Kamis, 20 Maret 2014

LAHIRNYA NARASI: SEBUAH PERSOALAN DAN POLITIK PENGABAIAN

Oleh Moh. Fathoni

Pengantar Membaca Novel Julian Barnes, A History of the World in 10 ½ Chapters (1989)

Kita bisa saja mengatakan, lahirnya narasi disebabkan adanya persoalan, ada sesuatu yang ingin diungkapkan; sebuah persoalan yang bermotif kekuasaan, maka narasi bisa dikatakan sebagai politik. Apakah itu untuk memelihara kekuasaan atau sebaliknya. Tetapi, saya ingin mengatakan bahwa barangkali pandangan ini tidak hanya politis, tetapi juga epistemologis. Sebagaimana diktum Foucauldian, kekuasaan beroperasi dalam pengetahuan, bahkan keduanya terjalin dan sejajar. Maka, menjadi jelas relasi penciptaan narasi tidak dapat mengelak dari keterlibatan keduanya.

Dalam diskursus kekuasaan seorang yang memiliki pengetahuan, atau Bagi Edward Said seorang intelektual, memiliki tugas untuk berpendapat, mengajukan suatu pandangan tentang suatu kebenaran. Said menggarisbawahi bahwa politik yang dimaksud adalah sebuah strategi, sebagai cara berpendapat yang juga memungkinkan digunakannya strategi naratif, sebagaimana dalam sastra. Maka, sebaliknya, narasi apapun pada dirinya melekat unsur politis. Di sini politik tidak hanya dipahami secara tradisional, sebagai sesuatu yang sosial, tetapi juga bersifat personal, sesuatu yang juga instrumental sekaligus contingent.

Dalam narasi kolonial Barat, bangsa-bangsa Eropa menganggap mereka mempunyai nilai kebenaran, mengemban tugas etis dalam peradaban manusia. Tetapi, dalam perspektif Timur bangsa-bangsa kolonialis melakukan tindakan kejahatan dalam bentuk penaklukan dan penindasan. Maka, kemudian lahirlah nasionalisme yang meng(re)konstruksi narasi perlawanan dan perjuangan melawan kolonialis.

Sebagai bangsa yang pernah dijajah, Indonesia mereproduksi narasi masa lampau untuk mengedarkan energi nasionalisme. Narasi kemerdekaan dan kepahlawanan dianggap perlu diungkapkan dengan menekankan pada semangat perjuangan dan pengorbanan dalam rangka cinta tanah air. Dan, sebaliknya dalam narasi kolonial.

Barangkali ini persoalan sudut pandang. Misalnya, dalam sejarah kolonial orang Australia direpresentasikan sebagai seorang  pencuri, perampas dan suka berperang, membunuh dan pemberontak, sebagaimana orang pribumi direpresentasikan biadab atau brutal. Sejarah kolonial Australia misalnya Coinages1 menyebut pengertian “ban lengan hitam sejarah”, suatu ekspresi untuk merendahkan rekonstruksi sejarah dari sudut pandang Aborigin di Australia, yang digunakan untuk mengungkap kebenaran yang ‘tak menyenangkan’ pada masa kolonial.

Kebenaran dalam sejarah modern seringkali dipahami sebagai sesuatu yang final, objektif, stabil dan established.

Maka, narasi asal-usul (asli pribumi) dalam penulisan sejarah (historiografi) seolah-olah menjadi satu-satunya ‘kitab suci’ peradaban manusia di masa depan. Jika demikian, maka hal ini menjadi semacam ilusi yang berbahaya, yang memberikan harapan bagi kepentingan kekuasaan, yang sekaligus menjadi suatu kecurigaan yang mengeksklusi sudut pandang dan mode berpendapat lainnya. Sebuah pencapaian besar dalam peradaban manusia modern bahwa kebenaran masa lampau dapat diperoleh melalui teks-teks sejarah.

Sementara mode naratif (fiksi) dalam pandangan akademis (positivistik) dipandang sebagai sesuatu yang labil, dimana kebenaran yang ingin dicapai dianggap bersifat tidak langsung, tidak pasti, subjektif—ringkasnya: fiktif, seperti halnya pada mode simbolik, puitik atau naratif.

Padahal, sebagaimana dalam pandangan sejarah baru, alur penulisan sejarah tak ubahnya seperti penulisan suatu cerita, dengan menyertakan rangkaian peristiwa, tokoh, setting, sudut pandang, dan lainnya, yang memungkinkan adanya imajinasi. Maka, kita tentu tidak heran jika disebutkan bahwa narasi Perang Teluk di Timur Tengah hanya karangan atau fiksi belaka, termasuk narasi peristiwa 9/11 hanya politik untuk memunculkan tokoh pembajak atau teroris sebagai pihak antagonis, misalnya. Atau, dengan kata lain, antara kebenaran faktual sejarah, fiksi, dan mitos, perlu dipertimbangkan lagi kebenarannya.

Dengan demikian, dalam konteks ini jika Edward Said menyatakan ‘speaking truth to power’, maka ada benarnya secara politik, dan akan berbeda jika dipahami Diana Brydon dalam pengertian ‘keadilan’ politics of blame.2 Artinya, konsekuensi politis pada pembedaan antara “kami” dan “mereka”—yang berimbas secara etis pada yang bersalah dan yang tidak, yang lebih lanjut seringkali secara tidak langsung menyatakan suatu diskursus antara kebaikan dan kejahatan, dosa dan hukuman, yang diajarkan oleh buku-buku agama Kristiani, Islam dan Yahudi—yang meskipun sebagai strategi perbaikan dan keberpihakan, tetapi menimbulkan klaim-klaim politik berikutnya, yang disebut dengan ‘politik menyalahkan’ itu.

Terlepas dari perbedaan itu (lihat: politik postkolonial)3, yang perlu ditekankan adalah bahwa narasi dan pendapat di atas tidak dapat dipahami tanpa melibatkan persoalan di luar narasi, di luar teks. Membaca narasi fiksi sejarah misalnya tidak mungkin tidak memerlukan pengetahuan historis. Maka, dalam hal ini pembacaan terhadapnya tidak cukup hanya dengan perangkat formalistik atau strukturalis.

