Senin, 13 April 2015

Tak Ada Pembunuh Palomino di Indonesia

Oleh Set Wahedi

Amerika Latin, mula-mula saya kenal saya lewat para “idola” heroiknya: Fidel Castro, Che Guevara, Hugo Chaves, Evo Morales dan lainnya. Dari para idola ini, saya mendapati banyak cerita tentang kegigihan anak negeri berbuat dan berbakti pada negara-bangsa dan kemanusiaan. Kemudian, saya semakin familiar dengan Amerika Latin bersama para pemain sepak bolanya: Maradona, Pele, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Suarez, Messi, dan lainnya. Merekalah pemain yang meruntuhkan segala keangkuhan dunia Barat dengan seni gocekan si kulit bundar. Kemegahan panggung sepak bola Eropa, tanpa mereka seakan tanpa asam-garam.  

Tidak berhenti di situ. Berikutnya, para pengarang Amerika Latin memberikan referensi cerita yang energik. Sebut saja Octavio Paz, Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marques, Mario Vargas Llosa dan lainnya. Pada umumnya, para pengarang Amerika Latin ini memiliki suara “sengak” dan sikap tegas dalam dinamika politik negerinya. Mereka sadar betul akan kekuatan kata dalam perlawanan. Tak urung, karya-karya Amerika Latin identik dengan drama sisi gelap kekuasaan.

Sikap politik para pengarang negara bekas jajahan Spanyol ini tidak hanya mendengung dalam kata-kata. Mereka sering ambil bagian dalam kancah politik untuk menyatakan keberpihakannya. Karena sikap politik seperti itulah, Neruda menjadi aktivis Partai Komunis Kuba, Octavio Paz menjadi diplomat Chile lalu mengundurkan diri, dan Jorge Mario Pedro Vargas Llosarset terjung dalam pemilihan Presiden Peru. Menariknya, pergulatan mereka terhadap kondisi sosial politik di negaranya tidak serta merta membuat mereka terjebak. Mereka tetap lantang untuk menjadi suara lain bagi sejarah negaranya. “Berpolitik” seolah seruan lain mereka dalam berkarya.

Jorge Mario Pedro Vargas Llosarset atau yang lebih dikenal Mario Vargas Llosa, merupakan pengarang yang memperjuangkan cita-cita politiknya dengan ambil bagian dalam pemilihan Presiden Peru. Karya-karya peraih Nobel Sastra tahun 2010 menunjukkan kepiawaiannya dalam memetakan struktur kekuasaan. Ia mampu menggambarkan tajamnya lika-liku perlawanan, pemberontakan dan kekalahan individu.  
    
Salah satu karya pengarang kelahiran 23 Maret 1936 ini, ¿Quién mató a Palomino Molero? (:Siapa Pembunuh Palomino Molero). Novel yang berlatar tahun 50-an ini dapat dikatakan novel bergenre detektif. Novel ini dibuka dengan ditemukannya jasad Palomino Molero. Palomino mengalami kematian yang cukup tragis dan mengenaskan. Anak semata wayang janda Dona Asunta ini mati dengan hidung dan mulut robek, muka lebam penuh luka sayat dan sundutan rokok, dan buah zakar melorot menutupi pangkal paha. Kematian Palomino menggambarkan sisi lain sifat manusia: binatang.

Dari kematian Palomino itu, dua polisi desa, Letnan Silva dan bawahannya, Lituma melakukan penyelidikan. Penelusuran awal dua polisi desa itu menemukan cerita “klise” kaum remaja: pembunuhan dengan motif cinta (:cemburu). Palomino yang ganteng dan pandai bernyanyi diduga telah melakukan selingkuh dengan salah seorang istri penggede Angkatan Udara. Hipotesa awal ini menemukan titik terang ketika dua polisi itu bertandang ke Amotape. Kesaksian Dona Lupe tentang dua pasangan –yang diyakini sebagai Palomino dan kekasihnya- memberi sinyal-sinyal positif bagi dua polisi desa itu dalam merumuskan “siapa” pembunuh Palomino. Sosok pembunuh Palomino semakin jelas ketika Alicia Mindreau, sang pacar Palomino membeberkan lika-liku cinta-kasih mereka.

Serangkaian peristiwa yang disuguhkan Llosa, tidak jauh beda dengan serakan ‘mozaik’ teka-teki novel dektektif pada umumnya: kematian korban, pembunuh yang misterius, motif pembunuhan dan detik-detik tegang pengungkapannya.  Sayangnya Llosan tidak tidak memiliki gairah kuat untuk menyuguhkan ketegangan yang membius. Penyelidikan yang dilakukan dua polisi desa berjalan datar-datar saja. Mereka tidak menemui satu kendala serius dalam mengorek data. Penyelidikan itu semakin hambar ketika Kolonel Mindreau mengakui perbuatannya dan melakukan bunuh diri.

Kalau novel itu benar “diniatkan” sebagai novel detektif, Llosa dapat dikatakan sebagai penulis yang kurang serius. Teka-teki yang dibangun sejak awal tak memiliki tangga dramatik kuat, layaknya pengungkapan sebuah misteri. Akan tetapi, Llosa ternyata punya perspektif lain terhadap realitas penyelidikan siapa pembunuh Palomino - berdasarkan desas-desus melibatkan para penggede militer- hingga pengakuan Kolonel Mindrau.

Fakta, mungkin serangkaian peristiwa yang dapat disaksikan panca indera dalam situasi dan kondisi tertentu dapat menjadi fiksi. Rangkaian fakta yang disusun oleh Letnan Silva dan Lituma merupakan serakan puzzle yang hampir utuh. Letnan Silva pun merasa yakin untuk menunjuk hidung pembunuh Palomino. Pada saat teka-teki ini akan terbongkar dan mengarah pada satu orang, Llosa ternyata menggantung cerita. Ia memberikan ancangan lain: delusions. Kematian Palomino, Kolonel Mindreau dan anaknya, Alicia bukanlah serangkaian pembunuhan karena cinta. Ternyata isu selingkuh hanya pengalihan. Percintaan Palomino dan Alicia, rasa kesal Konolnel Mindrau, pun bukan fakta yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan siapa pembunuh Palomino. Rangkaian puzzle itu ternyata hanya fiksi. Lewat tokoh Don Jeronomi, supir langganan dua polisi desa itu, Llosa bermain fiksi dari fakta dalam fiksinya.

