuning di pondok yang membutuhkan ilmu nahwu untuk memahaminya- adalah ruang di mana perdebatan makna berjumpalitan. Dan di ruang kenyataanlah, perdebatan itu akan menemukan kebermaknaannya.

Sekali lagi, berdasarkan baris kesembilan nadloman emrithi di atas, saya ingin menandaskan bahwa capres ideal, itu orang yang bisa menciptakan nahwu. Bukan sekadar buku. Apalagi kata-kata. Karena tanpa ilmu nahwu, kalam (perkataan atau gagasan) nya terasa hambar.

Kamis, 20 Maret 2014

LAHIRNYA NARASI: SEBUAH PERSOALAN DAN POLITIK PENGABAIAN

Oleh Moh. Fathoni

Pengantar Membaca Novel Julian Barnes, A History of the World in 10 ½ Chapters (1989)

Kita bisa saja mengatakan, lahirnya narasi disebabkan adanya persoalan, ada sesuatu yang ingin diungkapkan; sebuah persoalan yang bermotif kekuasaan, maka narasi bisa dikatakan sebagai politik. Apakah itu untuk memelihara kekuasaan atau sebaliknya. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa barangkali pandangan ini tidak hanya politis, tetapi juga epistemologis. Sebagaimana diktum Foucauldian, kekuasaan beroperasi dalam pengetahuan, bahkan keduanya terjalin dan sejajar. Maka, menjadi jelas relasi penciptaan narasi tidak dapat mengelak dari keterlibatan keduanya.

Dalam diskursus kekuasaan seorang yang memiliki pengetahuan, atau Bagi Edward Said seorang intelektual, memiliki tugas untuk berpendapat, mengajukan suatu pandangan tentang suatu kebenaran. Said menggarisbawahi bahwa politik yang dimaksud adalah sebuah strategi, sebagai cara berpendapat yang juga memungkinkan digunakannya strategi naratif, sebagaimana dalam sastra. Maka, sebaliknya, narasi apapun pada dirinya melekat unsur politis. Di sini politik tidak hanya dipahami secara tradisional, sebagai sesuatu yang sosial, tetapi juga bersifat personal, sesuatu yang juga instrumental sekaligus contingent.

Dalam narasi kolonial Barat, bangsa-bangsa Eropa menganggap mereka mempunyai nilai kebenaran, mengemban tugas etis dalam peradaban manusia. Tetapi, dalam perspektif Timur bangsa-bangsa kolonialis melakukan tindakan kejahatan dalam bentuk penaklukan dan penindasan. Maka, kemudian lahirlah nasionalisme yang meng(re)konstruksi narasi perlawanan dan perjuangan melawan kolonialis.

Sebagai bangsa yang pernah dijajah, Indonesia mereproduksi narasi masa lampau untuk mengedarkan energi nasionalisme. Narasi kemerdekaan dan kepahlawanan dianggap perlu diungkapkan dengan menekankan pada semangat perjuangan dan pengorbanan dalam rangka cinta tanah air. Dan, sebaliknya dalam narasi kolonial.

Barangkali ini persoalan sudut pandang. Misalnya, dalam sejarah kolonial orang Australia direpresentasikan sebagai seorang  pencuri, perampas dan suka berperang, membunuh dan pemberontak, sebagaimana orang pribumi direpresentasikan biadab atau brutal. Sejarah kolonial Australia misalnya Coinages1 menyebut pengertian “ban lengan hitam sejarah”, suatu ekspresi untuk merendahkan rekonstruksi sejarah dari sudut pandang Aborigin di Australia, yang digunakan untuk mengungkap kebenaran yang ‘tak menyenangkan’ pada masa kolonial.

Kebenaran dalam sejarah modern seringkali dipahami sebagai sesuatu yang final, objektif, stabil dan established.

Maka, narasi asal-usul (asli pribumi) dalam penulisan sejarah (historiografi) seolah-olah menjadi satu-satunya ‘kitab suci’ peradaban manusia di masa depan. Jika demikian, maka hal ini menjadi semacam ilusi yang berbahaya, yang memberikan harapan bagi kepentingan kekuasaan, yang sekaligus menjadi suatu kecurigaan yang mengeksklusi sudut pandang dan mode berpendapat lainnya. Sebuah pencapaian besar dalam peradaban manusia modern bahwa kebenaran masa lampau dapat diperoleh melalui teks-teks sejarah.

Sementara mode naratif (fiksi) dalam pandangan akademis (positivistik) dipandang sebagai sesuatu yang labil, dimana kebenaran yang ingin dicapai dianggap bersifat tidak langsung, tidak pasti, subjektif—ringkasnya: fiktif, seperti halnya pada mode simbolik, puitik atau naratif.