Pengertian Louis Montrose yang menyebut ‘tekstualitas sejarah dan historisitas teks’ dalam sejarah baru,4 memungkinkan semacam paduan antara puitika dan budaya sebagai teks (Geertz). Pandangan ini sejalan dengan semangat parateks dalam penulisan sejarah atau interteks dalam narasi fiksional, sebuah cerita yang dirangkai dan dijalin dengan unsur fakta atau data dengan imajinasi.5 Sehingga baik dokumen, laporan, berita, ataupun catatan harian, berkelindan dalam narasi imajinatif, yang memuat suatu tanda dan makna. Maka, peristiwa diposisikan sebagai penanda, dan makna masa lampau bukan pada ‘apa yang terjadi’ tetapi ‘peristiwa itu menandai apa’. 

Dari pandangan sejarah baru kita dapat mengatakan bahwa peristiwa masa lampau memang pernah terjadi, tetapi kita yang hidup di masa kini tidak mungkin dapat mengetahuinya dengan pasti. Kita tidak bisa berbicara dengan orang yang sudah mati, demikian kata Greenblatt. Untuk itu ia menawarkan pembacaan puitika kultural terhadap suatu karya. Sejalan dengannya, Julian Barnes dalam bagian cerita “Shipwreck” dari novel A History of the World in 10 ½ Chapters-nya menulis, “Bagaimana anda merubah malapetaka menjadi (karya) seni?”6

Maka, dengan begitu peristiwa artistik juga menyediakan ruang bagi pembacaan simbolik dalam suatu diskursus politik narasi. Di bagian cerita itu Barnes merekonstruksi peristiwa tenggelamnya kapal Medusa di laut Mauritania tahun 1816, kemudian Gericault membuat lukisan “Scene of Shipwreck” pada tahun 1819, dan ia sendiri menulis cerita tentangnya pada tahun 1989. Yang menarik adalah Barnes mengungkapkan sesuatu yang tidak dilukiskan Gericault dan yang tidak diceritakan oleh orang-orang yang selamat, Savigny dan Correard diantaranya; hal yang diabaikan, yang tidak disuarakan, tidak dihadirkan, tidak diberikan ruang, yang dianggap tidak ada, adalah suatu persoalan, sebuah permulaan diciptakan narasi.

Dan, di bagian paling awal novelnya, Barnes memulai dengan menarasikan cerita ulat kayu (woodworm; Jawa: sejenis rayap,  nonol, atau nener), sebagai spesies yang tidak dianggap ada atau disebut sebagai penumpang gelap dalam narasi Nabi Nuh dan Kapalnya. Sebagai penumpang gelap, ulat kayu juga memiliki narasi sendiri..

Note:
1    1. Lihat dalam Pilger, John. The New Rules of the World. London: Verso, 2002. Hlm. 192-3.
2    2. Brydon, Diana. “Is There a Politics of Postcoloniality?” Postcolonial Text, Vol. 2, No. 1, 2006
3    3. Ibid.
4    4. Louis Montrose dalam Brannigan, John, New Historicism and Cultural Materialism. London: Macmillan Press Ltd, 1998, hlm. 84
5    5. Linda Hutcheon, Politik Posmodernisme (terj. Apri Danarto), Yogyakarta: Jendela, 2004, hlm. 129
6. Barnes, Julian, A History of the World in 10 ½ Chapters, New York: Vintage International ed. Epub, hlm. 106. Pertama kali dipublikasikan pada tahun 1989

Perhatian Untuk Pemburu Buku

Oleh Afif “Che” Arifin

"Don’t judge the book by the cover” 

Pepatah ini menyiratkan agar kita tidak menilai orang dari penampilannya. Bolehkah Anda tidak setuju? 

Sangat boleh. Apalagi pada buku. Coba Anda bayangkan. Besok pagi adalah acara spesial Anda karena akan menghadiri acara pertunangan Anda dengan calon yang sangat Anda cintai. Apa yang pertama akan Anda perhatikan agar tidak mengecewakannya? Penampilan! Dan di dalam ilmu sosial penampilan dikenal dengan labelling; sebuah pencitraan yang tercipta melalui penampilan luar seseorang di mata orang lain. Dalam industri makanan dikenal dengan kemasan. Makanya sampai ada jurusan desain produksi.

Jika Anda ingin mengetahui isi sebuah buku dengan benar sebelum membelinya maka Anda harus tidak setuju. Saya pun begitu. Jadi, mari kita buang dulu kata don’t-nya.

Anda pasti tahu, buku adalah nutrisi otak yang tidak hanya berakibat jangka panjang. Namun Anda juga harus tahu kalau ternyata buku adalah sebuah pergumulan sengit dalam hal angka-angka bisnis. Anda ragu? Lihat saja dari cover. Anda bisa buktikan itu dengan tagline-tagline yang disematkan, semisal: kata “best-seller”, money-back guarantee (jaminan uang kembali), edisi revisi, sebuah kalimat penjelas seperti “penulis buku best-seller ABDC dan XYZ”, atau juga testimoni seseorang/lembaga yang memiliki otoritas tertentu. Bahkan terkesan ugal-ugalan. Semua itu untuk satu titik ujung: menukarnya dengan uang dan waktu Anda.

Hati-hati Anda menentukan buku yang akan dibaca karena you are what you read. Menentukan suatu buku untuk dibaca berarti Anda sudah memastikan asupan gizi yang akan masuk pada dendrit otak Anda. Dan sebagai calon pembeli dan pembacanya tentu Anda ingin mengetahui sekelebat jeroan buku tersebut agar tidak mengecewakan komputer canggih yang terletak 5 cm di bawah rambut Anda. Kita mulai.

Judul Buku

Mungkin Anda bilang, ya iyalah judulnya. Anda benar. Tapi tunggu dulu. Anda tahu karya Rhonda Byrne yang judulnya bikin penasaran dan booming di mana-mana? Judulnya The Secret (rahasia). Siapa yang tidak ingin tahu rahasia jika itu bermanfaat dan memancing minat? Dan ini kuncinya. Seberapa berbobot olah kata dalam judul itu mewakili seluruh isi buku dan pasti memantik minat baca Anda. Pendeknya, judul itu soal seni meracik kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang bisa pembeli dapat agar menarik minat. Kenapa pembeli? Kembali ke hitung-hitungan bisnis seperti yang saya singgung di atas. Kenapa harus menarik minat? Lihat lagi judul the secret.

Saya ingin bercerita pada Anda. Ketika memasuki sebuah toko buku satu tahun lalu, di sebuah rak terpampang buku dengan desain simpel dan judul pun super simpel hanya dua huruf. Judul buku terpendek yang pernah saya temui. Penasaran, saya ambil. Ah, terbungkus. Kalau saya sobek bungkusnya berarti saya harus beli. Apa yang kemudian saya lakukan? Saya langsung membaliknya ke bagian ...