Fakta mungkin lebih fiksi dari fiksi. Mungkin itulah yang ditekankan Llosa ketika berhadapan dengan fakta yang melibatkan orang-orang besar. Fakta atau peristiwa skandal yang melibatkan tokoh penguasa seolah menggantung. Ia hanya dapat ditafsirkan, dikonkretkan sebagai fakta kalau mampu menghadirkan sosok penguasa seutuhnya. Tapi kalau fakta itu menyangkut sisi lain kekuasaan, ia adalah rumah dengan seribu pintu. Semua orang dibuat tak punya legal standing untuk melakukan justifikasi terhadap kebenaran dan kesalahan.

Sebagai karya fiksi, novel “Siapa pembunuh Palomino Molero” kurang menggigit. Tapi sebagai kesaksian, novel ini menemukan sentuhannya pada keinginan untuk membongkar “tradisi kelam” para penguasa absolut. Llosa, seperti halnya para pengarang Amerika Latin lainnya, begitu sadar untuk menjadikan karyanya sebagai suara lain sejarah. Kediktatoran kaum militer atau pun keculasan kaum kapitalis telah menjadi teror menakutkan. Maka, karya sastra menjadi fakta lain dari fakta yang menakutkan itu.

Dalam konteks Indonesia, novel Llosa itu sangat “enak” untuk dibaca sambil mendengarkan berita bentrok TNI-Polri atau suara live dialog para pejuang HAM. Kalau di Amerika Latin kesemuan fakta disebabkan kekuasaan absolut penguasa-militer, di Indonesia fakta menjadi fiksi karena politik impunitas. Kalau di Amerika Latin, kasus pembunuhan menjadi fiksi karena keotoriteran, di Indonesia kekaburan fakta karena konspirasi elite politik.

Kasus penculikan para aktivis oleh Tim Mawar, penembakan empat mahasiswa Trisakti, Pembunuhan Aktivis HAM Munir, hingga kasus HAM lainnya menjadi serangkaian cerita fiksi mendebarkan. Dari satu forum ke forum berikutnya berbagai kasus itu seperti serangkaian bab novel tak kunjung usai. Berbagai dalih, upaya, tokoh dan teori disuguhkan. Olok-olok pada janji pemimpin tak mampu mengubah kadar “imajinasi” insiden kelam kemanusiaan itu.

Sejauh ini, tidak etis kalau kita berkata negara ini diam atas berbagai kasus kemanusiaan itu. Berbagai upaya dan langkah mungkin telah dilakukan. Seperti dua polisi desa yang melakukan penyelidikan terhadap pembunuh Palomino. Tapi sejauh ini pula, kita hanya disuguhi laporan peristiwa-peristiwa “fiksi” menggelikan. Toh, kalau pun ada yang ditindak tegas, mereka hanya kelas teri. Mereka adalah Palomino yang mesti disingkirkan dengan cerita cinta dan perselingkuhan. () 

*Esais tinggal di salametwahedi@gmail.com dan @set_wahedi

Sabtu, 14 Juni 2014

Korupsi, Sakit Kepala dan Orang-Orang Terpilih

Oleh Moh. Fathoni

“Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Tanya seorang lelaki kepada lelaki lain yang lebih tua dalam sebuah iklan. Kata ‘menang’ di sini mengandaikan adanya suatu pertandingan atau kompetisi. Bagi seorang caleg, menang berarti mengantongi suara lebih dalam proses pemilihan. Dan, ia disebut sebagai pemenang atau orang yang terpilih, semacam manusia pilihan. 

Seorang ronggeng dalam novel Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, misalnya, sekilas tampaknya dipilih bukan oleh manusia, tetapi ada semacam ‘pulung’ yang jatuh kepada seseorang. Seorang ronggeng seperti dipilih oleh pihak di luar kekuatan manusia, yang bersifat melebihi kekuatan manusia. Tapi, kemudian ia juga perlu dinyatakan. Ada manusia yang membuat pernyataa, bahwa ia terpilih, ia bukan sembarang orang. Dan, saya tidak hendak mengatakan seorang caleg yang menang adalah ronggeng. 

Namun, soal manusia terpilih ini bukan ‘sekedar’ persoalan manusia memilih manusia. Proses pemilihan dalam demokrasi dengan sistem kalah-menang dapat dipahami sebagai suatu kompetisi. Semangat persaingan atau pertandingan ini yang menjadi urat saraf demokrasi. Benarkah ‘demokrasi’ macam ini yang kita kehendaki? Demokrasi yang melahirkan pemenang dan menistakan pecundang? Saya teringat kata Adorno tentang konformitas. Manusia terpilih dalam pemilihan umum (pemilu) barangkali semacam konformitas. 

Pemilihan umum yang melibatkan konstituen rakyat menjadi kedok untuk mengkonstitusi individu yang ‘terpilih’. Bukan berarti saya menolak pemilu, tetapi sistem yang kemudian menghasilkan individu pemenang, legislator, atau bukan tidak mungkin juga koruptor ini telah memanipulasi massa. Individu itu dikonstruksi lekat dan dekat dengan rakyat, sehingga terjadi semacam penyerobotan identitas massa pada diri individu—individu yang telah dikonsepsikan sebagai representasi rakyat, yang mengusung cita-cita demokrasi. 

Dalam pengertian yang paling sederhana, individu terpilih itu berkonsepsi ganda. Pengertian ini tidak terelakkan ketika korupsi, monopoli dan kesenjangan dijembatani dengan pemilihan umum yang seolah-olah mempunyai garansi, seperti obat sakit kepala yang menjamin kesembuhan. Tetapi, bukankah kita sedang membicarakan iklan. Dan, saya tidak sedang membahas hubungan antara demokrasi, pemilu, dan iklan. “Pak, saya caleg, gimana caranya supaya saya bisa menang?” Sebuah pertanyaan klise yang dianggap penting. 

Sebuah kegalauan calon legislatif (caleg) yang hampir dapat dipastikan ia adalah caleg baru. Tentu bukan caleg lama yang punya kekhawatiran seperti itu. Mereka barangkali sudah cukup berpengalaman, lebih-lebih tidak akan kaget atau mendadak punya masalah dengan kata ‘korupsi’ ketika masa kampanye. “Kerja keras, jujur, dan.. tidak korupsi,” jawab ki dalang mantep sudarsono, ditanya si caleg anyaran tadi. Mendengar kata korupsi mendadak si caleg pusing. Sekilas, dalam nalar iklan barangkali ini wajar. Pusing bisa diatasi dengan obat sakit kepala. Nalar iklan barangkali cenderung menyarankan secara praktis pada merk obat. 