Padahal, sebagaimana dalam pandangan sejarah baru, alur penulisan sejarah tak ubahnya seperti penulisan suatu cerita, dengan menyertakan rangkaian peristiwa, tokoh, setting, sudut pandang, dan lainnya, yang memungkinkan adanya imajinasi. Maka, kita tentu tidak heran jika disebutkan bahwa narasi Perang Teluk di Timur Tengah hanya karangan atau fiksi belaka, termasuk narasi peristiwa 9/11 hanya politik untuk memunculkan tokoh pembajak atau teroris sebagai pihak antagonis, misalnya. Atau, dengan kata lain, antara kebenaran faktual sejarah, fiksi, dan mitos, perlu dipertimbangkan lagi kebenarannya.

Dengan demikian, dalam konteks ini jika Edward Said menyatakan ‘speaking truth to power’, maka ada benarnya secara politik, dan akan berbeda jika dipahami Diana Brydon dalam pengertian ‘keadilan’ politics of blame.2 Artinya, konsekuensi politis pada pembedaan antara “kami” dan “mereka”—yang berimbas secara etis pada yang bersalah dan yang tidak, yang lebih lanjut seringkali secara tidak langsung menyatakan suatu diskursus antara kebaikan dan kejahatan, dosa dan hukuman, yang diajarkan oleh buku-buku agama Kristiani, Islam dan Yahudi—yang meskipun sebagai strategi perbaikan dan keberpihakan, tetapi menimbulkan klaim-klaim politik berikutnya, yang disebut dengan ‘politik menyalahkan’ itu.

Terlepas dari perbedaan itu (lihat: politik postkolonial)3, yang perlu ditekankan adalah bahwa narasi dan pendapat di atas tidak dapat dipahami tanpa melibatkan persoalan di luar narasi, di luar teks. Membaca narasi fiksi sejarah misalnya tidak mungkin tidak memerlukan pengetahuan historis. Maka, dalam hal ini pembacaan terhadapnya tidak cukup hanya dengan perangkat formalistik atau strukturalis.

Pengertian Louis Montrose yang menyebut ‘tekstualitas sejarah dan historisitas teks’ dalam sejarah baru,4 memungkinkan semacam paduan antara puitika dan budaya sebagai teks (Geertz). Pandangan ini sejalan dengan semangat parateks dalam penulisan sejarah atau interteks dalam narasi fiksional, sebuah cerita yang dirangkai dan dijalin dengan unsur fakta atau data dengan imajinasi.5 Sehingga baik dokumen, laporan, berita, ataupun catatan harian, berkelindan dalam narasi imajinatif, yang memuat suatu tanda dan makna. Maka, peristiwa diposisikan sebagai penanda, dan makna masa lampau bukan pada ‘apa yang terjadi’ tetapi ‘peristiwa itu menandai apa’. 

Dari pandangan sejarah baru kita dapat mengatakan bahwa peristiwa masa lampau memang pernah terjadi, tetapi kita yang hidup di masa kini tidak mungkin dapat mengetahuinya dengan pasti. Kita tidak bisa berbicara dengan orang yang sudah mati, demikian kata Greenblatt. Untuk itu ia menawarkan pembacaan puitika kultural terhadap suatu karya. Sejalan dengannya, Julian Barnes dalam bagian cerita “Shipwreck” dari novel A History of the World in 10 ½ Chapters-nya menulis, “Bagaimana anda merubah malapetaka menjadi (karya) seni?”6

Maka, dengan begitu peristiwa artistik juga menyediakan ruang bagi pembacaan simbolik dalam suatu diskursus politik narasi. Di bagian cerita itu Barnes merekonstruksi peristiwa tenggelamnya kapal Medusa di laut Mauritania tahun 1816, kemudian Gericault membuat lukisan “Scene of Shipwreck” pada tahun 1819, dan ia sendiri menulis cerita tentangnya pada tahun 1989. Yang menarik adalah Barnes mengungkapkan sesuatu yang tidak dilukiskan Gericault dan yang tidak diceritakan oleh orang-orang yang selamat, Savigny dan Correard diantaranya; hal yang diabaikan, yang tidak disuarakan, tidak dihadirkan, tidak diberikan ruang, yang dianggap tidak ada, adalah suatu persoalan, sebuah permulaan diciptakan narasi.

Dan, di bagian paling awal novelnya, Barnes memulai dengan menarasikan cerita ulat kayu (woodworm; Jawa: sejenis rayap,  nonol, atau nener), sebagai spesies yang tidak dianggap ada atau disebut sebagai penumpang gelap dalam narasi Nabi Nuh dan Kapalnya. Sebagai penumpang gelap, ulat kayu juga memiliki narasi sendiri..

Note:
1    1. Lihat dalam Pilger, John. The New Rules of the World. London: Verso, 2002. Hlm. 192-3.
2    2. Brydon, Diana. “Is There a Politics of Postcoloniality?” Postcolonial Text, Vol. 2, No. 1, 2006
3    3. Ibid.
4    4. Louis Montrose dalam Brannigan, John, New Historicism and Cultural Materialism. London: Macmillan Press Ltd, 1998, hlm. 84
5    5. Linda Hutcheon, Politik Posmodernisme (terj. Apri Danarto), Yogyakarta: Jendela, 2004, hlm. 129
6. Barnes, Julian, A History of the World in 10 ½ Chapters, New York: Vintage International ed. Epub, hlm. 106. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1989