Sinopsis

Di sisi belakang cover tertulis penjelasan singkat dan manfaat yang akan saya peroleh jika membeli buku tersebut. Saya mulai tertarik. Sejenak, saya mendapat kesimpulan awal bahwa buku yang akan saya beli adalah buku ‘montok’, plus dengan tuntunan teknis yang mengisi kemontokannya itu, katanya.

Sampai di sini Anda sudah mendapatkan gambaran buku melalui pendekatan ini. Dan selanjutnya ini yang bisa Anda lakukan lebih jauh untuk menemukan isi buku. Jika kebetulan ada yang sudah terbuka bungkusnya maka langsung saja ke bagian...

Daftar Isi

Di sana Anda akan dibawa lebih mendalam mengenai isi buku. Lihatlah poin-poin tertentu dari awal bab hingga bagian terakhir. Adakah yang cocok isi buku dengan keinginan Anda.

Tambahan untuk Anda yang ini: lihat juga adakah profil penulisnya. Jika ada, baca juga. Ini juga memberikan jaminan apakah Anda sedang menimang-nimang buku yang ditelurkan oleh penulis yang memiliki jam terbang tinggi terkait bukunya atau buku yang hanya mencicipi pangsa pasar dan “asal dapur mengepul”. Jangan sampai Anda mengalami kecewa seperti saya karena dulu ceroboh membeli buku yang ternyata hanya berisi kompilasi dari internet. Saya terkecoh oleh desain dan judul. Di dunia perkutu-bukuan, buku prematur demikian itu dikenal dengan istilah ‘buku sampah’ dan hanya ‘menyesaki’ rak buku.

Anda masih ingin mengetahui cara lain mengetahui isi buku dengan sekali tebas saja? Buka saja bagian ...

Kata Pengantar

Ini cara terakhir yang saya terapkan agar tidak berlama-lama di toko buku dan tidak sampai dilirik pemiliknya terus menerus. Hemat waktu, tentunya. Tapi sekali lagi ini untuk buku yang disediakan memang tanpa bungkus. Melalui bagian ini Anda juga bisa mengetahui lebih jauh apa dan bagaimana buku itu dihidangkan. Biasanya, buku yang ditulis dengan ciamik akan berisi pemaparan singkat bagian detil tubuh buku sehingga Anda tidak sedang memasuki sebuah ruangan kosong kedap suara dan gelap. Selanjutnya setelah membaca kata pengantar, keputusan ada di tangan Anda.

Jika Anda merasa belum cukup mengobati rasa penasaran mengenai sebuah buku cobalah googling dan pantau seberapa bergizi buku itu di mata pembaca yang lain. Ini akan menjamin Anda untuk menilai secara autentik ‘booming’ buku itu.

Yang lebih ampuh adalah jika Anda menemukan diskusi, komentar, pandangan dan sebagainya di forum-forum media sosial. Di sanalah suara asli pembacanya tanpa ada ‘pesanan’ penerbit maupun penulisnya. Saya pun begitu.

Sampai di sini, Anda sudah memiliki gambaran jelas ketika akan membeli buku dengan cara melihat retorika judulnya, deretan kalimat-kalimat sinopsisnya, susunan daftar isinya dan pemaparan kata pengantarnya serta googling di forum socmed.

Bonus untuk Anda. Lihat testimoninya bila ada. Itu lumayan menjamin lho untuk kualitas buku. Apalagi dari media sosial, itu aslinya testimoni.


Apakah Anda atau teman Anda punya pengalaman berbeda ketika berburu buku? Adakah cara yang lebih jitu yang mungkin untuk diterapkan sebelum membeli buku?

Sabtu, 08 Maret 2014

Jejak Obama

Oleh Set Wahedi

Orang-orang besar tidak hanya mereka yang dicatat sejarah. Orang-orang besar juga mereka yang mampu menunjukkan jati diri dan menjadi inspirasi. Kata-kata ini pantas kita simpulkan dari sosok Barack Obama. Presiden ke-44 ini tidak hanya menyita perhatian beribu pasang mata di setiap penjuru dunia, tapi sepakterjangnya di panggung politik Negara adidaya tersebut menjadi sumber inspirasi perubahan. Bahkan di pundak sosok yang kalem nan tegas itu, beribu mimpi bangkit dari liang kelamnya. Beribu harapan coba direnda kembali.

Ya Obama telah mampu membangkitkan dunia untuk berkata “Yes We Can”. Ya kita bisa. Perubahan itu bisa kita lakukan. Negara Amerika yang berwajah Drakula bisa kita dudukkan memandang kuasa langit. Beristigfar untuk menjelmakan diri sebagai malaikat.

Kemunculan Obama di pentas politik menuju kursi AS 1, sejak pertarungan sengitnya dengan mantan first lady Amerika Hillary Clinton, hingga duel menentukan dengan McCain, menjadi titik perhatian dunia. Semua orang di segala penjuru dunia tidak hanya ternganga dengan pidatonya yang membangkitkan gairah dan semangat. Tapi sosoknya yang berlatar belakang klas ‘marginal’ kulit hitam afro-asia sekaligus Amerika, seolah memang diidamkan untuk mencatatkan sejarahnya sendiri.

Tidak dapat dielakkan lagi, kemenangannya pun disambut gegap gempita penjuru dunia. Tidak hanya rakyat Amerika yang bersorak-sorai. Masyarakat Kenya, ranah muasal kakek Obama, juga dengan euforia dan histeria yang memuncak turun ke jalan-jalan untuk menarikan kemenangan Obama.

Begitu pun di Indonesia, tempat Obama menghabiskan masa kecilnya. Terutama masyarakat Menteng Jakarta, yang menyimpan jejak Obama kecil. Tidak mau ketinggalan, Bali pulau penuh kenangan dan sejarah orang-orang besar yang pernah disinggahi Obama juga ikut merayakan kemenangannya.

Bahkan perayaan Obama di Bali tidak hanya sekadar euforia fisik semata. Tapi kemenangan Obama pun menginspirasi seorang Nurinwa Ki S. Hendrowinoto untuk merayakan kemenangan Obama dalam dunia ‘metafisik’ karya sastra.

Lewat novel “Pesta Obama di Bali”, Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, hendak memercakapkan sosok Obama yang benar-benar membangkitkan gairah dan semangat manusia untuk tidak berhenti berharap pada suara langit.