Secara medis mungkin obat bisa menyembuhkan pusing, tapi yang menarik di sini adalah mensejajarkan persoalan korupsi dengan medis. Tapi, apakah pusing sebab korupsi bisa diobati dengan Oskadon? Atau, pusing sebab memikirkan pemenangan caleg bisa diatasi dengan obat sakit kepala? Dalam nalar medis Oskadon memang berkaitan pusing atau sakit kepala. Menarik, Oskadon tiba-tiba terlibat dengan persoalan yang rumit dipikirkan. Lantas, benarkah yang dimaksud ‘pusing’ di sini sebagai persoalan medis atau sekedar pencitraan merk obat? Saya tidak bermaksud mendiskreditkan salah satu merk obat. Bisa jadi ini persoalan metaforik. Pusing atau sakit yang secara anaatomi berada di kepala.

Barangkali bukan hal yang tidak disengaja keterkaitan antara sakit kepala, korupsi dan obat sakit kepala. Jika begitu, maka korupsi bisa jadi bukan tidak disengaja. Apalagi iklan itu, waktu itu yang saya tonton, ditayangkan dalam sebuah acara yang bertajuk “Indonesia Baru” di sebuah stasiun televisi swasta. Acara itu menghadirkan salah satu sosok yang dicalon sebagai RI 1 2014. Hadir pula grup band Slank, yang beberapa kali bertanya soal kepemimpinan dan mendendangkan lirik ‘jangan ingkari janji..” setelah jeda iklan. Saya membayangkan, apakah si caleg juga tiba-tiba pusing mendengar lirik lagu Slank itu. Saya juga tidak melihat sosok yang disebut calon RI 1 itu tampak seperti si caleg di iklan obat sakit kepala itu. 

Tampak pusing atau tidaknya mungkin bukan persoalan, jika korupsi menjadi semacam properti dalam iklan sabun pencuci tangan. Sayangnya tidak ada iklan semacam itu. Semoga tidak!

Sabtu, 22 Maret 2014

Kitab Emrithi dan Capres 2014

Oleh Set Wahedi

Beberapa bulan lalu, sebelum menginjak kalender 2014, saya sempat deg-degan dengan isu rezim kebohongan. Mereka yang tergabung dalam tokoh-tokoh lintas agama dan aliran, menuding pemerintah (:dalam hal ini Presiden dan seluruh jajaran kabinetnya) melakukan kebohongan publik. Maksudnya, Presiden dan para pembantunya hanya bisa bicara, tapi tidak pernah melaksanakan apa yang telah diucapkannya. Saya deg-degan karena kalau itu benar, negara ini diambang kebangkrutan (kalau tidak kehancuran).

Memasuki tahun 2014, isu yang berkaitan dengan pemerintahan –terutama calon presiden- semakin berjubel: kisruh hambalang yang nyerempet lingkaran istana, para penerus yang ramai dalam survei, hingga rangkap jabatan yang membuat kita semakin bingung menetukan presiden dan ketua umum partai. Dari sekian isu yang seksi untuk dilihat dari pengalaman saya di pondok pesantren, siapakah calon presiden yang pas untuk negeri ini ke depan?

Presiden (baca: pemimpin), dalam pemahaman saya waktu nyantri dulu, menempati urutan nomor tiga sebagai pihak yang mesti “diikuti” –setelah ketundukan pada Allah dan rasulnya. Sedangkan dalam khazanah Madura –lingkungan pondok pesantren saya- pemimpin (rato) menempati urutan keempat untuk ditaati setelah bapak, ibu dan guru. Dari dua referensi ini, saya mengangankan capres kita itu tidak hanya karena KTPnya beragama. Akan tetapi pemimpin itu mampu memahami titah tuhan, meneladani nabi dan mengambil kebijakan demi kemaslahatan umat. Selain itu, capres itu kudu mampu mencerminkan tindak-tanduk untuk menjadi pemimpin (Bapak), pengayom (Ibu) dan dapat dijadikan contoh (Guru).

Referensi lain yang cukup menarik untuk kriteria capres ideal 2014 ini, saya temukan dalam Kitab Emrithi. Dalam mukaddimah (pengantar) karya Syekh Syarifuddin Syekh Syarifuddin Yahya Al-Emrithi ini, terdapat baris yang berbunyi “wannahwu aula awwalan an-yu’lama, idzilkalamu dzunahu lan-yufhama” (baris 9). Terjemahan bebasnya: dan ilmu nahwu itu lebih utama untuk diketahui, karena tanpa itu (:nahwu) perkataan tidak bisa dipahami. Dan dalam saduran bebas saya: dan contoh (nahwu) –bisa juga suritauladan, tingkah laku atau perilaku yang baik lainnya- merupakan hal utama untuk diketahui. Karena tanpa itu, perkataan, anjuran, janji, tak akan dapat dipahami.

Ingatan saya pada baris Emrithi cukup lekang. Karena baris itu selalu dibaca berulang sejak kelas dua MTs hingga kelas 3 SMA. Sedangkan ketertarikan saya untuk mengaitkannya dengan capres 2014, terletak pada keinginan saya untuk membuat semacam catatan atau kriteria capres ideal berdasarkan kitab-kitab yang saya geluti di pondok. Jadilah, tabel itu saya isi –sebagiannya- dengan baris emrithi itu: pemimpin itu harus paham nahwu. Bisa memberi contoh. Bukan banyak bicara. Pemimpin itu- seperti iklan rokok: talk less do more. Kenapa?

Pertama, saya ingin kembali pada persoalan rezim kebohongan. Gara-gara Presiden banyak pidato dan janji, kita tidak peduli: mana janji yang diucapkan sepenuh hati dan mana janji sekadar ngapusi. Saking tidak pedulinya, kita anggap semua pidato itu mesti ditepati. Kalau demikian, isu bohong yang dilontarkan oleh para cendekiawan agama mungkin ada benarnya. Kalau pemerintah selama ini hanya selalu berkata-kata; tanpa tindakan yang jelas dan nyata, mungkin para penuduh itu memang tidak memahami apa yang terkandung dalam dawuh penguasa tersebut. Apalagi dalam kenyataannya memang banyak kata-kata yang tidak klop dengan tindak-tanduknya.

Kedua, saya akan memilih capres berdasarkan jejak rekam hidupnya. Seperti diuraikan Ki pengarang Emrithi di atas, tanpa contoh segala perkataan tidak akan terpahami. Bagamana capres itu bisa berbicara kesejahteraan kalau selama ini –maksud saya selama sebelum mau mencalonkan diri jadi capres- tindak-tanduknya menimbulkan keresahan. Bagaimana capres itu bisa menjanjikan negara adil-makmur-sejahtera, kalau di masa lampau ia terlibat dengan penculikan terhadap aktivis kebebasan? Bagaimana saya akan memilih capres yang selama jadi kebijakan impor garamnya membuat petani garam kalang kabut? Bagaimana saya akan memilih dia, kalau selama jadi menteri namanya banyak dikaitkan dengan isu korupsi?

Ketiga, saya ingin mengurangi kebingungan di tengah tumpukan buku-buku biografi dan motivasi presiden dan calon penerusnya: SBY, Jokowi, Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan lainnya. Saya bingung dengan nuansan melodrama atau heroik buku-buku tersebut. Bahkan sebagian buku-buku tersebut lebih banyak kontrovesinya daripada pendidikannya.

Anehnya, sebagian buku-buku tersebut sering diseminarkan. Seolah-olah dengan buku dan seminarnya, rakyat jadi paham akan jejak rekamnya. Seolah-olah dengan buku mereka berharap rakyat langsung kepincut dengan raut lucu atau riak keluhnya.

Sayangnya, buku bukanlah juru selamat. Memang, Kafka menandaskan kalau buku semisal kapak es. Dengan kapak es inilah, segala macam batu kebandelan dan kebodohan dapat dipecahkan. Tapi sebagai kapak es pula, buku dapat dijadikan membongkar masa silam yang selama ini ditutup-tutupi. Buku -semisal kitab-kitab kuning di pondok yang membutuhkan ilmu nahwu untuk memahaminya- adalah ruang di mana perdebatan makna berjumpalitan. Dan di ruang kenyataanlah, perdebatan itu akan menemukan kebermaknaannya.

Sekali lagi, berdasarkan baris kesembilan nadloman emrithi di atas, saya ingin menandaskan bahwa capres ideal, itu orang yang bisa menciptakan nahwu. Bukan sekadar buku. Apalagi kata-kata. Karena tanpa ilmu nahwu, kalam (perkataan atau gagasan) nya terasa hambar.

Kamis, 20 Maret 2014

LAHIRNYA NARASI: SEBUAH PERSOALAN DAN POLITIK PENGABAIAN

Oleh Moh. Fathoni

Pengantar Membaca Novel Julian Barnes, A History of the World in 10 ½ Chapters (1989)

Kita bisa saja mengatakan, lahirnya narasi disebabkan adanya persoalan, ada sesuatu yang ingin diungkapkan; sebuah persoalan yang bermotif kekuasaan, maka narasi bisa dikatakan sebagai politik. Apakah itu untuk memelihara kekuasaan atau sebaliknya. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa barangkali pandangan ini tidak hanya politis, tetapi juga epistemologis. Sebagaimana diktum Foucauldian, kekuasaan beroperasi dalam pengetahuan, bahkan keduanya terjalin dan sejajar. Maka, menjadi jelas relasi penciptaan narasi tidak dapat mengelak dari keterlibatan keduanya.

Dalam diskursus kekuasaan seorang yang memiliki pengetahuan, atau Bagi Edward Said seorang intelektual, memiliki tugas untuk berpendapat, mengajukan suatu pandangan tentang suatu kebenaran. Said menggarisbawahi bahwa politik yang dimaksud adalah sebuah strategi, sebagai cara berpendapat yang juga memungkinkan digunakannya strategi naratif, sebagaimana dalam sastra. Maka, sebaliknya, narasi apapun pada dirinya melekat unsur politis. Di sini politik tidak hanya dipahami secara tradisional, sebagai sesuatu yang sosial, tetapi juga bersifat personal, sesuatu yang juga instrumental sekaligus contingent.

Dalam narasi kolonial Barat, bangsa-bangsa Eropa menganggap mereka mempunyai nilai kebenaran, mengemban tugas etis dalam peradaban manusia. Tetapi, dalam perspektif Timur bangsa-bangsa kolonialis melakukan tindakan kejahatan dalam bentuk penaklukan dan penindasan. Maka, kemudian lahirlah nasionalisme yang meng(re)konstruksi narasi perlawanan dan perjuangan melawan kolonialis.

Sebagai bangsa yang pernah dijajah, Indonesia mereproduksi narasi masa lampau untuk mengedarkan energi nasionalisme. Narasi kemerdekaan dan kepahlawanan dianggap perlu diungkapkan dengan menekankan pada semangat perjuangan dan pengorbanan dalam rangka cinta tanah air. Dan, sebaliknya dalam narasi kolonial.

Barangkali ini persoalan sudut pandang. Misalnya, dalam sejarah kolonial orang Australia direpresentasikan sebagai seorang  pencuri, perampas dan suka berperang, membunuh dan pemberontak, sebagaimana orang pribumi direpresentasikan biadab atau brutal. Sejarah kolonial Australia misalnya Coinages1 menyebut pengertian “ban lengan hitam sejarah”, suatu ekspresi untuk merendahkan rekonstruksi sejarah dari sudut pandang Aborigin di Australia, yang digunakan untuk mengungkap kebenaran yang ‘tak menyenangkan’ pada masa kolonial.

Kebenaran dalam sejarah modern seringkali dipahami sebagai sesuatu yang final, objektif, stabil dan established.

Maka, narasi asal-usul (asli pribumi) dalam penulisan sejarah (historiografi) seolah-olah menjadi satu-satunya ‘kitab suci’ peradaban manusia di masa depan. Jika demikian, maka hal ini menjadi semacam ilusi yang berbahaya, yang memberikan harapan bagi kepentingan kekuasaan, yang sekaligus menjadi suatu kecurigaan yang mengeksklusi sudut pandang dan mode berpendapat lainnya. Sebuah pencapaian besar dalam peradaban manusia modern bahwa kebenaran masa lampau dapat diperoleh melalui teks-teks sejarah.

Sementara mode naratif (fiksi) dalam pandangan akademis (positivistik) dipandang sebagai sesuatu yang labil, dimana kebenaran yang ingin dicapai dianggap bersifat tidak langsung, tidak pasti, subjektif—ringkasnya: fiktif, seperti halnya pada mode simbolik, puitik atau naratif.

Padahal, sebagaimana dalam pandangan sejarah baru, alur penulisan sejarah tak ubahnya seperti penulisan suatu cerita, dengan menyertakan rangkaian peristiwa, tokoh, setting, sudut pandang, dan lainnya, yang memungkinkan adanya imajinasi. Maka, kita tentu tidak heran jika disebutkan bahwa narasi Perang Teluk di Timur Tengah hanya karangan atau fiksi belaka, termasuk narasi peristiwa 9/11 hanya politik untuk memunculkan tokoh pembajak atau teroris sebagai pihak antagonis, misalnya. Atau, dengan kata lain, antara kebenaran faktual sejarah, fiksi, dan mitos, perlu dipertimbangkan lagi kebenarannya.