Novel ini bercerita tentang perayaan kemenangan Obama dengan upacara tari Legong Bali. Persiapan pesta obama inilah yang menjadi muasal percakapan peristiwa dibangun. Seperti diceritakan Nyi Legong penari terkenal, yang telah lama memutuskan untuk tidak menari pada akhirnya luluh menelan ‘ludah’ sumpahnya. Ritual-ritual persiapan pun dilakukan. Ziarah tapak tilas jejak Ann Dunham, Ibu Obama merupakan ritual pembuka serangkaian upacara menghikmati jejak Obama di Indonesai. Cerita ini semakin menarik dengan terlibatnya dan kehadiran berbagai elemen masyarakat yang ikt andil dalam pesta Obama di Bali ini: Mahasiswa, seniman, profesor, ditambah jenderal Amerika. Selain suguhan realitas ‘nyata’, jalan cerita dalam novel ini juga dibumbui mistis ala Bali, kasus hadiah ‘benda’ seks yang mengguncang jagad dunia, serta dialog untuk memaknai sakralitas ‘semu tafsir’ agama di negeri ini.

Kehadiran novel ini di tengah satirnya kerinduan akan perubahan dunia di pundak Obama, seolah mengajak bangsa Indonesia merenungkan dirinya. Kemenangan Obama hendaknya ditangkap sebagai suara langit yang mesti kita amini dengan siap-sedia melakukan perubahan, kita mesti menangkap isyarat ini sebagai kehendak yang kuasa. Kita mesti melihat keberpihakan langit dalam memenangkan Obama sebagai presiden Amerika  ke-44, itu juga pertanda keberpihakan langit kepada dunia yang banyak manusianya tertindas (hal. 30).

Dan Indonesia merupakan dunia yang banyak manusianya tertindas. Tidak hanya itu, Obama yang diharapkan mengubah wajah Amerika, hendaknya juga menginspirasi bangsa ini untuk tidak berhenti berharap, mudah-mudahan free port, perusahaan tambang emas di Papua mengubah rakyat yang memakai koteka menjadi seperti Obama, misalnya. Dengan kata lain, perayaan kemenangan Obama dengan tapak tilas jejaknya di Indonesia, diharapkan menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk meneriakkan “We need change”, “Yes We Can”!

Perubahan bagi bangsa ini, yang terkungkung oleh 'mitos intelektual' generasi LSM yang menjual kemiskinan bangsa dan mengemis di luar negeri, yang terbelenggu 'dogma' politik yang menyebabkan kita buta apresiasi terhadap prestasi anak negeri semisal minimnya penghargaan terhadap karya besar Pramoedya, merupakan hal yang urgen untuk kita lakukan. Sikap perubahan ini pun mesti dijelentrehkan seperti Nyi Legong, tokoh utama novel ini, memutuskan untuk menelan ludah sumpahnya, untuk menari lagi demi sosok pembawa deru perubahan Obama (hal 13).

Sosok dan sikap Nyi Legong ini untuk menari lagi, secara implisit menyodorkan sebuah tawaran bagi bangsa ini untuk lebih terbuka. Tarian Nyi Legong ini merupakan ajakan untuk menemukan spirit perubahan. Hal ini dapat kita tangkap dari sikap 'mitos' Nyi Legong yang luluh oleh sosok besar pembawa angin perubahan, Barack Obama. Dengan kata lain, bangsa Indonesia sudah saatnya menanggalkan segala mitosnya: takhayul, paternalistik, pandum nrima yang buta, juga ketakmampuannya memberikan pilihan bagi hidupnya, meminjam kata-kata Mochtar Lubis dalam esai "Manusia Indonesia".

Novel ini pun tidak luput dan lupa untuk mengingatkan kita akan berbagai kecelakaan sejarah yang pernah dan mencekam negeri ini, namun tenggelam dan kabur di buku sejarah. Yang semua hal itu sudah saatnya untuk diungkap dan diselesaikan serta menjadi pelajaran bangsa ini menatap masa depan. Kekejian dan kebiadaban sebuah bangsa dalam medan laga adalah biasa. Namun pembantaian sebuah bangsa oleh bangsanya sendiri adalah sungguh di luar nalar kekejian biasa itu. 

Tidak hanya hal-hal serius yang diangkat Nurinwa, persoalan BH, celana dalam, tuhan, dan persoalan agama kita pun disentilnya. Kita diajak untuk merenungi, memikirkan dan mendialogkan segala peristiwa dan kejadian di sekitar kita. Bahkan hal yang sepele, seperti hilangnya BH dan celana dalam Nyi Legong ternyata bisa berbuntut panjang ke gedung putih dan membakar jenggot pemuka agama.  Seperti komentar Melani Budianta di sampul belakang novel ini, di sinilah urakannya seorang Nurinwa yang tidak sungkan-sungkan menyajikan renungan hidup yang tidak mengawang. Tetapi lewat fragmen-fragmen liar nan nakal ini, Nurinwa hendak memupus kepicikan pola pikir bangsa ini dari tradisi feodalisme, menerima kemajemukan lebih terbuka, dan mengedepankan dialog serta pemikiran yang cerdas dalam menyelesaikan masalah.

Secara keseluruhan, dengan bahasa yang estetis, lugas, jauh dari kesan bertele-tele novel ini pantas untuk dijadikan konsumsi. Pola pikir liar nan banal ala Nurinwa yang urakan, yang terselip lewat kata-kata para tokohnya mengajak kita semua menatap langit kita yang sekian lama murung dan bermendung, dengan optimisme "Yes We Can" ala Obama.


Kamis, 06 Maret 2014

Menjawab Tantangan Guru

Oleh Set Wahedi

Memperbincangkan pendidikan dewasa ini, seperti menelisik setiap sendi kehidupan manusia. Peranan dunia pendidikan tidak hanya sekadar mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih dari itu, dunia pendidikan memiliki tanggung jawab moral membentuk manusia seutuhnya. Yaitu manusia yang mampu memahami dirinya sendiri.

Terlepas dari peran-fungsinya bagi setiap manusia, dunia pendidikan juga menjadi cerminan bagi survivenya suatu Negara-bangsa di tengah kancah pertarungan globalisasi. Maupun sebaliknya, kemajuan suatu Negara-bangsa juga dapat diukur sejauh mana dunia pendidikan yang dibangun di dalamnya. Dengan kata lain, dunia pendidikan menjadi barometer suatu Negara-bangsa dalam membaca dan melihat posisinya.