Dengan demikian, dalam konteks ini jika Edward Said menyatakan ‘speaking truth to power’, maka ada benarnya secara politik, dan akan berbeda jika dipahami Diana Brydon dalam pengertian ‘keadilan’ politics of blame.2 Artinya, konsekuensi politis pada pembedaan antara “kami” dan “mereka”—yang berimbas secara etis pada yang bersalah dan yang tidak, yang lebih lanjut seringkali secara tidak langsung menyatakan suatu diskursus antara kebaikan dan kejahatan, dosa dan hukuman, yang diajarkan oleh buku-buku agama Kristiani, Islam dan Yahudi—yang meskipun sebagai strategi perbaikan dan keberpihakan, tetapi menimbulkan klaim-klaim politik berikutnya, yang disebut dengan ‘politik menyalahkan’ itu.

Terlepas dari perbedaan itu (lihat: politik postkolonial)3, yang perlu ditekankan adalah bahwa narasi dan pendapat di atas tidak dapat dipahami tanpa melibatkan persoalan di luar narasi, di luar teks. Membaca narasi fiksi sejarah misalnya tidak mungkin tidak memerlukan pengetahuan historis. Maka, dalam hal ini pembacaan terhadapnya tidak cukup hanya dengan perangkat formalistik atau strukturalis.

Pengertian Louis Montrose yang menyebut ‘tekstualitas sejarah dan historisitas teks’ dalam sejarah baru,4 memungkinkan semacam paduan antara puitika dan budaya sebagai teks (Geertz). Pandangan ini sejalan dengan semangat parateks dalam penulisan sejarah atau interteks dalam narasi fiksional, sebuah cerita yang dirangkai dan dijalin dengan unsur fakta atau data dengan imajinasi.5 Sehingga baik dokumen, laporan, berita, ataupun catatan harian, berkelindan dalam narasi imajinatif, yang memuat suatu tanda dan makna. Maka, peristiwa diposisikan sebagai penanda, dan makna masa lampau bukan pada ‘apa yang terjadi’ tetapi ‘peristiwa itu menandai apa’. 

Dari pandangan sejarah baru kita dapat mengatakan bahwa peristiwa masa lampau memang pernah terjadi, tetapi kita yang hidup di masa kini tidak mungkin dapat mengetahuinya dengan pasti. Kita tidak bisa berbicara dengan orang yang sudah mati, demikian kata Greenblatt. Untuk itu ia menawarkan pembacaan puitika kultural terhadap suatu karya. Sejalan dengannya, Julian Barnes dalam bagian cerita “Shipwreck” dari novel A History of the World in 10 ½ Chapters-nya menulis, “Bagaimana anda merubah malapetaka menjadi (karya) seni?”6

Maka, dengan begitu peristiwa artistik juga menyediakan ruang bagi pembacaan simbolik dalam suatu diskursus politik narasi. Di bagian cerita itu Barnes merekonstruksi peristiwa tenggelamnya kapal Medusa di laut Mauritania tahun 1816, kemudian Gericault membuat lukisan “Scene of Shipwreck” pada tahun 1819, dan ia sendiri menulis cerita tentangnya pada tahun 1989. Yang menarik adalah Barnes mengungkapkan sesuatu yang tidak dilukiskan Gericault dan yang tidak diceritakan oleh orang-orang yang selamat, Savigny dan Correard diantaranya; hal yang diabaikan, yang tidak disuarakan, tidak dihadirkan, tidak diberikan ruang, yang dianggap tidak ada, adalah suatu persoalan, sebuah permulaan diciptakan narasi.

Dan, di bagian paling awal novelnya, Barnes memulai dengan menarasikan cerita ulat kayu (woodworm; Jawa: sejenis rayap,  nonol, atau nener), sebagai spesies yang tidak dianggap ada atau disebut sebagai penumpang gelap dalam narasi Nabi Nuh dan Kapalnya. Sebagai penumpang gelap, ulat kayu juga memiliki narasi sendiri..

Note:
1    1. Lihat dalam Pilger, John. The New Rules of the World. London: Verso, 2002. Hlm. 192-3.
2    2. Brydon, Diana. “Is There a Politics of Postcoloniality?” Postcolonial Text, Vol. 2, No. 1, 2006
3    3. Ibid.
4    4. Louis Montrose dalam Brannigan, John, New Historicism and Cultural Materialism. London: Macmillan Press Ltd, 1998, hlm. 84
5    5. Linda Hutcheon, Politik Posmodernisme (terj. Apri Danarto), Yogyakarta: Jendela, 2004, hlm. 129
6. Barnes, Julian, A History of the World in 10 ½ Chapters, New York: Vintage International ed. Epub, hlm. 106. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1989

Perhatian Untuk Pemburu Buku

Oleh Afif “Che” Arifin

"Don’t judge the book by the cover” 

Pepatah ini menyiratkan agar kita tidak menilai orang dari penampilannya. Bolehkah Anda tidak setuju? 

Sangat boleh. Apalagi pada buku. Coba Anda bayangkan. Besok pagi adalah acara spesial Anda karena akan menghadiri acara pertunangan Anda dengan calon yang sangat Anda cintai. Apa yang pertama akan Anda perhatikan agar tidak mengecewakannya? Penampilan! Dan di dalam ilmu sosial penampilan dikenal dengan labelling; sebuah pencitraan yang tercipta melalui penampilan luar seseorang di mata orang lain. Dalam industri makanan dikenal dengan kemasan. Makanya sampai ada jurusan desain produksi.

Jika Anda ingin mengetahui isi sebuah buku dengan benar sebelum membelinya maka Anda harus tidak setuju. Saya pun begitu. Jadi, mari kita buang dulu kata don’t-nya.

Anda pasti tahu, buku adalah nutrisi otak yang tidak hanya berakibat jangka panjang. Namun Anda juga harus tahu kalau ternyata buku adalah sebuah pergumulan sengit dalam hal angka-angka bisnis. Anda ragu? Lihat saja dari cover. Anda bisa buktikan itu dengan tagline-tagline yang disematkan, semisal: kata “best-seller”, money-back guarantee (jaminan uang kembali), edisi revisi, sebuah kalimat penjelas seperti “penulis buku best-seller ABDC dan XYZ”, atau juga testimoni seseorang/lembaga yang memiliki otoritas tertentu. Bahkan terkesan ugal-ugalan. Semua itu untuk satu titik ujung: menukarnya dengan uang dan waktu Anda.

Hati-hati Anda menentukan buku yang akan dibaca karena you are what you read. Menentukan suatu buku untuk dibaca berarti Anda sudah memastikan asupan gizi yang akan masuk pada dendrit otak Anda. Dan sebagai calon pembeli dan pembacanya tentu Anda ingin mengetahui sekelebat jeroan buku tersebut agar tidak mengecewakan komputer canggih yang terletak 5 cm di bawah rambut Anda. Kita mulai.