Maka tidak heranlah, sepanjang sejarah Negara-bangsa Indonesia, persoalan menemukan konsep dunia pendidikan yang ideal tak pernah usai. Hal ini berbanding lurus dengan gerak laju zaman yang selalu ditentukan dari riuh redam ruang kelas ataupun ruang kuliah para cendekia.

Lebih jauh, mencuat gonjang-ganjing Ujian Nasional (Unas) yang meresahkan berbagai elemen peserta didik, merupakan bukti paling mutakhir, bahwa dunia pendidikan selalu menuntut pada setiap peserta didik untuk selalu memikirkan, merumuskan dan menemukan konsep pendidikan yang ideal.

Selain persoalan konsep yang ideal dalam membentuk manusia yang seutuhnya, yang perlu diperhatikan adalah substansi dan esensi pendidikan itu sendiri. Seperti disinyalir dalam beberapa dekade terakhir ini, bahwa dunia pendidikan telah banyak mengalami berbagai kegagalan dalam membentuk karakter manusia seutuhnya. Dengan kata lain, tugas pendidikan banyak terabaikan. Terutama memanusiakan manusia. Artinya, dunia pendidikan selama ini tak ubahnya penjara bagi anak didik.

Di sinilah, kehadiran paradigma dunia pendidikan kritis yang diusung Paulo Freire (1986) menemukan ruang kontemplasinya. Lewat keyakinan akan pentingnya landasan pendidikan sebagai sebuah proses memanusiawikan manusia kembali, Freire coba memberikan jalan alternatif untuk memberontak pada tradisi dehumanisasi yang menyelimuti dinding ruang sekolah.

Untuk lebih memahami konsep pendidikannya, Freire menjabarkan kesadaran manusia menjadi tiga macam. Pertama, kesadaran magis, yakni kesadaran yang tidak mampu mengetahui antara faktor satu dengan faktor lainnya. Kedua, kesadaran naïf, yakni kesadaran yang melihat aspek manusia menjeadi penyebab masalah yang berkembang di masyarakat. Ketiga, kesadaran kritis, yakni kesadaran yang melihat sistem dan struktur sebagai sumber masalah.

Dengan mengacu pada kesadaran yang terakhir ini, dunia pendidikan selalu mendapatkan pertanyaan dari setiap peserta didiknya. Pertanyaan yang selalu merongrong kemandekan dan kejumudan lingkungan tumbuh kembangnya dunia pendidikan. Dengan kata lain, kesadaran kritis ini menuntut pada setiap peserta didik untuk terus menerus mempertanyakan, merombak, mencari dan merumuskan kembali setiap konsep pendidikan sesuai ruang waktu ke-disini-an dan ke-kini-an.

***

Di tengah tuntutan, tantangan serta berbagai persoalan kegagagalan dunia pendidikan, sosok guru merupakan pihak yang paling tertuduh. Sosok guru merupakan orang paling dimintai pertanggung jawabannya. Bahkan tidak ada alasan apa pun, yang dapat diberikan oleh seorang guru untuk membela dirinya.

Maka, ketika ujian nasional digulirkan dengan standar kelulusan yang cukup fantastis, sosok guru pulalah, yang mula-mula merasa ketar-ketir. Ia mesti bertanggung jawab atas segala apa yang akan terjadi pada peserta didik: frustasi, stress, depresi dan segala keputuasaan mental generasi bangsa ini.

Maka perbaikan dan evaluasi pada kemampuan seorang guru, seolah menjadi hal yang logis untuk dilakukan pertama kali dalam memecahkan persoalan dunai pendidikan. Maka, kehadiran buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif" karya Dr. Suyatno, M. Pd. merupakan menu mujarab setiap guru dalam mempersiapkan dirinya sebagai peserta didik yang paling dituntut.

Dalam buku ini, sosok guru diajak untuk berkenalan dengan paradigma baru pendidikan, yang menekankan hadirnya prinsip pembelajaran yang inovetif dan keberanian seorang guru untuk melakukan inovasi. Dengan prinsip pembelajaran inovatif, seorang guru akan mampu memfasilitasi siswanya untuk mengembangkan diri dan terjun di tengah masyarakatnya. Hal ini dapat dipahami dengan memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran inovatif, yaitu: (a) pembelajaran, bukan pengajaran; (b) guru sebagai fasilitator, bukan instruktur; (c) siswa sebagai subjek, bukan objek; (d) multimedia, bukan monomedia; (e) sentuhan manusiawi, bukan hewani; (f) pembelajaran induktif, bukan deduktif; (g) materi bermakna bagi siswa, bukan sekadar dihafal; (h) keterlibatan siswa partisipasif, bukan pasif.

Selain memberikan beberapa prinsip dasar, pembelajaran inovatif juga menekankan adanya pola dan strategi pendidikan yang utuh. Pola dan strategi pendidikan yang menitik bertakan pada tercipanya kesadaran peserta didik pada dirinya sendiri dan lingkungannya.

Selanjutnya, ketakutan dan keminderan seorang guru dalam melakukan ekpresi merupakan salah satu tumor pendidikan yang urgen untuk disembuhkan. Inilah salah satu hal yang esensial yang dibawa buku ini. Seorang guru sudah seyogyanya untuk yakin bahwa setiap guru tanpa terkecuali dapat berinovasi dalam pembelajarannya; seorang seyogyanya untuk yakin bahwa perbuatan-perbuatan kecilnya yang teliti, semisal mencatat perubahan tentang cara dan gaya mengajar setiap hari akan melahirkan hasil yang besar; serta seorang guru seyogyanya untuk terbuka menerima saran dan kritik dari guru lain, bila pola pembelajaran yang disampaikannya sama seperti yang kemarin (halaman 17).

Lebih jauh, keberanian seorang guru dalam berinovasi, serta merta akan membentuk karakternya menjadi kreatif. Kemampuan dan kapasitasnya, baik hard skill maupun soft skill, akan terasah dengan sendirinya. Kekreatifan seorang guru, akan berdampak tidak hanya pada pola komunikasi pembelajaran, tetapi juga akan membentuk suasana serta atmosfir pembelajaran yang menyenangkan (enjoy learning). Pembelajaran yang mampu mentransformasikan ilmu sekaligus mampu membetuk karaketr siswa yang manusiawi.

Di bagian akhir buku, juga diuraikan beberapa metode yang dapat digunakan oleh seorang kreatif dalam membangun suasana kelas yang familiar dan manusiawi. Suasana kelas yang tak lagi hadir sebagai ruang penjara yang dijejali teori, konsep dan tugas dari guru. Tetapi raung kelas yang mampu menggali potensi siswa dan menjernihkan nalar pikir anak didik dalam memahami dan mengaplikasikan kemampuannya untuk dirinya sendiri dan lingkungannya.

***

Di tengah berbagai tuntutan dan gonjang-ganjing dunia pendidikan, serta terealisasinya anggaran dua puluh persen APBN untuk pendidikan, kehadiran buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif'" memiliki arti dan peranan yang cukup penting. Pertama, buku ini dapat dijadikan referensi bagi setiap peserta didik untuk melihat paradigma baru dunia pendidikan masa kini.

Kedua, buku ini dapat menjadi media motivasi bagi setiap guru untuk lebih berani dalam melakukan pola dan strategi pembelajaran yang inovatif; pembelajaran yang mampu menciptakan ruang dan suasana kelas yang familiar dan harmonis, serta dinamis bagi anak didik. Ketiga, buku ini dapat mendorong guru untuk lebih kreatif dalam melakukan transformasi keilmuan. Kreatifitas guru tentunya terletak pada kekayaannya memiliki metode dan aneka model pembelajaran, serta kecermatannya untuk memilih dan memilah metode dan aneka pembelajaran yang akan digunakan di setiap waktu yang berbeda.

Terlepas dari arti dan peran-fungsinya bagi peserat didik, terutama guru, buku "Menjelajah Pembelajaran Inovatif" memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi dunia pendidikan. Kehadirannya telah membuka simpul cakrawala dunia pendidikan yang masih dirundung ketidakpastian ujian nasional, yaitu simpul untuk menghadirkan suasana pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada akumulasi angka, tetapi juga nilai-nilai kemanusiawian.{}

Judul buku                 : Menjelajah Pembelajaran Inovatif
Penulis                        :Dr. Suyatno, M.Pd.
Penerbit                     :Masmedia Buana Pustaka
Cetakan                      :Oktober 2009
Tebal                          :viii +176 halaman

(dimuat di batam pos, tanggal 27 desember 2009)

Rabu, 05 Maret 2014

Nasib (Sejarah) Sastra Kita


Oleh Set Wahedi

Sejarah sastra Indonesia, adalah jejak-rekam estetika yang ditulis di tengah ketegangan ‘intrik’ pelaku seni dan ambisi politik kekuasaan. Banyak peristiwa dan sosok yang kadang terlupakan. Pun, banyak gagasan dan statemen yang perlu dipertanyakan. Sejak awal perintisannya (meminjam isatilah A. Teeuw, kita sepakati tahun 1920-an), sejarah Indonesia bergerak dalam sangkar ‘emas’. Pihak belanda, yang bertindak sebagai pemegang otoritas penerbitan, membonsai dan mengkebiri gagasan para pengarang dengan lembaga Balai Pustakanya. Bahkan, lewat lembaga ini pula, pihak belanda melabeli beberapa karya anak pribumi dengan tanda silang merah dan isu miring.

Di masa kemerdekaan, tepatnya tahun 60-an, ketegangan sejarah sastra Indonesia semakin menemukan muaranya. Polemik kebudayaan antara Lekra dan Manikebu, yang tanpa dihindari juga merupakan ketegangan politik, melahirkan kutub paham sastra yang terus tarik-menarik. Sampai kini, realisme sosialis yang diusung Lekra dan Humanisme Universal yang dikumandangkan Manikebu, terus bergulat. Bernegoisasi. Yang lebih parah, keduanya pun saling sikut. Tak ayal, sejarah sastra yang lahir, sejarah yang ditulis dan diperuntukkan untuk orang-orang berkuasa. Dengan kata lain, perjalanan sastra Indonesia, telah mengalami reduksi kenyataan dan kebenaran. Lalu bagaimanakah seharusnya sejarah sastra itu ditulis dan dipahami?

Mungkin jawaban atas pertanyaan di atas itulah yang coba diemban buku “Asep Samboja Menulis, Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra”. Mengenai sejarah sastra, buku ini menyarankan pentingnya dilakukan penulisan ulang dari waktu ke waktu. Hal ini, menurut Asep, berdasarkan dua alasan. Pertama, bertambahnya jumlah sastrawan dan karyanya, seiring perkembangan zaman. Kedua, untuk lebih mengakomodir banyaknya karya sastra yang lahir dalam rentang waktu tertentu (hal. 9). Penulisan ulang ini juga bisa dimaknai sebagai usaha merekonstruksi sejarah sastra Indonesia.

Dengan demikian, beberapa kelemahan dan ‘kesalahan’ dalam penyususnan sejarah sastra kita selama ini, dapat disempurnakan. Kaburnya awal-mula sastra Indonesia dan batasan hakikat sastra Indonesia, dapat diteliti dan diungkap secara koprehensif. Pun, beberapa karya terabaikan dapat diselamatkan. Buku yang dikumpulkan dari serakan tulisan Almarhum Asep Samboja di jejaring social facebook, yang diniatkan sebagai ‘kado’ kenangan 100 hari kematiannya, memuat sekitar 52 esai, yang terbagi atas dua bagian. Bagian pertama, tentang sastrawan dan karyanya dalam mengeokplorasi dan mencari capain estetika. Bagian kedua, berbicara tentang para pengarang Lekra. Mereka yang terusir dan karya-karyanya yang terabaikan.

Mengenai sastra Indonesia, Asep mencoba menyoroti fenomena dan bahaya kanonisasi sastra dan tarik-ulur identitas sastra cyberpunk. Menurutnya, kedua gejala kesastraan ini, telah menyebabkan terjadinya ‘perselingkuhan’ dan ketakjujuran para pelaku seni tentang capaian estetika.

Perselingkuhan ini berkutat pada ranah mitos otoritas para empu kuasa estetika. Sedang ketakjujuran yang bisa dirasakan, semisal penolakan beberapa pengarang terhadap anugerah Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer. Mereka-yang menolak- telah tak jujur, bahkan tak adil atas capaian estetika seorang pengarang. Selain persoalan sejarah sastra yang masih ‘buram’, Asep juga menaruh perhatian besar terhadap polemik sastra pusat (Goenawan Muhammad Cs.) dan sastra daerah (Boemiputra).