Judul Buku

Mungkin Anda bilang, ya iyalah judulnya. Anda benar. Tapi tunggu dulu. Anda tahu karya Rhonda Byrne yang judulnya bikin penasaran dan booming di mana-mana? Judulnya The Secret (rahasia). Siapa yang tidak ingin tahu rahasia jika itu bermanfaat dan memancing minat? Dan ini kuncinya. Seberapa berbobot olah kata dalam judul itu mewakili seluruh isi buku dan pasti memantik minat baca Anda. Pendeknya, judul itu soal seni meracik kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang bisa pembeli dapat agar menarik minat. Kenapa pembeli? Kembali ke hitung-hitungan bisnis seperti yang saya singgung di atas. Kenapa harus menarik minat? Lihat lagi judul the secret.

Saya ingin bercerita pada Anda. Ketika memasuki sebuah toko buku satu tahun lalu, di sebuah rak terpampang buku dengan desain simpel dan judul pun super simpel hanya dua huruf. Judul buku terpendek yang pernah saya temui. Penasaran, saya ambil. Ah, terbungkus. Kalau saya sobek bungkusnya berarti saya harus beli. Apa yang kemudian saya lakukan? Saya langsung membaliknya ke bagian ...

Sinopsis

Di sisi belakang cover tertulis penjelasan singkat dan manfaat yang akan saya peroleh jika membeli buku tersebut. Saya mulai tertarik. Sejenak, saya mendapat kesimpulan awal bahwa buku yang akan saya beli adalah buku ‘montok’, plus dengan tuntunan teknis yang mengisi kemontokannya itu, katanya.

Sampai di sini Anda sudah mendapatkan gambaran buku melalui pendekatan ini. Dan selanjutnya ini yang bisa Anda lakukan lebih jauh untuk menemukan isi buku. Jika kebetulan ada yang sudah terbuka bungkusnya maka langsung saja ke bagian...

Daftar Isi

Di sana Anda akan dibawa lebih mendalam mengenai isi buku. Lihatlah poin-poin tertentu dari awal bab hingga bagian terakhir. Adakah yang cocok isi buku dengan keinginan Anda.

Tambahan untuk Anda yang ini: lihat juga adakah profil penulisnya. Jika ada, baca juga. Ini juga memberikan jaminan apakah Anda sedang menimang-nimang buku yang ditelurkan oleh penulis yang memiliki jam terbang tinggi terkait bukunya atau buku yang hanya mencicipi pangsa pasar dan “asal dapur mengepul”. Jangan sampai Anda mengalami kecewa seperti saya karena dulu ceroboh membeli buku yang ternyata hanya berisi kompilasi dari internet. Saya terkecoh oleh desain dan judul. Di dunia perkutu-bukuan, buku prematur demikian itu dikenal dengan istilah ‘buku sampah’ dan hanya ‘menyesaki’ rak buku.

Anda masih ingin mengetahui cara lain mengetahui isi buku dengan sekali tebas saja? Buka saja bagian ...

Kata Pengantar

Ini cara terakhir yang saya terapkan agar tidak berlama-lama di toko buku dan tidak sampai dilirik pemiliknya terus menerus. Hemat waktu, tentunya. Tapi sekali lagi ini untuk buku yang disediakan memang tanpa bungkus. Melalui bagian ini Anda juga bisa mengetahui lebih jauh apa dan bagaimana buku itu dihidangkan. Biasanya, buku yang ditulis dengan ciamik akan berisi pemaparan singkat bagian detil tubuh buku sehingga Anda tidak sedang memasuki sebuah ruangan kosong kedap suara dan gelap. Selanjutnya setelah membaca kata pengantar, keputusan ada di tangan Anda.

Jika Anda merasa belum cukup mengobati rasa penasaran mengenai sebuah buku cobalah googling dan pantau seberapa bergizi buku itu di mata pembaca yang lain. Ini akan menjamin Anda untuk menilai secara autentik ‘booming’ buku itu.

Yang lebih ampuh adalah jika Anda menemukan diskusi, komentar, pandangan dan sebagainya di forum-forum media sosial. Di sanalah suara asli pembacanya tanpa ada ‘pesanan’ penerbit maupun penulisnya. Saya pun begitu.

Sampai di sini, Anda sudah memiliki gambaran jelas ketika akan membeli buku dengan cara melihat retorika judulnya, deretan kalimat-kalimat sinopsisnya, susunan daftar isinya dan pemaparan kata pengantarnya serta googling di forum socmed.

Bonus untuk Anda. Lihat testimoninya bila ada. Itu lumayan menjamin lho untuk kualitas buku. Apalagi dari media sosial, itu aslinya testimoni.


Apakah Anda atau teman Anda punya pengalaman berbeda ketika berburu buku? Adakah cara yang lebih jitu yang mungkin untuk diterapkan sebelum membeli buku?

Sabtu, 08 Maret 2014

Jejak Obama

Oleh Set Wahedi

Orang-orang besar tidak hanya mereka yang dicatat sejarah. Orang-orang besar juga mereka yang mampu menunjukkan jati diri dan menjadi inspirasi. Kata-kata ini pantas kita simpulkan dari sosok Barack Obama. Presiden ke-44 ini tidak hanya menyita perhatian beribu pasang mata di setiap penjuru dunia, tapi sepakterjangnya di panggung politik Negara adidaya tersebut menjadi sumber inspirasi perubahan. Bahkan di pundak sosok yang kalem nan tegas itu, beribu mimpi bangkit dari liang kelamnya. Beribu harapan coba direnda kembali.

Ya Obama telah mampu membangkitkan dunia untuk berkata “Yes We Can”. Ya kita bisa. Perubahan itu bisa kita lakukan. Negara Amerika yang berwajah Drakula bisa kita dudukkan memandang kuasa langit. Beristigfar untuk menjelmakan diri sebagai malaikat.

Kemunculan Obama di pentas politik menuju kursi AS 1, sejak pertarungan sengitnya dengan mantan first lady Amerika Hillary Clinton, hingga duel menentukan dengan McCain, menjadi titik perhatian dunia. Semua orang di segala penjuru dunia tidak hanya ternganga dengan pidatonya yang membangkitkan gairah dan semangat. Tapi sosoknya yang berlatar belakang klas ‘marginal’ kulit hitam afro-asia sekaligus Amerika, seolah memang diidamkan untuk mencatatkan sejarahnya sendiri.

Tidak dapat dielakkan lagi, kemenangannya pun disambut gegap gempita penjuru dunia. Tidak hanya rakyat Amerika yang bersorak-sorai. Masyarakat Kenya, ranah muasal kakek Obama, juga dengan euforia dan histeria yang memuncak turun ke jalan-jalan untuk menarikan kemenangan Obama.