Dalam empat esai bersambungnya, Asep secara panjang lebar mengurai paradoks dan misteri yang terselubung di tengah polemik kebudayaan yang disinyalir hanya sebagai arena umpatan, makian, dan fitnah daripada sebagai arena menemukan gagasan sastra Indonesia yang apik. Jurnal Boemipoetra, yang selama ini begitu gigih dan gencar menyerang Goenawan Mohammad cs, dengan berbagai isu miring, terutama sastra perkelaminan, ternyata diam-diam juga memuat sastra yang berbau kelamin. Saya sama sekali tidak menganggap cerpen mini Hasan Bisri ini buruk. Justru sebaliknya, cerpen Hasan Bisri ini puitis dalam menggambarkan perselingkuhan… yang saya pertanyakan, kenapa Boemipoetra bisa menerima cerpen Hasan Bisri namun menolak novel Ayu Utami, meskipun pada hakikatnya keduanya berbicara mengenai masalah yang sama? (hal. 130) Sedangkan mengenai para pengarang Lekra, Asep mengambil inisiatif yang cukup berani dan berisiko.

Di tengah tak terehabilitasinya nama-nama pengarang Lekra sebagai para ‘kudetawan’, Asep berani mengupayakan untuk mereka tempat yang layak. Dalihnya, semata-mata demi pembacaan sejarah sastra Indonesia yang lebih komprehensif. Bukan berdasarkan tendensi. Apalagi ambisi politik kekuasaan.

Maka bermunculanlah dalam tulisannya, nama-nama pengarang yang selama ini raib (atau diraibkan). Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, A.S. Dharta, Putu Oka Sukananta, Chalik Hamid, Mawie Ananta Jonie, H. R. Bandaharo, Agam Wispi, Hersri Setiawan, dan lainnya. Seperti yang telah ditegaskannya, dimunculkannya nama-nama pengarang Lekra tersebut bukan untuk membela nasib mereka. Tapi lebih sekadar mengemukakan, bahwa karya-karya mereka juga pantas dan layak untuk diparesiasi.

Sehingga, nasib sejarah sastra kita akan lebih terang-benderang dan lebih prospektif. Tak hanya sekadar mengapresiasi dan memberi ruang-nilai yang layak, Asep juga mencoba meluruskan berbagai isu yang sempat dipelintir oleh sebagian mereka yang kini memegang tampuk kekuasaan sastra. Adalah penyair Mawie Ananta Jonie, salah satu pengarang, yang karyanya “Kunanti Bumi Memerah Darah”, oleh Taufiq Ismail dijadikan bukti sebagai keikut-andilannya dalam tragedi berdarah PKI.

Di sini, dengan suara mantap dan yakin, Asep merekonstruksi isu miring tersebut. Bahkan, tanpa sungkan Asep mengajak kita untuk menempatkan karya-karya pengarang Lekra dalam rak kajian yang semestinya. Saya sama sekali tidak melihat kata-kata yang menyimbolkan ke arah yang disebutkan Taufiq Ismail itu (pernyataan bahwa Mawie sudah tahu sebelumnya, berkaitan kudeta 30 September1965, pen.). Saya pikir interpretasi singkat Taufiq Ismail dalam buku Prahara Budaya itu perlu dikoreksi agar tidak membingungkan pembaca sastra yang serius dan terutama tidak merugikan nama baik sang penyair, Mawie Ananta Jonie (hal. 247) Dengan kata lain, kalau pun para pengarang Lekra dianggap memiliki dosa-dosa politik, tak serta merta karya mereka pun mesti disingkirkan. Dicemooh. Apalagi dihilangkan dari tapak-tilas perjalanan sejarah sastra Indonesia.

Gagasan besar buku “Asep Samboja Menulis”, spirit dan keberaniannya mengajukan kritik dan perlunya perspektif baru dalam membaca dan menulis ulang sejarah sastra Indonesia. Lebih jauh, gagasan ini tak hanya sekadar apresiasi diruang wacana, tapi terlebih dalam praktik kerja nyata.

Dengan kata lain, buku Asep ini tidak hanya menginginkan dan mendengungkan ide yang brilian, terlebih pada adanya langkah konkrit yang berani para pelaku seni itu sendiri. Sehingga, kecompang-campingan dan keburaman sejarah sastra Indonesia, yang disebabkan oleh selera politik dapat diperbaiki. Maka sudah sepantasnya, bagi para pelaku seni, baik kreator (:pengarang) dan kritikus, untuk memberikan tempat yang layak bagi buku ini. Terutama untuk mengikuti gagasan brilian nan beraninya dalam mendudukkan sejarah sastra Indonesia dari perspketif baru. Cara pandang yang lebih objektif dan komprehensif. Bukan politis. ()

Selasa, 04 Maret 2014

Lupakan Banner, Bagikan Buku

indeksbuku/putra-piliang.blogspot.com
Oleh Diana AV Sasa

‘Ah, emang pohon bisa nyoblos di TPS?’

Para politisi kerap melontar kalimat ini sebagai bahan canda. Menyindir maraknya wajah-wajah kandidat memamerkan diri pada pohon tepi  jalan jelang pemilihan umum.  Wajah-wajah cantik, tampan, lucu, aneh, dan cenderung seragam itu berlomba mencuri perhatian khalayak. Memajang wajah-wajah kandidat dalam spanduk,  banner, dan baliho adalah strategi yang diterapkan mulai tingkat pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan sampai presiden. Saking banyak dan kerapnya justru menimbulkan kesan sumpeg dan semrawut. Sampai Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai  penyelenggara pemilu pun menerbitkan aturan khusus pemilihan anggota legislative 2014 untuk mengatur pembatasan  intensitas pamer wajah itu. PKPU No.15 tahun 2013 mengatur para kandidat anggota dewan tak lagi bisa seenaknya pamer wajah di tepi jalan.

Bagi kandidat yang berpikir linier tentang cara sosialisasi diri kepada pemilih, pembatasan ini bisa dianggap pemasungan. Mereka yang terlanjur memacak dalam benaknnya bahwa kalau mau sosoknya dikenal  ya mesti pasang wajah di tempat umum sebanyak-banyaknya, selama mungkin, dan sesering mungkin wajahnya dilihat, dihafal orang lewat. Meski belum tentu mereka memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Minimal popularitas naik. Sedikit diantara para politisi itu yang terpikir untuk beralih pada buku sebagai alat sosialisasi. Berbagai alasan pun terlontar; terlalu intelek, takut dibuang, tidak dibaca, tidak tahan lama, tidak efektif, tak cocok untuk pemilih di desa, dan sebagainya.

Baiklah,berikut ini bukti bagimana buku tak bisa dikesampingkan sebagai alat sosialisasi. Mari memanjangkan ingatan,  kita tengok tradisi awal Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri. Semasa itu buku adalah alat propaganda dan pengkaderan handal bagi partai. Pembelajaran pada kader  tentang teori penopang jiwa partai, program, dan visi partai memerlukan media yang bisa dipahami oleh kader di level terendah. Dan,buku menjadi pilihan utama bagi PKI.