Begitu pun di Indonesia, tempat Obama menghabiskan masa kecilnya. Terutama masyarakat Menteng Jakarta, yang menyimpan jejak Obama kecil. Tidak mau ketinggalan, Bali pulau penuh kenangan dan sejarah orang-orang besar yang pernah disinggahi Obama juga ikut merayakan kemenangannya.

Bahkan perayaan Obama di Bali tidak hanya sekadar euforia fisik semata. Tapi kemenangan Obama pun menginspirasi seorang Nurinwa Ki S. Hendrowinoto untuk merayakan kemenangan Obama dalam dunia ‘metafisik’ karya sastra.

Lewat novel “Pesta Obama di Bali”, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, hendak memercakapkan sosok Obama yang benar-benar membangkitkan gairah dan semangat manusia untuk tidak berhenti berharap pada suara langit.

Novel ini bercerita tentang perayaan kemenangan Obama dengan upacara tari Legong Bali. Persiapan pesta obama inilah yang menjadi muasal percakapan peristiwa dibangun. Seperti diceritakan Nyi Legong penari terkenal, yang telah lama memutuskan untuk tidak menari pada akhirnya luluh menelan ‘ludah’ sumpahnya. Ritual-ritual persiapan pun dilakukan. Ziarah tapak tilas jejak Ann Dunham, Ibu Obama merupakan ritual pembuka serangkaian upacara menghikmati jejak Obama di Indonesai. Cerita ini semakin menarik dengan terlibatnya dan kehadiran berbagai elemen masyarakat yang ikt andil dalam pesta Obama di Bali ini: Mahasiswa, seniman, profesor, ditambah jenderal Amerika. Selain suguhan realitas ‘nyata’, jalan cerita dalam novel ini juga dibumbui mistis ala Bali, kasus hadiah ‘benda’ seks yang mengguncang jagad dunia, serta dialog untuk memaknai sakralitas ‘semu tafsir’ agama di negeri ini.

Kehadiran novel ini di tengah satirnya kerinduan akan perubahan dunia di pundak Obama, seolah mengajak bangsa Indonesia merenungkan dirinya. Kemenangan Obama hendaknya ditangkap sebagai suara langit yang mesti kita amini dengan siap-sedia melakukan perubahan, kita mesti menangkap isyarat ini sebagai kehendak yang kuasa. Kita mesti melihat keberpihakan langit dalam memenangkan Obama sebagai presiden Amerika  ke-44, itu juga pertanda keberpihakan langit kepada dunia yang banyak manusianya tertindas (hal. 30).

Dan Indonesia merupakan dunia yang banyak manusianya tertindas. Tidak hanya itu, Obama yang diharapkan mengubah wajah Amerika, hendaknya juga menginspirasi bangsa ini untuk tidak berhenti berharap, mudah-mudahan free port, perusahaan tambang emas di Papua mengubah rakyat yang memakai koteka menjadi seperti Obama, misalnya. Dengan kata lain, perayaan kemenangan Obama dengan tapak tilas jejaknya di Indonesia, diharapkan menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk meneriakkan “We need change”, “Yes We Can”!

Perubahan bagi bangsa ini, yang terkungkung oleh 'mitos intelektual' generasi LSM yang menjual kemiskinan bangsa dan mengemis di luar negeri, yang terbelenggu 'dogma' politik yang menyebabkan kita buta apresiasi terhadap prestasi anak negeri semisal minimnya penghargaan terhadap karya besar Pramoedya, merupakan hal yang urgen untuk kita lakukan. Sikap perubahan ini pun mesti dijelentrehkan seperti Nyi Legong, tokoh utama novel ini, memutuskan untuk menelan ludah sumpahnya, untuk menari lagi demi sosok pembawa deru perubahan Obama (hal 13).

Sosok dan sikap Nyi Legong ini untuk menari lagi, secara implisit menyodorkan sebuah tawaran bagi bangsa ini untuk lebih terbuka. Tarian Nyi Legong ini merupakan ajakan untuk menemukan spirit perubahan. Hal ini dapat kita tangkap dari sikap 'mitos' Nyi Legong yang luluh oleh sosok besar pembawa angin perubahan, Barack Obama. Dengan kata lain, bangsa Indonesia sudah saatnya menanggalkan segala mitosnya: takhayul, paternalistik, pandum nrima yang buta, juga ketakmampuannya memberikan pilihan bagi hidupnya, meminjam kata-kata Mochtar Lubis dalam esai "Manusia Indonesia".

Novel ini pun tidak luput dan lupa untuk mengingatkan kita akan berbagai kecelakaan sejarah yang pernah dan mencekam negeri ini, namun tenggelam dan kabur di buku sejarah. Yang semua hal itu sudah saatnya untuk diungkap dan diselesaikan serta menjadi pelajaran bangsa ini menatap masa depan. Kekejian dan kebiadaban sebuah bangsa dalam medan laga adalah biasa. Namun pembantaian sebuah bangsa oleh bangsanya sendiri adalah sungguh di luar nalar kekejian biasa itu. 

Tidak hanya hal-hal serius yang diangkat Nurinwa, persoalan BH, celana dalam, tuhan, dan persoalan agama kita pun disentilnya. Kita diajak untuk merenungi, memikirkan dan mendialogkan segala peristiwa dan kejadian di sekitar kita. Bahkan hal yang sepele, seperti hilangnya BH dan celana dalam Nyi Legong ternyata bisa berbuntut panjang ke gedung putih dan membakar jenggot pemuka agama.  Seperti komentar Melani Budianta di sampul belakang novel ini, di sinilah urakannya seorang Nurinwa yang tidak sungkan-sungkan menyajikan renungan hidup yang tidak mengawang. Tetapi lewat fragmen-fragmen liar nan nakal ini, Nurinwa hendak memupus kepicikan pola pikir bangsa ini dari tradisi feodalisme, menerima kemajemukan lebih terbuka, dan mengedepankan dialog serta pemikiran yang cerdas dalam menyelesaikan masalah.

Secara keseluruhan, dengan bahasa yang estetis, lugas, jauh dari kesan bertele-tele novel ini pantas untuk dijadikan konsumsi. Pola pikir liar nan banal ala Nurinwa yang urakan, yang terselip lewat kata-kata para tokohnya mengajak kita semua menatap langit kita yang sekian lama murung dan bermendung, dengan optimisme "Yes We Can" ala Obama.


Kamis, 06 Maret 2014

Menjawab Tantangan Guru

Oleh Set Wahedi

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoalan menemukan konsep dunia pendidikan yang ideal tak pernah usai. Hal ini berbanding lurus dengan gerak laju zaman yang selalu ditentukan dari riuh redam ruang kelas ataupun ruang kuliah para cendekia.