Poestaka Ketjil Marxis, nama proyek ini, umumnya menerbitkan buku berukuran mungil, 10,5 x 14 cm, tipis saja antara 20-100 halaman. Berisi teori dan panduan. Juga agitasi propaganda untuk memperjuangkan nasib petani, buruh, kaum miskin. Buku disebar hingga kader terbawah partai. PKI meluaskan gerakannya dengan mendirikan Jajasan Pembaruan pada Mei 1951 di Jakarta. Ini adalah sebuah lembaga penerbitan yang menjadi “mesin ilmiah” partai. Rata-rata menerbitkan 1 judul sepekan. Tahun pertama: Rentjana Konstitusi PKI, Djalan Baru Untuk Republik Indonesia, Pengantar Ekonomi Politik Marxis, Dimitrov Menggugat Fasisme, Tentang Ajaran2 dan Perjuangan  Karl Marx,  dan Bintang Merah (Jurnal). Penulis yang pernah diterbitkan tulisannya pun tak tanggung-tanggung: Ir. Sukarno, Njoto, Sudisman, Ir. Sakirman, Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer,  Utuy Tatang Sontani,  Dhalia,  Sobron Aidit, dan lain-lain.

PKI juga memiliki Biro Penerjemahan CC PKI yang diawasi langsung Ketua Aidit. Umumnya yang diterjemahkan adalah tulisan pemimpin kiri dunia, seperti Stalin, Mao Zedong, Maurice Thorez (Perancis), Paul de Groot (Belanda), Ajoy Gosch (India), dan lain-lain. Selain itu Bintang Merah sering memuat terjemahan sajak-sajak progresif maupun tulisan dari/tentang pengarang terkenal karya sastra dunia seperti Ilya Erenburg, Maxim Gorki, Martin Carter, Ho Chi Minh, dan sebagainya . Badan Penerbitan Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan (Lekra)- organ yang secara ideologis sejalan dengan PKI (baca Lekra tak Membakar Buku tentang posisi Lekra-PKI ini) didirikan tahun 1960 di Jakarta. Terbitan pertamanya adalah 4 buku puisi Sahabat (Agam Wispi), Pulang Bertempur (Sobron Aidit), Bukit 1211 (Rumambi, Sudisman, dan FL Risakotta), dan Lagu Manusia (Nikola Vaptsarov – diterjemahkan Risakotta, Agam Wispi, Walujadi Toer, dan Bintang Suradi). Setelah 2 tahun sudah menerbitkan 30 buku diantaranya karya sastra (pengarang Indonesia) 47%, 30 % terjemahan, 16% karya-karya musik, dan 7% ilmu. Hasilnya, pada pemilu 1955, PKI berhasil masuk 4 besar dengan perolehan 39 kursi atau setara dengan 16,36 %.

Medio buku sebagai alat penyebaran wacana dan profil partai ini pernah dilakukan pula oleh salah satu peserta pemilu 1999, Partai Keadilan (PK). Semasa itu, PK mencetak buku saku dan terdistribusi hingga di desa-desa dimana kelompok pengajian mereka berada. Ada 6 buku ukuran saku yang sempat penulis dokumentasikan. Masing-masing berisi tak lebih dari 30 halaman. Ada buku sejarah berdirinya partai, arti lambang dan semboyan partai, AD/ART dan cara menjadi anggota, program prioritas partai, 10 alasan mengapa memilih PK, dan profil ketua umum partai. Masih ada bonus buku memo kecil yang berisi beberapa doa harian dan halaman kosong yang bisa ditulisi.

Dengan buku saku, mereka memasuki ruang pribadi setiap pemilik hak suara. Langsung menyerang pikiran. Maka kelihaian menata kata dan kalimat menjadi kunci penting bagaimana mempengaruhi pembacanya. Buku saku PK tidak dibuat asal-asalan. Mereka perhitungkan betul tata letak, kalimat, ilustrasi, dan alur berpikir pembacanya. Pada ruas ini, PK percaya bahwa buku membawa mereka pada keberhasilan mempengaruhi pikiran.  Hasilnya, dalam waktu yang relatif singkat PKS dapat masuk 5 besar pada pemilu 2009. Bahkan perolehan suara antara tahun 1999 ke 2004, melonjak hingga 600%.

Terdekat, pada pemilihan gubernur Jawa Timur Agustus lalu, ada kandidat yang menggunakan buku sebagai alat sosialisasi. Adalah Bambang DH, calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan menggunakan buku biografi Bambang DH Mengubah Surabaya anggitan Ridho Saiful Ashadi untuk mengenalkan dirinya ke kalangan pemilih terdidik.  Selain itu, ia gunakan pula buku saku berisi profil dirinya dan pasangan cawagubnya, MH Said Abdullah. Sayangnya buku saku ini kurang digarap maksimal hingga kurang menarik dibaca. Meski kemudian Bambang-Said ini kalah dalam pertarungannya, namun mereka menunjukkan bagaimana menggunakan cara-cara yang mendidik dan tidak konvensional untuk sosialisasi.

Jika ingin merujuk agak jauh, lihatlah Michael Sessions yang menjadi wali kota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat, pada usia 18 tahun. Ia mengalahkan rivalnya, Douglas Ingles, 51 tahun, bekas wali kota sebelumnya yang seusia bapaknya, dengan ''hanya'' bermodalkan uang 700 ribu rupiah. Yang sehari-hari dilakukannya adalah mengetuk setiap pintu saat senggang sekolah dan memberi kado berupa buku-buku kecil yang harganya tak seberapa. Dengan keyakinan itu, Michael berhasil  mencuri hati pemilihnya.

PKI, PK, Bambang DH, Michael barangkali hanya sedikit dari sekian banyak kandidat pemilu yang memiliki kesadaran pentingnya buku sebagai alat sosialisasi. Jika calon pemimpin di negeri ini peduli tentang pendidikan pemilih, maka mereka tak akan sekedar mengelabuhi pemilih dengan memajang wajah-wajah manis. Pendidikan politik dimulai dengan mengenalkan sosok yang akan dipilih dengan cara-cara yang mencerdaskan. Jadi, wahai para kandidat, lupakan banner, buatlah bukumu dan perkenalkan dirimu pada pemilihmu.

*) Penulis adalah pegiat buku, tinggal di Surabaya