Lebih jauh, mencuat gonjang-ganjing Ujian Nasional (Unas) yang meresahkan berbagai elemen peserta didik, merupakan bukti paling mutakhir, bahwa dunia pendidikan selalu menuntut pada setiap peserta didik untuk selalu memikirkan, merumuskan dan menemukan konsep pendidikan yang ideal.

Selain persoalan konsep yang ideal dalam membentuk manusia yang seutuhnya, yang perlu diperhatikan adalah substansi dan esensi pendidikan itu sendiri. Seperti disinyalir dalam beberapa dekade terakhir ini, bahwa dunia pendidikan telah banyak mengalami berbagai kegagalan dalam membentuk karakter manusia seutuhnya. Dengan kata lain, tugas pendidikan banyak terabaikan. Terutama memanusiakan manusia. Artinya, dunia pendidikan selama ini tak ubahnya penjara bagi anak didik.

Di sinilah, kehadiran paradigma dunia pendidikan kritis yang diusung Paulo Freire (1986) menemukan ruang kontemplasinya. Lewat keyakinan akan pentingnya landasan pendidikan sebagai sebuah proses memanusiawikan manusia kembali, Freire coba memberikan jalan alternatif untuk memberontak pada tradisi dehumanisasi yang menyelimuti dinding ruang sekolah.

Untuk lebih memahami konsep pendidikannya, Freire menjabarkan kesadaran manusia menjadi tiga macam. Pertama, kesadaran magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Kedua, kesadaran naïf, yakni kesadaran yang melihat aspek manusia menjeadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Ketiga, kesadaran kritis, yakni kesadaran yang melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah.

Dengan mengacu pada kesadaran yang terakhir ini, dunia pendidikan selalu mendapatkan pertanyaan dari setiap peserta didiknya. Pertanyaan yang selalu merongrong kemandekan dan kejumudan lingkungan tumbuh kembangnya dunia pendidikan. Dengan kata lain, kesadaran kritis ini menuntut pada setiap peserta didik untuk terus menerus mempertanyakan, merombak, mencari dan merumuskan kembali setiap konsep pendidikan sesuai ruang waktu ke-disini-an dan ke-kini-an.

***

Di tengah tuntutan, tantangan serta berbagai persoalan kegagagalan dunia pendidikan, sosok guru merupakan pihak yang paling tertuduh. Sosok guru merupakan orang paling dimintai pertanggung jawabannya. Bahkan tidak ada alasan apa pun, yang dapat diberikan oleh seorang guru untuk membela dirinya.

Maka, ketika ujian nasional digulirkan dengan standar kelulusan yang cukup fantastis, sosok guru pulalah, yang mula-mula merasa ketar-ketir. Ia mesti bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi pada peserta didik: frustasi, stress, depresi dan segala keputuasaan mental generasi bangsa ini.

Maka perbaikan dan evaluasi pada kemampuan seorang guru, seolah menjadi hal yang logis untuk dilakukan pertama kali dalam memecahkan persoalan dunai pendidikan. Maka, kehadiran buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif" karya Dr. Suyatno, M. Pd. merupakan menu mujarab setiap guru dalam mempersiapkan dirinya sebagai peserta didik yang paling dituntut.

Dalam buku ini, sosok guru diajak untuk berkenalan dengan paradigma baru pendidikan, yang menekankan hadirnya prinsip pembelajaran yang inovetif dan keberanian seorang guru untuk melakukan inovasi. Dengan prinsip pembelajaran inovatif, seorang guru akan mampu memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri dan terjun di tengah masyarakatnya. Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.

Selain memberikan beberapa prinsip dasar, pembelajaran inovatif juga menekankan adanya pola dan strategi pendidikan yang utuh. Pola dan strategi pendidikan yang menitik bertakan pada tercipanya kesadaran peserta didik pada dirinya sendiri dan lingkungannya.

Selanjutnya, ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan. Inilah salah satu hal yang esensial yang dibawa buku ini. Seorang guru sudah seyogyanya untuk yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang seyogyanya untuk yakin bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang disampaikannya sama seperti yang kemarin (halaman 17).

Lebih jauh, keberanian seorang guru dalam berinovasi, serta merta akan membentuk karakternya menjadi kreatif. Kemampuan dan kapasitasnya, baik hard skill maupun soft skill, akan terasah dengan sendirinya. Kekreatifan seorang guru, akan berdampak tidak hanya pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana serta atmosfir pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning). Pembelajaran yang mampu mentransformasikan ilmu sekaligus mampu membetuk karaketr siswa yang manusiawi.

Di bagian akhir buku, juga diuraikan beberapa metode yang dapat digunakan oleh seorang kreatif dalam membangun suasana kelas yang familiar dan manusiawi. Suasana kelas yang tak lagi hadir sebagai ruang penjara yang dijejali teori, konsep dan tugas dari guru. Tetapi raung kelas yang mampu menggali potensi siswa dan menjernihkan nalar pikir anak didik dalam memahami dan mengaplikasikan kemampuannya untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

***

Di tengah berbagai tuntutan dan gonjang-ganjing dunia pendidikan, serta terealisasinya anggaran dua puluh persen APBN untuk pendidikan, kehadiran buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif'" memiliki arti dan peranan yang cukup penting. Pertama, buku ini dapat dijadikan referensi bagi setiap peserta didik untuk melihat paradigma baru dunia pendidikan masa kini.

Kedua, buku ini dapat menjadi media motivasi bagi setiap guru untuk lebih berani dalam melakukan pola dan strategi pembelajaran yang inovatif; pembelajaran yang mampu menciptakan ruang dan suasana kelas yang familiar dan harmonis, serta dinamis bagi anak didik. Ketiga, buku ini dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dalam melakukan transformasi keilmuan. Kreatifitas guru tentunya terletak pada kekayaannya memiliki metode dan aneka model pembelajaran, serta kecermatannya untuk memilih dan memilah metode dan aneka pembelajaran yang akan digunakan di setiap waktu yang berbeda.

Terlepas dari arti dan peran-fungsinya bagi peserat didik, terutama guru, buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif" memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi dunia pendidikan. Kehadirannya telah membuka simpul cakrawala dunia pendidikan yang masih dirundung ketidakpastian ujian nasional, yaitu simpul untuk menghadirkan suasana pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akumulasi angka, tetapi juga nilai-nilai kemanusiawian.{}

Judul buku                 : Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis                        :Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit                     :Masmedia Buana Pustaka
Cetakan                      :Oktober 2009
Tebal                          :viii +176 halaman

(dimuat di batam pos, tanggal 27 desember 2009)